Akses.co.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,06 persen pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat, (24/4/2026). Indeks merosot 225,75 poin ke level 7.152,85, tertekan oleh aksi jual bersih investor asing.
Sejak dibuka di level 7.378,072, IHSG langsung bergerak di zona merah dan terus mengalami pelemahan, menyentuh titik terendah di 7.171,454. Angka tertinggi yang sempat dicapai indeks adalah 7.383,400.
Dominasi saham yang melemah menjadi indikasi kuat tekanan pasar. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 625 saham terkoreksi, berbanding terbalik dengan 94 saham yang menguat dan 95 saham stagnan.
Aktivitas Perdagangan Tinggi, Namun Tekanan Menyelimuti
Meskipun terjadi pelemahan tajam, aktivitas perdagangan di pasar saham terpantau tinggi. Volume transaksi mencapai 25,959 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 11,989 triliun. Frekuensi perdagangan juga tercatat sebanyak 1,52 juta kali.
Namun, tingginya nilai transaksi tersebut belum mampu menahan laju penurunan indeks. Arus keluar dana asing menjadi salah satu faktor utama yang membebani pergerakan pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa pelemahan IHSG masih dalam koridor koreksi yang wajar. “IHSG dibayangi aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp 1,36 triliun pada perdagangan Kamis (23/4/2026),” ujarnya.
Secara kumulatif sejak awal tahun, total net foreign sell telah mencapai Rp 35,11 triliun. Nafan menambahkan bahwa tekanan ini mencerminkan sikap risk-off investor global terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analisis Teknikal dan Rekomendasi Investor
Potensi Uji Fase Korektif
Secara teknikal, Nafan menilai pergerakan IHSG saat ini berpotensi menguji fase lanjutan dalam struktur gelombang, yakni “wave (ii) atau wave (a)” sebagai bagian dari pola korektif.
Indikator teknikal menunjukkan sinyal yang beragam. Relative Strength Index (RSI) mulai mengindikasikan momentum positif yang didukung peningkatan volume transaksi. Namun, Stochastic K_D justru memberikan sinyal negatif, menandakan potensi volatilitas yang masih cukup tinggi dalam jangka pendek.
“Secara teknikal, IHSG hanya mengalami koreksi wajar dan memungkinkan untuk menguji ‘wave (ii) atau wave (a)’ target. Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan sinyal positif didukung kenaikan volume, namun Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif,” jelas Nafan saat dihubungi Kompas.com, Jumat.
Saran Selektivitas Saham
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, Nafan menyarankan investor ritel untuk bersikap selektif dalam memilih saham. Investor disarankan untuk fokus pada emiten dengan fundamental yang solid, valuasi yang relatif murah, serta saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren.
“Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; Fokus pada saham ber-valuasi murah; Fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” paparnya.
Faktor Global Turut Memperburuk Sentimen
Tekanan terhadap pasar saham domestik juga dipengaruhi oleh faktor global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi ini memicu ketidakpastian terhadap prospek perdamaian dan mendorong pergeseran alokasi aset ke instrumen safe haven seperti dolar AS.
Dampaknya turut terasa pada nilai tukar rupiah yang melemah sekitar 105 poin ke level Rp 17.280 per dolar AS. Bersamaan dengan itu, lonjakan harga minyak Brent ke kisaran 106 dollar AS per barrel akibat gangguan di Selat Hormuz semakin memperburuk sentimen.
“Bahkan Indonesia yang merupakan negara net importir minyak, kebutuhan dollar AS untuk impor energi meningkat tajam, sehingga secara langsung menekan kurs rupiah,” lanjut Nafan.
Ikuti Akses.co.id
