JAKARTA, KOMPAS.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat (24/4/2026), anjlok 3,30 persen atau 245,96 poin ke level 7.134 pada pukul 14.32 WIB. Penurunan ini melanjutkan tren negatif sesi pertama yang ditutup di angka 7.152,85 dengan koreksi 3,06 persen atau 225,75 poin.

Tiga sektor menjadi penekan utama pergerakan IHSG. Sektor energi tercatat ambruk 29,62 poin, diikuti oleh sektor finansial yang turun 20,77 poin, dan sektor basic material yang terkoreksi 20,56 poin.

Sentimen Regional dan Domestik Pukul IHSG

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG hari ini turut dipengaruhi oleh bursa regional Asia yang mayoritas melemah. Kenaikan harga minyak global menjadi salah satu pemicu sentimen negatif, diperparah oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran serta gangguan yang terus berlanjut di Selat Hormuz.

“Ketidakpastian pasokan yang masih berlangsung membuat harga energi tetap tinggi, sehingga memperkuat kekhawatiran terhadap inflasi dan pertumbuhan global,” ujar Nico dalam risetnya, Jumat (24/4/2026).

Di sisi lain, bursa Jepang melalui indeks Nikkei tercatat menguat tipis setelah inflasi naik dari 1,3 persen menjadi 1,5 persen. Namun, kenaikan ini masih terbatas dan belum mencapai target 2 persen yang ditetapkan oleh Bank of Japan (BoJ).

Sementara itu di pasar domestik, sentimen negatif juga datang dari keputusan Fitch Ratings yang menurunkan outlook kredit empat bank besar di Indonesia, yaitu Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Negara Indonesia (BBNI), dari stabil menjadi negatif.

Di tengah gejolak tersebut, pemerintah dikabarkan mengamankan 150 juta barel minyak Rusia sebagai bagian dari strategi energi nasional, guna melindungi stok minyak mentah di tengah konflik Timur Tengah.

Saham Pemenang dan Pecundang Hari Ini

Pada sesi pertama perdagangan, saham-saham yang mencatatkan kenaikan terbesar antara lain BNBA, BRNA, RODA, DIVA, dan CTTH. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami penurunan terbesar adalah SKBM, HOPE, LPPF, KOBX, dan DEFI.

Nico merekomendasikan investor untuk mencermati saham ESSA, dengan level support dan resistance di rentang 920-1.020.

Potensi Pelemahan Lanjutan

Analis Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG berpotensi melanjutkan pelemahannya pada sesi kedua perdagangan Jumat ini. Hal ini didasarkan pada indikator teknikal MACD yang membentuk death cross dan Stochastic RSI yang mengarah ke bawah di pivot area.

“Sehingga kami memperkirakan, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju level 7.125-7.100 pada sesi kedua Jumat ini,” tulis riset Phintraco.

Pelemahan IHSG hari ini juga dibayangi oleh sentimen negatif dari pelemahan kurs rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.300 per dollar AS dan ditutup pada Rp 17.286 per dollar AS di pasar spot. Level penutupan tersebut merupakan yang terburuk bagi rupiah sepanjang masa dan pelemahan terdalam di Asia, melampaui estimasi pasar sebelumnya.

Phintraco Sekuritas juga mencatat bahwa penutupan Selat Hormuz yang berlarut-larut memicu harga minyak tinggi, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan pelebaran defisit anggaran belanja. Selain itu, data uang beredar dalam arti luas (M2) yang tumbuh 9,7 persen secara tahunan di Maret 2026, lebih tinggi dari Februari 2026, turut mempengaruhi pergerakan IHSG.

Kenaikan M2 ini didorong oleh peningkatan uang beredar M1 sebesar 14,4 persen secara tahunan dan uang kuasi sebesar 5,2 persen secara tahunan. Perkembangan ini dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit, serta diperkirakan turut dipengaruhi oleh momentum Hari Raya Idul Fitri pada Maret 2026 yang meningkatkan jumlah uang beredar untuk transaksi, investasi, dan konsumsi.

Arus Keluar Dana Asing Membebani Pasar

Sementara itu, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan IHSG masih dalam koridor koreksi yang wajar, meskipun arus keluar dana asing terus membebani pergerakan pasar.

Ia mencatat adanya aksi jual bersih (net sell) investor asing sebesar Rp 1,36 triliun pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Secara kumulatif sejak awal tahun, net foreign sell telah mencapai Rp 35,11 triliun, mencerminkan sikap risk-off investor global terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Secara teknikal, Nafan memprediksi IHSG berpotensi menguji fase lanjutan dalam struktur gelombang, yakni “wave (ii) atau wave (a)” sebagai bagian dari pola korektif. Indikator menunjukkan sinyal beragam; Relative Strength Index (RSI) mulai mengindikasikan momentum positif yang didukung peningkatan volume transaksi, namun Stochastic K_D justru memberikan sinyal negatif, menandakan potensi volatilitas yang tinggi dalam jangka pendek.

“Secara teknikal, IHSG hanya mengalami koreksi wajar dan memungkinkan untuk menguji “wave (ii) atau wave (a)” target. Berdasarkan indikator, RSI menunjukkan sinyal positif didukung kenaikan volume, namun Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif,” ujar Nafan.

Investor Ritel Diimbau Selektif

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif ini, Nafan menyarankan investor ritel untuk lebih selektif dalam memilih saham. Ia merekomendasikan fokus pada emiten dengan fundamental yang solid, valuasi yang relatif murah, serta saham yang mulai menunjukkan indikasi pembalikan tren.

Selain itu, disiplin dalam penerapan manajemen risiko menjadi kunci utama. “Fokus pada saham pilihan dengan fundamental solid; Fokus pada saham bervaluasi murah; Fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin,” tutup Nafan.