Akses.co.id — JAKARTA, Kompas.com — Badan Energi Internasional (IEA) mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi krisis energi baru yang lebih parah dari era 1970-an, dipicu oleh konflik yang melibatkan Iran dan meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz. Situasi ini dinilai dapat membentuk ulang arsitektur energi dunia secara fundamental.
Kepala IEA, Fatih Birol, menekankan bahwa gejolak saat ini meluas tidak hanya pada minyak, tetapi juga mencakup gas, pupuk, dan produk petrokimia, menjadikannya ancaman yang lebih komprehensif dibandingkan krisis minyak sebelumnya.
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari Anadolu Ajansi pada Jumat (24/4/2026), Birol menggambarkan sistem energi global saat ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh.
“Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh. Ekonomi global saat ini bergantung pada sejumlah aktor yang sangat terbatas,” ujar Birol.
Konsentrasi pasokan energi global pada segelintir pemain utama meningkatkan risiko gangguan secara signifikan. Volatilitas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global, menjadi salah satu ancaman paling serius yang dapat berdampak sistemik pada pasokan, harga, dan pertumbuhan ekonomi dunia.
Birol bahkan menggunakan metafora untuk menggambarkan dampak yang berpotensi permanen dari krisis ini.
“Vas itu pecah. Dan ketika vas pecah, Anda tidak dapat memperbaikinya sepenuhnya,” katanya, menekankan bahwa dampak krisis akan berlangsung panjang.
Krisis Energi Dinilai Lebih Berat dari 1970-an
Peringatan IEA ini muncul di tengah kembalinya harga minyak di atas 100 dollar AS per barel, akibat gangguan pasokan dan kekhawatiran pasar akan meluasnya konflik.
Birol membedakan krisis saat ini dengan gejolak energi sebelumnya, dengan menyoroti bahwa krisis ini terjadi di saat sistem perdagangan global semakin terfragmentasi, sementara rantai pasok energi dan bahan baku industri saling terhubung erat.
“Hingga hari ini, kita telah kehilangan 13 juta barel minyak per hari, dan terjadi gangguan besar pada komoditas vital,” papar Birol, mengutip dari CNBC.
Menurutnya, dampak konflik Iran tidak hanya sebatas lonjakan harga energi, melainkan berpotensi membentuk ulang pasar energi global.
“Pasar sedang mengalami perubahan bentuk,” ujar Birol.
Ia menambahkan bahwa krisis ini lebih berat daripada oil shock 1973 dan 1979 karena tekanan tidak hanya pada minyak mentah, tetapi juga pada gas, pupuk, sulfur, dan petrokimia yang menopang banyak industri.
Sebelumnya, perang di Ukraina telah mengubah aliran minyak dan gas global, khususnya di Eropa. Konflik baru ini menambah volatilitas pada pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Birol juga menyoroti peran Rusia yang tetap menjadi pemain penting di pasar energi global meskipun terkena sanksi, yang menambah kompleksitas pasar melalui perubahan pola perdagangan.
Risiko Inflasi dan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
Salah satu dampak utama yang dikhawatirkan IEA adalah peningkatan tekanan inflasi.
Birol memperingatkan bahwa lonjakan biaya energi berpotensi memperdalam inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi global, terutama di negara berkembang.
Ia menilai negara-negara berkembang, termasuk di Afrika dan Asia Selatan, akan menghadapi tekanan lebih berat karena tingginya ketergantungan pada impor energi dan sensitivitas terhadap kenaikan harga komoditas.
“Krisis ini dapat memperdalam inflasi dan memperlambat pertumbuhan global,” ujar Birol.
Peringatan ini sejalan dengan kekhawatiran bahwa krisis energi berpotensi memicu kembali risiko stagflasi, yaitu kondisi pertumbuhan ekonomi yang melemah namun tekanan harga tetap tinggi.
Menurut Birol, dampak energi selalu meluas jauh melampaui sektor bahan bakar, termasuk memukul biaya logistik, produksi, dan daya beli rumah tangga.
Untuk Eropa, ia menilai sejumlah negara seperti Prancis relatif lebih siap menghadapi guncangan, tetapi tetap akan menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi dan pelemahan daya beli masyarakat.
Selat Hormuz Menjadi Titik Risiko Utama
Fokus utama IEA adalah risiko dari Selat Hormuz, yang disebut sebagai pusat kerentanan pasar saat ini.
Birol menggambarkan situasi di jalur tersebut sebagai “absurd tapi nyata,” menandakan risiko yang mungkin terasa ekstrem namun nyata dihadapi pasar.
Jika gangguan di jalur tersebut berlanjut, bukan hanya minyak, tetapi juga LNG dan berbagai komoditas turunannya berpotensi terdampak. Dampaknya bisa melampaui sektor energi dan menjalar ke industri pangan, manufaktur, dan perdagangan.
Birol juga menyinggung bahwa sensitivitas pasar kini dipengaruhi oleh pernyataan politik dari aktor utama, termasuk pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menurutnya turut menambah ketidakpastian terkait perdagangan dan energi.
“Ekonomi global saat ini bergantung pada sejumlah aktor yang sangat terbatas,” kata dia.
Pernyataan tersebut menegaskan tingginya konsentrasi risiko dalam rantai pasok energi global saat ini.
Pemulihan Disebut Membutuhkan Waktu Bertahun-tahun
Di tengah kekhawatiran pasar atas gangguan berkepanjangan, Birol menilai stabilitas tidak akan mudah dipulihkan bahkan bila konflik mereda.
Menurutnya, infrastruktur energi yang terdampak dan volatilitas pasar bisa membutuhkan setidaknya dua tahun untuk menormalkan kondisi.
Ia menilai pemulihan pasokan tidak bersifat instan karena gangguan fisik maupun psikologis pasar bisa meninggalkan efek berkepanjangan.
“Dampak dari krisis saat ini akan berlangsung lama,” terangnya.
Pernyataan tersebut memperkuat pandangan bahwa krisis kali ini bukan sekadar shock jangka pendek, melainkan berpotensi mengubah strategi energi banyak negara dalam jangka panjang.
Krisis Bisa Mempercepat Transisi Energi
Di tengah tekanan pasar, Birol juga melihat sisi lain dari krisis ini, yakni kemungkinan percepatan transisi energi global.
Menurutnya, energi terbarukan, tenaga nuklir, dan kendaraan listrik berpotensi menjadi pihak yang diuntungkan karena negara-negara terdorong mengurangi ketergantungan pada pasokan energi yang rentan terganggu.
“Pertama-tama, saya memperkirakan tenaga nuklir akan mendapatkan dorongan. Energi terbarukan akan tumbuh sangat pesat, tenaga surya, angin, dan lainnya, (dan) saya memperkirakan mobil listrik akan mendapatkan manfaat dari hal ini,” katanya.
“Bahan bakar fosil alternatif juga bisa kembali populer,” imbuh dia.
Di beberapa negara, terang Birol, pihaknya memperkirakan batu bara juga akan mengalami peningkatan dan kembali naik, terutama di beberapa negara besar di Asia.
Birol menyebut krisis ini bisa memperkuat argumentasi untuk mempercepat investasi pada sistem energi yang lebih tangguh dan terdiversifikasi.
Namun, ia juga mengingatkan sebagian negara mungkin justru sementara meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga keamanan pasokan. Kondisi itu menunjukkan transisi energi bisa berjalan dengan arah yang tidak sepenuhnya linear.
Meski demikian, bagi IEA, krisis ini berpotensi menjadi momentum penting perubahan lanskap energi global.
“Pasar energi global tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik,” ucap Birol.
Dalam pandangan IEA, sensitivitas itu bukan lagi fenomena sementara, melainkan cerminan dari pasar energi global yang memasuki era baru, lebih rapuh, lebih volatil, dan berpotensi lebih sering diguncang shock geopolitik.
Ikuti Akses.co.id
