Akses.co.id — Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah tidak hanya meresahkan pasar gas alam cair (LNG) global dalam jangka pendek, namun juga diprediksi akan mempengaruhi proyeksi pasokan dunia hingga akhir dekade ini. International Energy Agency (IEA) dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa gangguan pasokan melalui Selat Hormuz sejak Maret 2026 telah menciptakan ketidakpastian signifikan, menghilangkan hampir 20 persen pasokan LNG global dan memicu lonjakan harga di negara-negara pengimpor utama.
Gangguan ini terjadi di saat pasar LNG global sebenarnya mulai menunjukkan tanda-tanda penyeimbangan. Antara Oktober 2025 hingga Februari 2026, perdagangan LNG global tercatat meningkat 12 persen secara tahunan, didorong oleh tambahan kapasitas baru terutama di Amerika Utara. Periode yang sama juga menyaksikan penurunan harga acuan gas di Eropa dan Asia sekitar 25 persen, mencerminkan meredanya tekanan pasokan.
Namun, tren positif tersebut berbalik arah secara drastis pada Maret 2026. Konflik di Timur Tengah menyebabkan penutupan de facto Selat Hormuz bagi banyak kargo LNG. IEA mencatat produksi LNG global anjlok 8 persen secara tahunan. Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab, yang hanya sebagian kecil dapat ditutupi oleh peningkatan produksi dari wilayah lain.
Ketika gangguan merembet ke rantai pasok global, pengiriman LNG ikut menurun. Bahkan, penurunan tersebut semakin tajam pada April 2026. Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menekankan kerapuhan sistem energi global akibat kondisi ini. “Gangguan ini terjadi ketika pasar gas global sebelumnya sudah ketat, sehingga dampaknya cepat terasa terhadap harga, pasokan, dan keamanan energi,” ujar Birol, seperti dikutip dalam laporan IEA.
Harga Melonjak, Permintaan Mulai Melemah
Tekanan pasokan langsung tercermin pada lonjakan harga. Selama periode volatilitas tinggi pada Maret 2026, harga gas alam di Asia dan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2023. Harga spot LNG Asia menyentuh angka mendekati 21 dollar AS per million British thermal units (MMBtu), sementara harga gas Eropa rata-rata berkisar 18 dollar AS per MMBtu.
Kenaikan harga ini memicu tekanan baru pada sisi permintaan. IEA mencatat permintaan gas alam di Eropa turun sekitar 4 persen secara tahunan pada Maret 2026, sebagian besar disebabkan oleh peningkatan pembangkitan listrik dari energi terbarukan. Di Asia, beberapa negara mulai menerapkan kebijakan penukaran bahan bakar (fuel switching) dan pengendalian konsumsi untuk menekan penggunaan gas di tengah krisis pasokan.
Kondisi ini menandai perubahan penting di pasar, di mana harga tinggi tidak hanya menjadi konsekuensi pasokan ketat, tetapi juga mulai mengubah pola konsumsi energi. Meskipun demikian, IEA menilai penurunan permintaan tersebut belum cukup untuk mengimbangi hilangnya pasokan dari pasar. “Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh,” kata Birol dalam peringatan terpisah.
IEA juga menyoroti bahwa cuaca dingin ekstrem di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur sebelumnya telah menunjukkan pentingnya fleksibilitas pasokan gas bagi keamanan energi, terutama di tengah ketergantungan sistem ketenagalistrikan yang makin tinggi pada energi terbarukan yang bergantung pada cuaca.
AS Menahan Tekanan, Tapi Belum Cukup Longgarkan Pasar
Di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah, ekspor LNG Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyangga utama pasar. Data Reuters menunjukkan ekspor LNG AS pada periode Januari-April 2026 mencapai rekor 32,15 juta metrik ton, naik 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini membantu menutupi sebagian penurunan pasokan dari Qatar yang diperkirakan mencapai 6,93 juta ton.
Terminal Plaquemines LNG disebut menjadi salah satu pendorong utama lonjakan ekspor tersebut. Namun, IEA menilai tambahan pasokan dari wilayah lain hanya mengurangi sebagian dampak gangguan. “Peningkatan produksi di tempat lain hanya sebagian mengimbangi kerugian,” tulis IEA. Ini berarti, tambahan pasokan dari AS belum cukup menghilangkan ketatnya pasar, melainkan hanya mencegah gangguan yang lebih besar.
Penilaian IEA ini diperkuat oleh proyeksi bahwa pasar LNG global diperkirakan akan tetap ketat hingga tahun 2027.
Gelombang Pasokan LNG Global Tertunda Dua Tahun
Salah satu sorotan utama laporan IEA adalah tertundanya apa yang sebelumnya diperkirakan sebagai “gelombang pasokan LNG global”. Sebelum konflik, ekspansi proyek-proyek LNG baru di AS, Qatar, Kanada, dan Afrika diproyeksikan akan memberikan bantalan besar bagi pasar dalam dua tahun ke depan. Namun, IEA kini memperkirakan prospek tersebut mundur.
Kerusakan pada infrastruktur likuefaksi LNG di Qatar disebut akan mengurangi pertumbuhan pasokan yang diproyeksikan dan menunda dampak penuh ekspansi LNG global setidaknya dua tahun. Kombinasi kehilangan pasokan jangka pendek dan melambatnya pertumbuhan kapasitas berpotensi menyebabkan kehilangan kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik LNG selama periode 2026-2030.
Meskipun proyek likuefaksi baru di wilayah lain diperkirakan pada akhirnya dapat menutup kehilangan tersebut, dampaknya dinilai akan memperpanjang ketatnya pasar sepanjang 2026 dan 2027. Angka ini menjadi salah satu indikasi paling jelas bahwa krisis tidak hanya mengganggu pasar saat ini, tetapi juga mengubah peta pasokan global dalam jangka menengah.
“Resuming flows through the Strait of Hormuz remains the single most important variable in easing pressure on energy supplies, prices and the global economy,” kata IEA. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan arus normal melalui Selat Hormuz tetap menjadi variabel kunci bagi normalisasi pasar.
Risiko Menjalar ke Industri Global
Dampak gangguan LNG juga dinilai meluas ke sektor industri yang bergantung pada gas sebagai bahan baku maupun sumber listrik. Gas alam memegang peran penting dalam pembangkitan listrik, industri pupuk, petrokimia, hingga manufaktur berbasis energi intensif.
Ketika harga gas naik dan pasokan mengetat, biaya produksi ikut tertekan. Birol memperingatkan dampak krisis bahkan merembet ke komoditas lain. “Pasokan komoditas vital, termasuk pupuk dan petrokimia, juga terganggu,” ujar dia.
IEA menilai keterkaitan pasar LNG dengan rantai pasok industri global membuat gangguan energi berpotensi menjalar ke tekanan inflasi dan biaya produksi yang lebih luas. Di Asia, negara-negara importir utama seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok berpotensi menghadapi biaya impor energi yang lebih tinggi. Di Eropa, persaingan mendapatkan pasokan LNG juga berpotensi menguat menjelang puncak permintaan musim dingin.
Regulator energi Uni Eropa, ACER, bahkan menyebut blok tersebut belum berada di jalur aman untuk memenuhi target pengisian penyimpanan gas sebesar 90 persen sebelum musim dingin.
Kontrak Jangka Panjang Kembali Jadi Sorotan
Selain soal pasokan fisik, IEA menilai krisis ini kembali menempatkan strategi pengadaan energi sebagai isu sentral. Dalam laporannya, IEA menekankan pentingnya penguatan keamanan pasokan gas melalui investasi yang memadai di seluruh rantai nilai LNG, mulai dari produksi, likuefaksi, pengapalan, hingga infrastruktur penerimaan.
Badan tersebut juga menyoroti pentingnya kerja sama internasional antara produsen dan konsumen. Salah satu pelajaran yang kembali muncul dari krisis ini adalah nilai strategis kontrak jangka panjang yang terdiversifikasi. Menurut IEA, portofolio kontrak jangka panjang memberikan keuntungan bagi negara importir dalam meredam volatilitas harga ketika terjadi gangguan pasokan. Hal ini menjadi relevan di tengah pasar spot yang sangat sensitif terhadap gangguan geopolitik.
Bagi banyak importir, isu keamanan energi yang sebelumnya lebih banyak dibahas setelah krisis Eropa kini kembali mengemuka.
Pasar Makin Sensitif Terhadap Gangguan Kecil
IEA menilai salah satu konsekuensi tertundanya gelombang pasokan baru adalah pasar kembali menjadi sangat sensitif terhadap gangguan kecil sekalipun. Dalam kondisi tambahan kapasitas baru belum sepenuhnya masuk, setiap gangguan di produsen besar atau jalur perdagangan utama dapat segera menekan harga dan memicu kompetisi pembelian.
Risiko tersebut dinilai meningkat karena jalur alternatif ekspor di kawasan Teluk, seperti pipa Arab Saudi dan jalur Fujairah Uni Emirat Arab, hanya memberikan bantuan terbatas dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran Selat Hormuz. Dengan demikian, satu titik penyumbatan (chokepoint) tetap memegang pengaruh besar terhadap stabilitas pasar energi global.
Bagi IEA, kondisi ini menjadi pengingat bahwa diversifikasi pasokan, fleksibilitas sistem, dan investasi infrastruktur tetap menjadi fondasi utama keamanan energi. Selama arus perdagangan melalui Selat Hormuz belum pulih sepenuhnya dan tambahan kapasitas baru belum memberikan dampak penuh, pasar LNG global diperkirakan masih akan dibayangi ketatnya pasokan dan volatilitas harga hingga setidaknya tahun 2027.
Ikuti Akses.co.id
