Sumenep, Kompas.com – Praktik penggunaan joki dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) demi menembus Fakultas Kedokteran menuai keprihatinan. Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Sumenep, Rifmi Utami, menilai fenomena ini berpotensi meloloskan calon mahasiswa yang tidak kompeten.
“Saya sih prihatin saja, para profesional joki itu ya, yang menganggapnya sebagai mata pencaharian itu tetap ada. Tetap mencari celah gitu untuk bisa meloloskan orang yang tidak kompeten,” ujar Rifmi, Kamis (23/4/2026).
Ia berharap sistem seleksi calon mahasiswa terus diperkuat untuk mencegah kecurangan. “Mudah-mudahan sistem yang digunakan oleh pemerintah itu lebih baik gitu ya, sehingga tidak bisa ditembus oleh joki ya,” tambahnya.
Praktik Joki yang Semakin Canggih
Rifmi mengaku tidak terkejut dengan adanya praktik joki pada UTBK SNBT, namun ia menyayangkan kejadian yang terus berulang ini. Ia mengenang praktik serupa terjadi sejak lama, bahkan pada era Ujian Nasional Berbasis Tes (UNBT) tradisional.
“Karena memang adanya kejadian itu memang dari lama ya. Pada saat dulu UNBTN, kalau yang dulu itu tradisional. Ada orang yang ikutan juga gitu, kayak ngasih tahu sama sebelah-sebelahnya gitu. Dulu gitu kalau metodenya,” jelasnya.
Meskipun sistem UTBK berbasis komputer dinilai lebih ketat, ia mengakui masih ada kemungkinan celah bagi joki untuk beraksi.
“Kalau sekarang sebenarnya joki itu sulit. Karena pakai komputer, sulitnya soalnya satu sama lain beda, jadi fokus sama pekerjaannya sendiri,” katanya.
Namun, ia menambahkan, “Tapi yang namanya, mungkin ada celah yang mungkin bisa tembus, saya juga tidak tahu ya. Dari dulu hanya kok bisa, kok bisa, gitu saja.”
Ambisi Menjadi Dokter sebagai Motif Utama
Di sisi lain, Rifmi melihat ambisi kuat untuk menjadi dokter menjadi motif utama peserta menggunakan joki.
“Kalau saya melihat sih, kemungkinan besar, mungkin ya, orang yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang dokter,” tambahnya.
“Kalau sewa-sewa joki ya, mungkin dia orang yang kaya, kepengen anaknya, pengen jadi dokter. Tapi dari sisi nilai belum sesuai kemampuan, akhirnya ya itu dia pakai joki,” imbuhnya.
Apresiasi bagi Peserta yang Berjuang Mandiri
IDI memberikan apresiasi kepada peserta yang menempuh jalur jujur dan mengandalkan kemampuan diri sendiri.
“Kalau sejauh ini, kami justru mengapresiasi mereka yang benar-benar dari nol, belajarnya ekstra, kemudian dia memang bisa punya cita-cita, ingin mengabdi pada kemanusiaan,” ujar Rifmi.
Ia menegaskan bahwa sistem seleksi telah menyediakan berbagai jalur, mulai dari SNBP, tes, hingga jalur mandiri. Selain itu, proses penyaringan juga terus berlanjut saat perkuliahan.
“Mulai dari dia (calon mahasiswa) memang berprestasi dari sekolahnya, mulai SNBP, ada yang lewat tes, ada yang otonomi kampus. Seleksi alamnya pada saat kuliah, bertahan atau tidak, toh misalnya dia nanti lulus, seleksi alam akan terjadi,” jelasnya.
Temuan Penggunaan Joki UTBK
Sebelumnya, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, mengungkap adanya peserta SNBT yang menyewa joki untuk mengincar kursi Fakultas Kedokteran. Temuan ini disampaikan saat meninjau pelaksanaan UTBK di Universitas Negeri Surabaya pada Rabu (22/4/2026).
“Iya, kedokteran (jurusan yang diincar peserta penyewa joki), kedokteran salah satu perguruan tinggi di Jawa Timur,” ujar Atip.
Atip menegaskan bahwa peserta yang terbukti menggunakan joki akan didiskualifikasi dan di-blacklist dari seluruh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seumur hidup.
“Karena ini sangat mencederai dari tujuan pendidikan kita yang mengedepankan integritas dan kejujuran. Jadi, boleh saja kita melakukan kekeliruan di dalam proses-proses keilmuan, tapi tidak boleh tidak jujur,” tegasnya.






