Akses.co.id — BANGKALAN, KOMPAS.com – Puluhan ibu rumah tangga di Desa Keleyan, Kecamatan Socah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, mendatangi seorang perempuan berinisial FD, yang diduga sebagai bandar arisan bodong. Aksi ini dipicu oleh hilangnya uang setoran yang diduga mencapai miliaran rupiah, bahkan salah satu korban mengaku telah menyetor hingga Rp 1 miliar.
Kemarahan para peserta arisan ini terekam dalam sebuah video yang kemudian viral di media sosial. Dalam potongan video tersebut, FD yang mengenakan sweter abu-abu dan jilbab merah terlihat menjadi sasaran protes warga yang menuntut pengembalian dana mereka.
Sekretaris Desa Keleyan, Hadit Gaurof, membenarkan peristiwa tersebut melibatkan warganya. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci mekanisme praktik arisan yang dijalankan oleh FD. “Benar yang viral itu warga Desa Keleyan. Kalau tidak salah permasalahannya itu arisan bodong, tetapi seperti apa mekanismenya, saya tidak tahu pastinya,” ujar Hadit kepada awak media, Minggu (26/4/2026).
Mediasi di Balai Desa Berakhir Buntu
Pihak pemerintah desa telah berupaya memfasilitasi pertemuan antara FD dan para peserta arisan. Sekitar 15 orang yang mengaku sebagai korban sempat dikumpulkan di Balai Desa Keleyan untuk melakukan mediasi.
Namun, upaya mediasi tersebut tidak membuahkan hasil karena belum tercapainya kesepakatan mengenai skema pengembalian uang. “Masalah utang piutangnya pernah diselesaikan di balai desa tetapi belum klir. Kala itu kami suruh balik agar diperinci terlebih dahulu berapa total utang. Kami beri waktu satu minggu, tapi sampai sekarang belum kembali ke balai desa,” jelas Hadit.
Berdasarkan pengakuan warga saat mediasi, nilai setoran peserta bervariasi. Ada yang mengaku telah menyetor sebesar Rp 40 juta, Rp 50 juta, hingga ada yang mengklaim telah menyetor hingga Rp 1 miliar.
Modus “Gali Lubang Tutup Lubang” Terungkap
Dalam pertemuan di balai desa, terduga pelaku FD sempat memberikan penjelasan mengenai penggunaan uang peserta. Menurutnya, dana tersebut tidak disimpan, melainkan diputar kembali untuk menutup setoran peserta lainnya. “FD saat di balai desa bilangnya uang milik peserta dipakai untuk diputar, menutup lubang ke beberapa peserta lainnya,” tutur Hadit.
Terkait upaya ganti rugi, FD mengaku memiliki aset senilai Rp 400 juta yang siap digunakan untuk membayar para peserta. Namun, jumlah tersebut dinilai jauh dari total kerugian yang dialami warga. Para peserta pun menolak tawaran FD yang ingin mencicil sisa kekurangan dana. “Pihak peserta tidak mau dengan sistem cicil karena ingin uang kembali secara tunai,” tambah Hadit.
Diduga 83 Korban, Kerugian Capai Rp 10 Miliar
Salah satu peserta arisan yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku awalnya tertarik karena arisan tersebut diklaim telah berjalan lancar sejak sebelum tahun 2021. Kecurigaan mulai muncul setelah adanya sistem “jual beli” arisan yang dianggap tidak masuk akal.
“Informasinya ada peserta yang setor Rp 1 miliar dan dijanjikan keuntungan Rp 100 juta. Kalau tidak salah ada 92 korban, mungkin ada yang sudah dikembalikan jadi sisanya sekitar 83 orang,” ungkap sumber tersebut.
Menyikapi besarnya dugaan kerugian, Kapolsek Socah Iptu Pariadi menyatakan bahwa pihaknya telah mengarahkan para korban untuk melaporkan kasus ini ke tingkat polres. “Sudah banyak yang melapor ke polres, sekitar 70 orang lebih korbannya dengan total kerugian sekitar Rp 10 miliar. Mereka rata-rata ingin uang kembali, informasinya ada satu orang yang setor Rp 300 juta,” pungkas Pariadi.
Ikuti Akses.co.id
