— Senyum Kartini merekah saat bertemu Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, di hunian sementara (huntara) Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Senin (20/4/2026) sore. Pertemuan ini menjadi momen penting bagi Kartini, yang dua bulan sebelumnya dilanda kesedihan mendalam pasca-bencana hidrometeorologi yang merenggut nyawa suaminya dan menghancurkan tempat tinggalnya.

Kartini, seorang ibu dua anak, tak kuasa menahan haru ketika menceritakan kembali pertemuannya dengan Tito pada akhir November 2025. Kala itu, ia diliputi duka dan kebingungan memikirkan masa depan anak-anaknya. “Waktu itu saya cerita dan Pak Tito tahu saya kehilangan suami. Suami saya hanyut. Saya bingung. Gimana ini anak-anak saya,” kenangnya, sebagaimana tertuang dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (23/4/2026). Ia menambahkan, Tito kala itu berjanji akan segera membangun huntara agar keluarganya bisa kembali menempati hunian yang layak.

Kini, janji tersebut telah terwujud. Kartini merasa hidupnya jauh lebih baik setelah menempati huntara. “Saya cuma mau mengucapkan terima kasih sudah dibangunkan huntara. Jujur sangat meredakan (kesulitan hidup) kami ketimbang waktu di tenda,” ujarnya saat diwawancarai di lokasi yang sama pada Senin (20/4/2026).

Dalam pertemuan singkat tersebut, Kartini sempat mengingatkan Tito tentang kegelisahannya dua bulan lalu saat masih tinggal di tenda darurat. Tito, dengan sigap, mengenali Kartini sebagai salah satu penyintas yang pernah ia temui. “Beliau langsung tahu saya, begitu saya bilang ‘saya Kartini’. Beliau langsung tanya gimana kabar anak-anak saya. Pak Tito masih ingat betul, waktu pertama kali menemui saya dan anak-anak di tenda. Saya jawab kondisi kami baik,” ungkap Kartini.

Kini, Kartini kembali memiliki semangat untuk bangkit. Ia mengaku termotivasi mendengar pernyataan Tito bahwa pemerintah akan segera membangun hunian tetap (huntap) bagi para penyintas bencana di Bener Meriah. Meskipun huntara telah memberikan kenyamanan, Kartini sangat berharap dapat segera menata kehidupan di rumah yang lebih permanen bersama kedua buah hatinya.

Progres Pembangunan Hunian Sementara dan Rencana Hunian Tetap

Dalam kunjungannya ke Desa Tunyang, Muhammad Tito Karnavian mengapresiasi kondisi para penyintas yang kini terlihat jauh lebih baik. Hal ini sejalan dengan rampungnya pembangunan huntara yang tidak hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas publik. “Ini (huntara) luar biasa saya enggak banyak melihat yang seperti ini. Sangat rapi, dan mereka juga terlihat sekali wajah masyarakat jauh berbeda waktu kita dua bulan lalu datang. Mereka menangis. Di sini mereka sudah tersenyum tertawa,” ujar Tito usai meninjau lokasi huntara, Senin (20/4/2026).

Fasilitas yang tersedia di huntara Desa Tunyang meliputi sanitasi yang memadai, area bermain anak, fasilitas olahraga, aula untuk kegiatan komunal, serta masjid untuk keperluan ibadah. Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat membantu memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Sebagai langkah lanjutan dalam penanganan pascabencana, Tito memastikan berbagai bantuan akan segera disalurkan. Bantuan tersebut mencakup jaminan hidup (jadup) sebesar Rp 15.000 per orang per hari selama tiga bulan, bantuan isi hunian senilai Rp 3 juta, dan bantuan ekonomi sebesar Rp 5 juta per kepala keluarga. Bantuan ini bertujuan untuk menjamin keberlangsungan hidup para penyintas sembari menunggu pembangunan huntap rampung.

Lebih lanjut, Tito juga menekankan pentingnya percepatan dan kelengkapan pendataan penerima huntap kepada jajaran Pemerintah Kabupaten Bener Meriah. Ia menjelaskan bahwa terdapat dua model pembangunan huntap yang perlu divalidasi, yaitu pembangunan di lokasi semula (in situ) atau pembangunan huntap komunal dalam satu kompleks. “Jadi, saya memerlukan data itu secepat mungkin. Nanti, tolong (mereka) didatangi, Bapak Bupati (Bener Meriah Tagore Abubakar), apa pilihan dari warga,” tegas Tito, menggarisbawahi perlunya partisipasi aktif warga dalam menentukan model hunian tetap mereka.