Akses.co.id — Reaktivasi jalur kereta api non-aktif di Indonesia dipandang sebagai langkah strategis untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah serta memperkuat konektivitas nasional. Langkah ini dinilai mampu menyeimbangkan kembali sistem transportasi dan memastikan pemerataan akses.
Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), mengungkapkan bahwa reaktivasi rel mati merupakan upaya penting untuk memicu perkembangan ekonomi berbasis kewilayahan.
“Reaktivasi jalan rel adalah langkah strategis untuk menyeimbangkan kembali sistem transportasi, memastikan pemerataan akses, dan memicu perkembangan ekonomi berbasis kewilayahan,” ujar Djoko, Minggu (26/04/2026).
Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan tahun 2026 menunjukkan bahwa dari total 9.178 kilometer jaringan perkeretaapian di Indonesia, 6.945 kilometer di antaranya merupakan jalur aktif. Sementara itu, 2.233 kilometer sisanya adalah jalur non-aktif yang berpotensi untuk dihidupkan kembali.
Djoko menekankan bahwa jalur non-aktif tersebut merupakan aset negara yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung mobilitas dan distribusi barang.
Sokong Distribusi Logistik dan Pariwisata
Pengaktifan kembali jalur kereta api diharapkan dapat menghidupkan pusat-pusat ekonomi baru, terutama di kota-kota kecil dan wilayah yang selama ini memiliki akses transportasi terbatas. Kereta api memiliki keunggulan signifikan dalam mendukung distribusi logistik, khususnya untuk jarak menengah antara 750 hingga 1.500 kilometer.
Peralihan angkutan barang dari jalan raya ke kereta api berpotensi meningkatkan efisiensi biaya dan memperkuat sistem logistik nasional. Selain itu, reaktivasi jalur juga membuka peluang usaha di sektor pariwisata, perdagangan, dan jasa di sekitar stasiun.
Beberapa rute non-aktif bahkan dinilai memiliki potensi wisata yang kuat. Djoko mencontohkan jalur yang menghubungkan kawasan dengan panorama alam.
“Menghubungkan destinasi wisata yang sebelumnya sulit dijangkau, seperti jalur dengan pemandangan eksotis, contohnya Garut-Cibatu atau Banjar-Cijulang. Memberikan pengalaman nostalgia perjalanan kereta api bagi wisatawan,” ungkapnya.
Kondisi Jalur Non-aktif di Jawa dan Sumatera
Saat ini, Pulau Jawa memiliki panjang jalur aktif kereta api sepanjang 4.921 kilometer dengan dukungan 473 stasiun. Di Pulau Sumatera, panjang jalur aktif mencapai 1.871 kilometer dengan 146 stasiun.
Sementara itu, pengembangan jaringan kereta api di wilayah timur Indonesia masih terbatas. Di Sulawesi, jalur aktif baru mencapai 109 kilometer, dan di Papua sepanjang 26 kilometer yang difokuskan untuk angkutan barang.
Fokus Reaktivasi di Pulau Jawa
Berdasarkan rencana dan program reaktivasi jalur kereta api di Pulau Jawa yang pernah dicanangkan oleh Kementerian Perhubungan melalui DJKA, beberapa koridor menjadi fokus utama. Jalur-jalur non-aktif tersebut antara lain:
- Rangkasbitung-Saketi-Labuhan
- Garut-Cikajang
- Banjar-Pangandaran-Cijulang
- Cianjur-Padalarang
- Bandung-Ciwidey
- Rancaekek-Tanjungsari
- Jatibarang-Indramayu
- Kedungjati-Tuntang
- Purworejo-Kutoarjo
- Purwokerto-Wonosobo
- Semarang-Rembang
- Yogyakarta-Magelang-Ambarawa
- Demak-Wonosari-Blora
- Babatan-Jombang
- Madiun-Ponorogo
Jalur Non-aktif di Sumatera
Di Pulau Sumatera, beberapa jalur non-aktif yang menjadi perhatian untuk reaktivasi meliputi:
- Sicincin-Padang Panjang
- Padang Panjang-Bukittinngi-Payakumbuh-Limbangan
- Padang Panjang-Solok-Sawahlunto
Ikuti Akses.co.id
