Masyarakat Nagari Koto Sani, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, dilanda kekhawatiran dalam sepekan terakhir menyusul kehadiran seekor harimau sumatera di tengah permukiman warga. Satwa dilindungi itu dilaporkan tidak hanya memasuki area perladangan, tetapi juga terekam melakukan kontak fisik dengan bangunan rumah, bahkan memangsa tiga ekor anjing peliharaan.
Keresahan warga bermula sejak Rabu (15/4/2026). Wali Nagari Koto Sani, Erinal Dianto, mengungkapkan bahwa selain menemukan jejak kaki yang jelas di tanah, warga kerap mendengar suara gesekan yang tidak biasa pada malam hari. “Belum ada laporan suara auman, tetapi warga mendengar suara harimau tersebut menggesek-gesekkan tubuhnya ke dinding rumah saat malam hari,” ujar Erinal.
Tiga Anjing Jadi Korban
Menanggapi laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat melalui Resort Wilayah Solok segera menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan verifikasi sejak Sabtu (18/4/2026). Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Sijunjung BKSDA Sumbar, Mecky Aditya Eka Putra, mengonfirmasi adanya interaksi negatif antara satwa dilindungi tersebut dengan lingkungan manusia.
“Selama aktivitas harimau tersebut, dilaporkan tiga ekor anjing peliharaan warga menjadi korban,” kata Mecky, Selasa (21/4/2026). Berdasarkan hasil identifikasi lapangan, tim menemukan jejak kaki berukuran sekitar 8 sentimeter yang tersebar di sekitar area perladangan.
Dari ukuran jejak yang seragam, BKSDA memperkirakan satwa tersebut berjumlah satu individu dewasa.
Upaya Penghalauan dan Pemantauan
Guna meminimalisasi risiko konflik lebih lanjut, tim BKSDA telah melakukan langkah-langkah darurat. Upaya tersebut meliputi penggunaan meriam karbit dan dentuman suara keras untuk menghalau harimau agar kembali ke habitatnya di kawasan Suaka Margasatwa Barisan.
Selain itu, warga diimbau untuk tidak beraktivitas sendirian, menghindari keluar rumah saat hari mulai gelap, dan memastikan hewan ternak masuk ke dalam kandang yang aman. Hingga saat ini, Mecky menyebutkan bahwa belum ditemukan lagi tanda-tanda baru keberadaan sang raja hutan di area permukiman pasca-upaya penghalauan.
Namun, pihak BKSDA menyatakan tetap bersiaga dan terus memantau situasi secara intensif. “Jika ditemukan tanda-tanda baru, kami akan segera memasang kamera jebak (trap camera) untuk memantau pola aktivitas satwa tersebut sebagai bahan pertimbangan penanganan lebih lanjut,” pungkas Mecky.
Pemerintah Nagari bersama BKSDA mengimbau warga untuk tetap tenang namun waspada. Warga diminta segera melaporkan jika menemukan jejak atau tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar lingkungan mereka.






