Akses.co.id — Warga Desa Kuto Batu Tanjung, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, dilanda keresahan menyusul dugaan kemunculan harimau yang dilaporkan telah masuk hingga ke area perkebunan dan mendekati permukiman penduduk. Setidaknya delapan ekor kerbau dilaporkan mati dalam beberapa kejadian terakhir, diduga kuat menjadi korban keganasan satwa liar tersebut.
Kekhawatiran warga semakin memuncak setelah ditemukannya jejak kaki yang diduga kuat milik harimau di sekitar kebun warga. Menindaklanjuti laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Selatan telah segera menerjunkan tim untuk melakukan pengecekan dan investigasi di lokasi kejadian.
Jejak Diduga Harimau Ditemukan Dekat Kawasan TNKS
Kepala BKSDA Sumatera Selatan, Yusmono, mengkonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima laporan dari masyarakat. Berdasarkan hasil pengecekan awal oleh tim di lapangan, jejak yang ditemukan memang menunjukkan kemungkinan besar berasal dari harimau. Lokasi penemuan jejak yang berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) semakin memperkuat dugaan tersebut.
“Kami sudah menerima informasi dan tim telah turun ke lokasi. Kemungkinan besar jejak itu benar milik harimau, apalagi lokasinya berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS),” ujar Yusmono, Minggu (26/4/2026).
Yusmono menduga, kemunculan harimau hingga ke area perkebunan warga ini dipicu oleh adanya gangguan di habitat aslinya di dalam kawasan TNKS. Gangguan tersebut bisa berupa aktivitas perambahan hutan atau perburuan liar yang menyebabkan harimau terdesak mencari makan di luar kawasan konservasi.
“Bisa jadi kondisi di dalam kawasan TNKS sudah terganggu, sehingga harimau keluar mencari makan hingga ke kebun warga,” jelasnya.
BKSDA mengimbau seluruh masyarakat di Desa Kuto Batu Tanjung dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan ini terutama ditujukan bagi mereka yang beraktivitas di kebun pada pagi, sore, maupun malam hari, yang merupakan waktu-waktu rawan.
Yusmono memperkirakan, berdasarkan jejak yang ditemukan, kemungkinan hanya satu ekor harimau yang memasuki wilayah tersebut.
“Kami minta warga berhati-hati dan mengurangi aktivitas di kebun pada waktu-waktu rawan. Dari jejak yang ditemukan, diduga hanya satu ekor harimau,” ujarnya.
Kerugian Ternak Warga Mencapai Delapan Ekor
Kepala Desa Kuto Batu Tanjung, Ahmad Syukri, membenarkan adanya laporan mengenai ternak warga yang menjadi korban keganasan satwa liar. Ia menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, serangan terhadap ternak warga memang cukup sering terjadi.
“Dalam beberapa kejadian terakhir, sudah ada delapan kerbau milik warga yang mati diduga dimangsa harimau. Warga tentu sangat khawatir untuk beraktivitas di kebun maupun saat menggembalakan ternak,” kata Syukri.
Ikuti Akses.co.id
