— Peringatan Hari Pendidikan Nasional kali ini kembali menghadirkan refleksi mendalam mengenai peran pendidikan dalam membentuk masa depan generasi muda. Di tengah pesatnya perkembangan dunia kerja yang beriringan dengan jenjang perguruan tinggi, orang tua dan anak dihadapkan pada pilihan krusial, termasuk studi di dalam atau luar negeri. Namun, di balik keputusan besar tersebut, seringkali luput aspek penting seperti kesiapan mental, komunikasi, dan pendampingan yang berkelanjutan.

Psikolog dan Faculty Member Binus University Malang, Natasha Gandhi, menyoroti fenomena ini sebagai dilema yang dihadapi Generasi Z (Gen Z). Ia menjelaskan bahwa meskipun Gen Z memiliki akses informasi yang sangat cepat, hal tersebut tidak selalu sejalan dengan kesiapan emosional mereka.

“Ini sebuah dilema ya. Gen Z itu dari generasi yang mendapatkan informasi dengan cepat. Semua bisa diakses dari mana saja, tapi sayangnya yang kita tahu Gen Z ini banyak mengalami kesepian, burnout, stres, sampai akhirnya depresi dan cemas yang menetap,” ujar Natasha kepada jurnalis, termasuk Kompas.com.

Menurut Natasha, perubahan yang terlalu cepat membuat banyak anak merasa kehilangan arah. Ketidakpastian masa depan menjadi sumber tekanan yang nyata. “Nah, karena itu harus paham anak-anak ini rentan di arah sana, maka kita memiliki waktu terbaik untuk komunikasi,” imbuhnya. Ia menekankan bahwa peran orang tua sangat krusial, bukan untuk menentukan pilihan, melainkan hadir sebagai pendamping dalam proses pengambilan keputusan.

Pendekatan yang dilakukan pun tidak bisa lagi bersifat umum. Anak-anak saat ini membutuhkan perhatian yang lebih personal. “Karena anak sekarang itu lebih suka dirangkul, diayomi, jadi harus pendekatan secara personal one by one,” kata Natasha.

Dari Kebimbangan Menuju Keyakinan

Kisah Winardi Sutanto, seorang orang tua asal Surabaya, menjadi gambaran nyata bagaimana komunikasi yang efektif dapat membentuk keputusan besar dalam pendidikan anaknya. Berbekal latar belakang di dunia Teknologi Informasi (IT) yang ia sadari terus berkembang pesat, Winardi menyerahkan sepenuhnya keputusan pendidikan kepada sang anak saat lulus pada tahun 2019.

Anaknya dihadapkan pada dua pilihan: melanjutkan kuliah di Jakarta atau mengikuti program pendidikan di Malang yang menawarkan skema pengalaman berbeda. Kebimbangan pun muncul, namun hal ini justru menjadi ruang diskusi yang sehat.

“Dia sempat dihadapkan pada dua pilihan kuliah di Jakarta atau mengikuti program pendidikan di Malang yang menawarkan skema pengalaman berbeda. Kebimbangan muncul, namun justru menjadi ruang diskusi yang sehat,” tutur Winardi.

Alih-alih memaksakan kehendak, Winardi memberikan ruang bagi anaknya untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Seiring waktu, keputusan untuk kuliah di Malang terbukti tepat. Sang anak tidak hanya merasa nyaman, tetapi juga berkembang secara akademik dan personal, bahkan memilih untuk melanjutkan studi di sana hingga selesai.

Pengalaman yang didapat sang anak tidak berhenti di ruang kelas. Selama masa kuliah, ia aktif membangun relasi, terlibat dalam berbagai komunitas, hingga mendapatkan kesempatan berharga di industri. “Dia bahkan terpilih mengikuti program di Google Academy Jakarta dan meraih prestasi internasional dari Apple Academy,” ungkap Winardi Sutanto.

Bagi Winardi, hal ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh lokasi, melainkan oleh ekosistem pembelajaran yang mendukung. Ia juga melihat pentingnya soft skill, kemampuan yang justru menjadi pembeda utama di dunia kerja saat ini. Dukungan kampus dalam membangun koneksi, pengalaman kerja, hingga jejaring profesional menjadi nilai tambah yang signifikan.

Peran Kampus dalam Menjawab Tantangan Zaman

Sebagai bagian dari transformasi pendidikan, Binus University Malang menghadirkan pendekatan yang lebih adaptif. Kurikulum dirancang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga kebutuhan industri dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Mahasiswa dibekali kemampuan seperti berpikir kritis, problem solving, hingga literasi kecerdasan buatan.

Melalui program enrichment, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung di dunia kerja sebelum lulus. Pendampingan psikologis juga menjadi perhatian serius. Kampus menyediakan layanan khusus untuk membantu mahasiswa mengelola tekanan akademik dan kehidupan.

“Kami ingin mahasiswa mampu mengelola tekanan tanpa mengalami stres berlebihan. Pendampingan ini penting untuk kesiapan mereka,” ujar Natasha.

Selain itu, keterlibatan orang tua tetap dijaga melalui sistem pemantauan daring. Hal ini memungkinkan komunikasi yang lebih terbuka antara keluarga dan kampus.