Akses.co.id — Vienna, Austria – 140 tahun lalu, tepatnya pada 25 April 1886, Sigmund Freud, yang kelak dikenal sebagai bapak psikoanalisis, memulai babak baru dalam kariernya sebagai ahli neurologi. Ia membuka praktik dan menerima konsultasi di kantornya di Wina, Austria.
Di depan kantor yang beralamat di Rathausstrasse No. 7 itu, terpasang sebuah papan iklan sederhana yang bertuliskan: “Dr. Sigmund Freud, dosen penyakit saraf di universitas, telah kembali dari studinya di Paris dan Berlin, dan melayani jam konsultasi di Rathausstrasse No. 7, dari pukul 1 hingga 2.30.”
Namun, hari pertama praktik Freud tidak berjalan sesuai harapan. Menurut catatan Britannica, tak ada satu pun pasien yang datang untuk berkonsultasi. Situasi ini menimbulkan rasa frustrasi dan keputusasaan mendalam bagi Freud. Ia sangat membutuhkan penghasilan tetap dari praktiknya untuk dapat segera menikahi tunangannya, Martha Bernays.
Keputusan Freud untuk meninggalkan penelitian demi membuka praktik psikolog yang dianggap menjanjikan kala itu, memang penuh pertimbangan. Ia bahkan sempat berpikir untuk pindah ke New York, namun urung dilakukan setelah seorang teman memberitahukan prospek yang lebih suram di sana.
Perlahan, berkat dukungan dari teman dan kolega, baik dalam bentuk bantuan finansial maupun promosi dari mulut ke mulut, pasien mulai berdatangan ke kantor Freud. Pada tahun 1890, Freud telah disibukkan dengan banyaknya pasien yang ditanganinya, sekaligus melakukan pengamatan mendalam terhadap fenomena neurosis yang mereka alami.
Ruang praktik inilah yang kemudian menjadi saksi lahirnya berbagai teori fundamental psikoanalisis yang membuat namanya dikenal luas hingga kini, seperti konsep represi, alam bawah sadar, dan peran hasrat. Di sisi lain, impian Freud untuk menyunting Martha Bernays pun terwujud. Pada September 1886, keduanya resmi menikah dan dikaruniai enam orang anak.
Karier dan Karya Pelopor Psikoanalisis
Sigmund Freud diakui sebagai pelopor teori psikoanalisis. Konsep-konsepnya mengenai seksualitas anak, libido, dan ego bahkan menjadi salah satu gagasan akademik paling berpengaruh di abad ke-20.
Lahir di Freiberg, Austria, pada 6 Mei 1856, Freud sejatinya lebih mengidentifikasi dirinya sebagai seorang ilmuwan ketimbang seorang dokter, meskipun ia meraih gelar kedokteran pada tahun 1881.
Teori psikoanalisis Freud, yang banyak terinspirasi dari rekannya, Josef Breuer, berargumen bahwa neurosis berakar dari pengalaman traumatis di masa lalu pasien. Ia meyakini bahwa akar trauma tersebut seringkali terlupakan dan terkubur dalam alam bawah sadar.
Oleh karena itu, terapi yang dikembangkan Freud bertujuan untuk membantu pasien mengingat kembali pengalaman traumatis tersebut dan membawanya ke alam sadar. Dengan demikian, pasien dapat menghadapinya secara intelektual maupun emosional, yang pada akhirnya diyakini dapat membebaskan mereka dari gejala neurotik.
Selama kariernya, Freud telah menerbitkan sejumlah karya penting yang menjadi landasan psikoanalisis. Beberapa di antaranya yang paling berpengaruh adalah:
- Studies in Hysteria (1895)
- The Interpretation of Dreams (1900)
- The Psychopathology of Everyday Life (1901)
- Three Essays on the Theory of Sexuality (1905)
Meskipun demikian, pengakuan dan penghormatan besar terhadap teori-teori Freud tidak datang dengan mudah di tahun-tahun awal kariernya. Banyak rekan sejawatnya pada masa itu merasa keberatan dengan penekanan Freud pada isu seksualitas yang dianggap tabu.
Pada tahun 1938, Freud terpaksa meninggalkan Austria untuk melarikan diri dari kejaran Nazi. Setahun kemudian, pada 23 September 1939, ia menghembuskan napas terakhirnya di Inggris setelah menjalani prosedur eutanasia untuk mengakhiri penderitaannya akibat kanker mulut yang telah lama dideritanya.
Ikuti Akses.co.id
