— Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kerupuk di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, menghadapi tekanan berat akibat lonjakan harga minyak goreng dan plastik dalam sebulan terakhir. Kenaikan signifikan pada kedua komponen utama produksi ini membuat biaya operasional meroket, mengancam kelangsungan usaha mereka.

Linawati, seorang pengusaha kerupuk rumahan di Desa Mojopurno, Kecamatan Wungu, Madiun, mengungkapkan keprihatinannya. “Sebulan lalu harga minyak goreng masih Rp 17.000 per kilogram. Sekarang naik menjadi Rp 21.000 per kilogramnya,” tuturnya pada Jumat (24/4/2026).

Beban Ganda: Minyak dan Plastik Mengalami Kenaikan

Tidak hanya minyak goreng, harga plastik kemasan yang vital untuk pembungkusan produk juga melonjak drastis. Linawati mencatat, harga plastik naik dari Rp 30.000 per kilogram menjadi Rp 52.000 per kilogram. Beban ini semakin terasa mengingat harga tepung kanji, bahan baku utama kerupuk, juga ikut mengalami kenaikan dari Rp 79.000 menjadi Rp 89.000 per sak.

Di tengah situasi sulit ini, Linawati mengaku belum berani menaikkan harga jual kerupuknya. Keputusan ini diambil untuk menjaga daya saing di pasar yang semakin ketat. “Kalau kami menaikkan harga, pasaran belum tentu naik, tentu kami berani menaikkan harga. Apalagi pembuat kerupuk tidak hanya satu. Pesaing banyak,” jelasnya.

Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Untuk menyiasati lonjakan biaya produksi, Linawati terpaksa melakukan penyesuaian pada produknya. Ia mengurangi ketebalan kerupuk dari 2 milimeter menjadi 1,5 milimeter. Langkah ini diambil agar produksi tetap berjalan tanpa mengurangi jumlah isinya, yang dikhawatirkan akan merugikan pembeli.

“Kami siasati agar produksi terus berjalan dengan mengecilkan ukurannya. Kalau mengurangi isi, kami khawatir akan merugikan pembeli,” ujar Linawati.

Dalam satu hari, Linawati mampu memproduksi kerupuk jenis Bandung sebanyak dua kuintal, sementara kerupuk rambak produksinya kurang dari satu kuintal per hari. Pemasaran produknya saat ini masih terbatas di wilayah Kabupaten Madiun dan Kota Madiun.

Linawati berharap agar pemerintah dapat menstabilkan harga bahan baku, khususnya minyak goreng, tepung, dan plastik. “Dengan demikian, pelaku usaha kecil seperti kami dapat bertahan,” harapnya.