Harga minyak dunia berpotensi tetap tinggi dalam enam bulan ke depan menyusul perkiraan lamanya proses pembersihan ranjau yang dipasang oleh Iran di Selat Hormuz. Penilaian terbaru dari Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon mengindikasikan bahwa pembersihan tersebut dapat memakan waktu hingga setengah tahun.
Temuan ini disampaikan Pentagon kepada Komite Angkatan Bersenjata DPR AS dan pertama kali dilaporkan oleh The Washington Post pada Rabu (22/4/2026), mengutip sejumlah sumber yang mengetahui pengarahan tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan akan terus menekan harga minyak dunia tetap tinggi, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (23/4/2026).
Iran diketahui telah memblokade jalur pelayaran vital tersebut sejak serangan AS dan Israel pada 28 Februari. Langkah ini memicu lonjakan harga minyak dan gas serta mengganggu stabilitas ekonomi global. Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia pada masa damai. Namun, kini selat tersebut sebagian besar tertutup, diperparah dengan blokade kapal-kapal yang berasal dan menuju pelabuhan Iran oleh AS.
Berdasarkan penilaian Pentagon, operasional pembersihan ranjau kemungkinan besar baru dapat dimulai setelah perang benar-benar berakhir. Namun, juru bicara Pentagon, Sean Parnell, membantah klaim tersebut. Kepada Washington Post, Parnell menyatakan bahwa informasi dalam laporan itu “tidak akurat”.
Ranjau dengan Teknologi Canggih
Dalam pengarahan kepada para pembuat kebijakan, Pentagon mengungkapkan bahwa Iran diduga telah menempatkan 20 atau lebih ranjau di dalam dan sekitar selat. Beberapa ranjau dilaporkan menggunakan teknologi GPS yang memungkinkannya bergerak secara mandiri, sehingga mempersulit deteksi oleh petugas.
Pihak Garda Revolusi Iran (IRGC) sendiri telah mengeluarkan peringatan mengenai adanya “zona bahaya” seluas 1.400 kilometer persegi, yang diyakini sebagai lokasi penempatan ranjau tersebut. Ketua Parlemen Iran menegaskan posisi negaranya bahwa Teheran tidak akan membuka kembali akses selat selama blokade angkatan laut AS masih diberlakukan.
Ketidakpastian ini menimbulkan kekhawatiran besar di sektor transportasi laut. Juru bicara raksasa transportasi Jerman, Hapag-Lloyd, menekankan bahwa pihak pelayaran membutuhkan rincian rute yang layak karena tingginya risiko serangan ranjau. Kekhawatiran ini sempat terbukti ketika Selat Hormuz dibuka sebentar pada awal gencatan senjata bulan ini. Saat itu, hanya sedikit kapal yang berani melintas karena takut akan ancaman ranjau maupun serangan mendadak.
Misi Multinasional Disiapkan di London
Di sisi lain, Inggris dan Prancis memimpin pertemuan internasional di London yang dimulai pada Rabu. Pembicaraan ini melibatkan perencana militer dari lebih dari 30 negara untuk menyusun misi multinasional guna melindungi navigasi di Selat Hormuz begitu konflik berakhir.
Koalisi “defensif” ini akan mendiskusikan rencana pembukaan kembali jalur pelayaran serta teknis operasi pembersihan ranjau di wilayah tersebut. Sebelumnya, pada awal April, Angkatan Laut AS sempat mengklaim bahwa kapal-kapalnya telah melintasi selat untuk memulai pembersihan ranjau. Namun, klaim tersebut dibantah oleh IRGC yang mengancam akan menyerang kapal militer mana pun yang mencoba melintasi perairan sempit tersebut.






