— Harga minyak dunia melonjak tajam pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) waktu setempat, mencapai level tertinggi baru di atas 100 dollar AS per barel. Lonjakan ini dipicu oleh laporan serangan udara di Teheran, Iran, yang kian memperkeruh ketegangan politik di negara tersebut.

Minyak mentah Brent tercatat menguat 3,16 dollar AS atau 3,1 persen, ditutup pada angka 105,07 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan, bertambah 2,89 dollar AS atau 3,11 persen, menjadi 95,85 dollar AS per barel. Sempat terjadi penguatan hingga 5 dollar AS per barel dalam sesi perdagangan sebelumnya, namun sebagian mereda menjelang penutupan.

Pemicu Ketegangan dan Dampaknya pada Pasar Energi

Kenaikan harga minyak terjadi menyusul laporan yang menyebutkan sistem pertahanan udara Iran tengah aktif menghadapi target di atas Teheran. Laporan media Iran sendiri turut mengkonfirmasi adanya aktivitas pertahanan udara di wilayah ibu kota.

Situasi di Iran semakin kompleks dengan adanya laporan konflik internal antara kelompok garis keras dan moderat di pemerintahan. Pengunduran diri negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim perunding dengan Amerika Serikat (AS) melalui perantara Pakistan, semakin menguatkan indikasi kemenangan kelompok garis keras.

Ketegangan juga meningkat setelah muncul laporan serangan drone terhadap kelompok oposisi Kurdi Iran di sebuah pangkalan di Irak. Iran juga baru-baru ini memamerkan kekuatan militernya di Selat Hormuz dengan merilis video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, menyusul runtuhnya pembicaraan damai dengan AS yang sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Menanggapi situasi ini, Presiden AS Donald Trump dilaporkan memerintahkan angkatan lautnya untuk bertindak tegas terhadap ancaman di wilayah tersebut. Melalui media sosial, Trump menyerukan agar angkatan laut AS menembak dan menghancurkan kapal mana pun yang memasang ranjau di selat itu.

“Pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang saling bertentangan,” ujar Analis Again Capital, John Kilduff. “Pasar diterpa oleh laporan berita tentang Trump yang memperpanjang gencatan senjata minggu ini, tapi di sisi lain mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal Iran yang meletakkan ranjau.”

Kilduff menambahkan, “Sebagian orang menyebutnya permainan berita utama, saya menyebutnya roulette berita utama. Saya khawatir suatu hari kita akan bangun dan menyadari posisi pasokan jauh lebih buruk, dan harga akan melonjak ke level yang jauh lebih tinggi.”

Selat Hormuz: Jalur Vital yang Terancam

Meskipun Trump memperpanjang gencatan senjata setelah permintaan mediator Pakistan, Iran dan AS masih memberlakukan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Padahal, sebelum konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis ini.

Trump mengklaim bahwa AS kini memiliki kendali penuh atas selat tersebut. “Kami memiliki kendali penuh atas selat itu, dan jalurnya ditutup rapat sampai Iran mencapai kesepakatan,” ujarnya, tanpa menyajikan bukti.

Pada Rabu, Iran dilaporkan menyita dua kapal di perairan tersebut, sementara AS tetap mempertahankan blokade laut terhadap perdagangan Iran. Namun, data perusahaan analitik Vortexa menunjukkan sekitar 10,7 juta barel ekspor minyak mentah Iran berhasil melewati Selat Hormuz antara 13 hingga 21 April.

Sumber keamanan dan pelayaran juga mengindikasikan bahwa militer AS telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkannya dari rute dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.

Optimisme Pasar di Tengah Ketidakpastian

Di tengah dinamika yang memanas, Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai kenaikan harga minyak mentah masih tertahan oleh optimisme pasar. “Pasar masih percaya bahwa kita akan menemukan jalan keluar dari situasi ini,” ujar Flynn.

Survei yang dilakukan oleh Federal Reserve Bank of Dallas terhadap 120 eksekutif perusahaan minyak dan gas menunjukkan pandangan yang beragam mengenai pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz. Sebanyak 39 persen responden memperkirakan lalu lintas akan kembali normal pada Agustus, sementara 26 persen lainnya memprediksi pada November. Bahkan, 20 persen responden meyakini kondisi akan pulih pada Mei 2026.