Akses.co.id — PADANG, KOMPAS.com — Kenaikan harga sejumlah komoditas vital seperti plastik dan elpiji saat ini tengah memberikan tekanan signifikan terhadap biaya produksi pelaku usaha, khususnya di kalangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, di balik tantangan tersebut, seorang ekonom Universitas Andalas melihat adanya proses fundamental yang disebutnya sebagai “pembersihan alami” dalam perekonomian.
Ekonom Universitas Andalas, Endrizal Ridwan, dalam wawancara dengan Kompas.com pada Jumat (24/4/2026), menyatakan bahwa lonjakan harga yang terjadi justru berpotensi memicu peningkatan efisiensi dan melahirkan sektor-sektor ekonomi baru yang lebih kompetitif.
“Seperti hutan yang lebih sehat setelah kebakaran, kenaikan harga ini akan menyingkirkan sektor yang tidak produktif dan memunculkan pemenang baru yang lebih efisien,” ujar Endrizal, menganalogikan fenomena tersebut.
Ia mencontohkan potensi substitusi bahan baku plastik yang semakin mahal dengan alternatif dari bahan alami. Salah satu contoh konkret yang disebutkannya adalah kembali maraknya penggunaan daun pisang sebagai pembungkus.
“Ketika harga plastik naik, itu membuka peluang usaha baru. Daun pisang bisa kembali digunakan. Ini bukan sekadar romantisme, tapi peluang ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan efisien,” jelasnya.
Menurut Endrizal, mekanisme pasar memang kerap menimbulkan ketidaknyamanan dalam jangka pendek, namun pada akhirnya akan berujung pada peningkatan efisiensi dalam jangka panjang. Kenaikan harga tersebut akan mendorong baik pelaku usaha maupun konsumen untuk melakukan adaptasi.
Fenomena pergeseran preferensi konsumen ini, kata Endrizal, sudah mulai terlihat di Kota Padang. Data dari sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menunjukkan adanya penurunan tajam pada penjualan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite, sementara permintaan terhadap Biosolar justru mengalami peningkatan.
“Ini bukti bahwa ketika harga berubah, preferensi konsumen langsung menyesuaikan. Mereka beralih ke yang lebih murah, dan itu memaksa produsen serta distributor beradaptasi,” ungkap Endrizal.
Ia menilai, pergeseran konsumsi ini akan mendorong terjadinya “seleksi alam” dalam dunia usaha. Sektor-sektor yang dinilai tidak lagi kompetitif akan ditinggalkan, sementara sektor yang mampu menunjukkan efisiensi lebih tinggi akan mengalami perkembangan.
“Tenaga kerja dan modal akan berpindah ke sektor yang lebih produktif. Dalam jangka panjang, ekonomi akan lebih sehat karena sumber daya dialokasikan secara optimal,” tandasnya.
Dampak Jangka Pendek dan Momentum Perbaikan Ekonomi
Khusus untuk Provinsi Sumatera Barat, yang struktur ekonominya mayoritas ditopang oleh sektor UMKM dan pertanian, Endrizal mengakui bahwa dampak jangka pendek dari kenaikan harga ini akan cukup terasa. Lonjakan harga BBM dan bahan baku seperti plastik berpotensi meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan.
“Dalam waktu dekat memang akan menekan. Tapi UMKM yang tidak terlalu bergantung pada input mahal justru akan muncul sebagai pemenang karena lebih kompetitif,” katanya.
Lebih lanjut, Endrizal menilai bahwa pengurangan subsidi dapat menjadi momentum penting untuk melakukan perbaikan struktur ekonomi. Ia mendorong agar kebijakan subsidi tidak lagi berbasis komoditas, melainkan dapat disalurkan secara langsung kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Biarkan harga mengikuti pasar, sementara negara memberikan bantuan langsung ke masyarakat miskin. Dengan data yang akurat, itu sangat mungkin dilakukan,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memastikan bahwa setiap kebijakan yang dijalankan dapat berjalan dengan tepat sasaran guna mencegah terjadinya gejolak yang berlebihan selama proses penyesuaian. Pemerintah daerah, menurutnya, sebaiknya lebih fokus pada pengawasan distribusi dan pencegahan penyelewengan, daripada melakukan intervensi terhadap harga.
Adaptasi Pelaku Usaha dan Kritik Kebijakan
Di sisi lain, Endrizal menekankan pentingnya pelaku usaha untuk mulai melakukan adaptasi. Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh meliputi peningkatan efisiensi operasional, pencarian bahan baku alternatif, hingga melakukan perubahan model bisnis.
“Jangan hanya mengeluh. Ini saatnya menghitung ulang strategi, apakah perlu efisiensi, diversifikasi, atau bahkan masuk ke sektor baru,” tegas Endrizal.
Ia juga melontarkan kritik terhadap sejumlah program pemerintah yang dinilai berpotensi membebani fiskal tanpa memberikan dampak produktif yang jelas. Selain itu, ia mengingatkan agar target pertumbuhan ekonomi tidak dicapai melalui penambahan utang yang berlebihan.
“Pertumbuhan tinggi bisa saja dikejar lewat utang, tapi itu hanya memindahkan beban ke masa depan. Lebih baik biarkan proses penyesuaian ini berjalan agar fondasi ekonomi lebih kuat,” pungkasnya.
Di akhir pernyataannya, Endrizal menegaskan bahwa fase penyesuaian harga yang sedang terjadi merupakan bagian integral dari proses menuju pencapaian ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Ini memang fase yang tidak nyaman. Akan ada sektor yang tumbang. Tapi pada akhirnya, yang tersisa adalah ekonomi yang lebih kompetitif, produktif, dan berkelanjutan,” tutupnya.
Ikuti Akses.co.id
