— Harga emas dunia dilaporkan menyentuh level terendah dalam lebih dari sepekan pada akhir perdagangan Kamis (23/4/2026) waktu setempat atau Jumat (24/4/2026) pagi WIB. Pelemahan ini dipicu oleh kekhawatiran inflasi yang berpotensi memperpanjang tren suku bunga tinggi, menyusul lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Di pasar spot, harga emas tercatat turun 0,9 persen menjadi 4.697,06 dollar AS per ons. Sebelumnya, pada sesi perdagangan yang sama, emas bahkan sempat jatuh lebih dari 1 persen ke posisi 4.663,69 dollar AS per ons, level terendah sejak 13 April 2026.

Sementara itu, harga emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Juni juga ditutup melemah 0,6 persen ke level 4.724 dollar AS per ons.

Ketegangan Geopolitik Picu Lonjakan Minyak

Pedagang logam independen, Tai Wong, mengemukakan bahwa meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu kekhawatiran di pasar. Kekhawatiran ini terutama berpusat pada potensi lonjakan harga minyak yang pada akhirnya menyeret aset-aset lainnya, termasuk emas.

“AS dan Iran memainkan versi kelam dari permainan Battleship, yang kembali memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata bisa runtuh kapan saja. Hal ini mendorong lonjakan tajam harga minyak mentah yang kemudian menekan aset lain, termasuk emas,” ujar Wong.

Wong menambahkan bahwa reli harga logam mulia yang sempat terjadi sebelumnya kini mulai mereda. “Harga emas yang sempat mendekati 4.900 dollar AS pada Jumat lalu kini tampaknya tinggal kenangan seiring meredanya reli logam,” imbuhnya.

Secara geopolitik, Iran dilaporkan meningkatkan kontrol atas Selat Hormuz dengan merilis video pasukan komandonya yang menyerbu kapal kargo besar. Insiden ini terjadi menyusul kegagalan pembicaraan damai yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Dampak Kenaikan Energi pada Suku Bunga dan Emas

Konflik yang melibatkan Iran turut mendorong harga minyak dunia. Minyak mentah Brent, misalnya, diperdagangkan di atas 100 dollar AS per barel pada perdagangan Kamis. Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan inflasi.

Peningkatan inflasi pada gilirannya dapat memperbesar peluang bank sentral untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) terhadap inflasi, suku bunga tinggi justru mengurangi daya tariknya. Hal ini dikarenakan logam mulia tidak memberikan imbal hasil kepada investor.

Sebuah survei yang dilakukan Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, kemungkinan akan menunda pemangkasan suku bunga setidaknya selama enam bulan ke depan.

Penguatan Dolar dan Imbal Hasil Obligasi Tekan Emas

Tekanan tambahan terhadap harga emas juga datang dari penguatan mata uang dollar Amerika Serikat. Penguatan dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi minat terhadap logam kuning tersebut.

Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga tercatat naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan. Kenaikan imbal hasil obligasi ini meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang emas, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil.

Logam Mulia Lain Ikut Melemah

Pergerakan pelemahan tidak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya juga dilaporkan mengalami penurunan harga.

  • Harga perak turun 2,7 persen menjadi 75,55 dollar AS per ons.
  • Platinum merosot 3,2 persen ke level 2.008,22 dollar AS.
  • Paladium anjlok 5 persen menjadi 1.465,23 dollar AS per ons.