Akses.co.id — BOGOR, KOMPAS.com – Sejumlah warga di Kabupaten dan Kota Bogor mengeluhkan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya untuk kendaraan bermesin diesel. Kenaikan signifikan yang mencapai belasan ribu rupiah per liter ini memaksa mereka mencari alternatif transportasi demi menekan pengeluaran.
Deni Jonel, seorang warga Cileungsi, Kabupaten Bogor, mengaku terkejut dengan harga Pertamina Dex yang kini dibanderol Rp 23.900 per liter. Sebelumnya, harga bahan bakar jenis ini berada di kisaran Rp 14.500 per liter.
“Kenaikan sekarang benar-benar sangat signifikan. Dari Rp 14.500 kalau enggak salah Pertadex, sekarang jadi Rp 23.900. Itu kan sangat signifikan ya, sebenarnya agak gempor,” ujar Deni kepada Kompas.com, Sabtu (25/4/2026).
Mobil SUV Diesel “Nganggur” di Garasi
Beban Deni semakin bertambah lantaran mobil SUV miliknya tidak lagi bisa menggunakan solar subsidi setelah adanya penghapusan akses barcode. Hal ini membuatnya terpaksa beralih ke bahan bakar nonsubsidi seperti Dexlite atau Pertadex yang harganya melambung tinggi.
Akibatnya, kendaraan roda empat kesayangannya kini lebih banyak menghabiskan waktu terparkir di garasi rumah. Deni berdalih, ini dilakukan demi efisiensi biaya operasional. Ia juga enggan menjual mobilnya saat ini karena khawatir harganya akan merosot tajam di tengah ketidakstabilan harga minyak.
“Jarang keluar, terparkir di rumah saja. Kalau dijual juga dalam keadaan harga minyak lagi enggak stabil begini harga pasti turun, tahan dulu saja sudah,” tuturnya.
Sebagai pertimbangan jangka panjang, Deni mulai melirik kendaraan listrik dengan harapan biaya operasionalnya bisa lebih hemat, meskipun ia menyadari waktu pengisian daya yang lebih lama.
Pindah ke Motor untuk Hemat Biaya
Kondisi serupa juga dirasakan oleh Billy Adhiyaksa, warga Kota Bogor yang merupakan pengguna mobil double cabin. Ia menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi ini terlalu mendadak dan memberatkan masyarakat.
Berbeda dengan Deni, Billy belum tertarik untuk beralih ke mobil listrik karena meragukan ketahanan baterainya dalam jangka panjang. Baginya, solusi paling praktis saat ini adalah membatasi penggunaan mobil dan beralih menggunakan sepeda motor untuk aktivitas sehari-hari.
“Mobil listrik kagak dulu. Paling benar sudah motoran saja. Irit, enggak macet, dan bisa menikmati pemandangan,” pungkas Billy.
Untuk sementara waktu, Billy hanya menyalakan mesin mobilnya di parkiran dan akan menggunakannya jika benar-benar mendesak.
Ikuti Akses.co.id
