JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi sejak pertengahan April 2026 memaksa banyak pemilik kendaraan untuk mencari cara menekan biaya operasional, termasuk opsi menurunkan kelas bahan bakar. Namun, bagi pengguna mobil bermesin turbo, langkah ini berpotensi menimbulkan risiko serius.
Harga Pertamax Turbo, misalnya, melonjak drastis dari Rp 13.100 menjadi sekitar Rp 19.400 per liter. Situasi ini memicu kekhawatiran, terutama bagi mereka yang mengandalkan teknologi turbocharger dan mungkin tergoda beralih ke BBM beroktan lebih rendah demi efisiensi.
Mesin Turbo Lebih Rentan Terhadap Knocking
Pakar otomotif dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menjelaskan bahwa mesin turbo memiliki karakteristik kerja yang berbeda secara fundamental dibandingkan mesin tanpa turbo (naturally aspirated).
“Mesin turbo bekerja dengan tekanan dan temperatur yang lebih tinggi, sehingga sangat rentan terhadap gejala knocking jika menggunakan bahan bakar dengan oktan yang tidak sesuai,” ujar Jayan kepada Kompas.com pada Selasa (21/4/2026).
Ia merinci, knocking atau detonasi dini adalah fenomena terbakarnya campuran udara dan bahan bakar sebelum waktu yang seharusnya. Peningkatan tekanan udara masuk pada mesin turbo membuat kondisi ini lebih mudah terjadi.
Konsekuensi Penggunaan BBM Oktan Rendah
Meskipun sistem elektronik pada mobil modern dapat berusaha mengoreksi gejala knocking dengan memundurkan waktu pengapian, upaya ini bukannya tanpa dampak negatif.
“Penyesuaian ini bukan tanpa konsekuensi. Tenaga mesin bisa menurun, respons akselerasi menjadi lebih lambat, dan efisiensi bahan bakar justru memburuk,” terang Jayan.
Lebih lanjut, penggunaan BBM beroktan lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan komponen mesin. Tekanan pembakaran yang tidak stabil berpotensi merusak piston, ring piston, katup, bahkan menyebabkan kerusakan permanen.
Literatur teknik, termasuk jurnal Applied Thermal Engineering, turut menggarisbawahi kecenderungan mesin turbo terhadap knocking akibat peningkatan tekanan udara masuk. Oleh karena itu, penggunaan bahan bakar beroktan tinggi menjadi krusial untuk menjaga stabilitas proses pembakaran.
Jayan menekankan bahwa kepatuhan terhadap rekomendasi pabrikan adalah bagian integral dari perawatan mesin. Menghemat biaya BBM dengan cara yang keliru, khususnya pada mesin turbo, justru berisiko menimbulkan kerugian finansial yang lebih besar di kemudian hari akibat biaya perbaikan.






