Megapolitan

Guru Honorer Jakarta Curhat Gaji Tak Cukup, Terpaksa Ambil Kerja Sampingan

Advertisement

JAKARTA, Indonesia — Perjuangan Abdul Azis (45), seorang guru honorer di Penjaringan, Jakarta Utara, menggambarkan realitas pahit yang dihadapi banyak pengajar di ibu kota. Dengan gaji bulanan sebesar Rp 2 juta, Azis harus berjuang keras memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk dua anaknya, di tengah tingginya biaya hidup di Jakarta.

Selama sembilan tahun mengabdi di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Islam 1, Kamal Muara, Azis mengaku penghasilannya masih jauh dari kata layak. “Kalau untuk guru honorer ya memang kalau dibilang miris ya miris, karena memang untuk kebutuhan hidup sehari-hari saja mungkin barangkali kurang. Minim bangetlah untuk pemasukan gitu,” ujar Azis saat ditemui di sekolahnya, Rabu (22/4/2026).

Gaji Jauh di Bawah UMR

Azis, lulusan Sarjana Pendidikan Agama Islam, memulai kariernya sebagai guru honorer pada tahun 2017 dengan upah hanya Rp 600.000 per bulan. Seiring waktu, gajinya mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 2 juta saat ini. Namun, nominal tersebut masih sangat jauh dari Upah Minimum Regional (UMR) Jakarta yang berkisar Rp 5,7 juta.

Kondisi ini semakin berat mengingat ia harus menanggung kebutuhan anak keduanya yang baru berusia tujuh bulan. “Mengingat kebutuhan di Jakarta ya, itu kurang, sangat-sangat kurang. Jangankan untuk kebutuhan yang sifatnya tambahan, yang sifatnya untuk kebutuhan sehari-hari saja kurang. Seperti makanan pokok ya seperti beras, minyak sayur. Apalagi sekarang ditambah dikaruniai seorang anak yang baru usia 7 bulan. Susunya, belum pampers-nya, dan lain sebagainya,” jelas Azis.

Kendaraan Hilang, Bersepeda Sejauh Enam Kilometer

Kesulitan ekonomi yang dihadapi Azis semakin bertambah setelah sepeda motor kesayangannya hilang pada November 2025. Tanpa dana untuk membeli kendaraan baru, Azis terpaksa menempuh perjalanan sejauh enam kilometer dari rumahnya di Tegal Alur, Jakarta Barat, menuju sekolah dengan menggunakan sepeda lipat.

Perjalanan ini penuh risiko, mengingat ia harus melewati jalan raya yang sering dilintasi truk-truk kontainer besar. “Kadang ya harus hati-hati banget, apalagi kalau lagi ramai,” katanya.

Mengajar Ngaji Keliling Demi Sambung Hidup

Untuk menutupi kekurangan finansial, Azis tidak hanya mengandalkan gaji sebagai guru. Sesaat setelah jam mengajar di sekolah usai pukul 13.30 WIB, ia beralih profesi menjadi pelatih seni hadroh dan guru ngaji keliling di berbagai tempat.

Advertisement

“Untuk menutupi kekurangan-kekurangan, kadang saya ikut kegiatan yang bisa menghasilkan uang. Seperti melatih Hadroh, itu ada yang dikasih Rp 50.000 sekali pertemuan, kadang juga bisa lebih. Ya kalau dihitung, mungkin barangkali lebih besar pengeluaran daripada pemasukan kali ya,” tuturnya.

Meski harus bekerja keras hingga malam, bahkan di akhir pekan, kebutuhan keluarganya kerap masih belum terpenuhi sepenuhnya.

Harapan untuk Kesejahteraan Guru

Sebagai pengajar berbagai mata pelajaran, mulai dari Akidah Akhlak, Fikih, Tahfidz, hingga Seni Budaya, Azis merasa beban kerja dan tanggung jawab moralnya belum diimbangi dengan kesejahteraan yang memadai.

Ia pun menyampaikan harapan tulus kepada Presiden terpilih Prabowo Subianto dan para pemangku kebijakan di pemerintahan. “Harapan kami sebagai guru pada pemerintah, khususnya untuk Bapak Presiden Prabowo dan kementerian terkait, harapan kami agar semua guru yang ada di negara kita ini tolong untuk disejahterakan, diprioritaskan,” tegas Azis.

Azis berharap pemerintah dapat secara langsung melihat kondisi para guru honorer di lapangan yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. “Bapak sudah lihat nasib para guru honorer yang ada di Indonesia kekurangan ekonomi, bahkan mungkin barangkali untuk kebutuhan sehari-hari saja harus gali lubang tutup lubang. Kami mohon pemerintah bisa melihat nasib guru yang ada di Indonesia ini,” pungkas Azis.

Advertisement