Regional

Guru di Purworejo Ubah Lahan Sempit Jadi Produktif: Hasil Kacang Panjang Tutup Biaya Cabai

Advertisement

PURWOREJO, KOMPAS.com — Di tengah keterbatasan lahan pertanian, seorang guru di Purworejo membuktikan bahwa area sempit di samping rumah pun dapat diubah menjadi sumber penghasilan yang signifikan. Hadi Suwignyo, guru di MA An-Nawawi Berjan, Kabupaten Purworejo, berhasil mengoptimalkan lahan seluas 250 meter persegi menjadi kebun produktif yang ditanami cabai merah keriting dan kacang panjang.

Lahan yang mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang tersebut, di tangan Hadi, mampu menghasilkan panen yang menjanjikan. Ia memilih jenis cabai merah keriting IGGO Tavi F1, benih hibrida unggul yang dikenal memiliki ketahanan terhadap virus gemini dan penyakit layu.

“Sekarang yang paling populer itu cabai merah keriting jenis IGGO Tavi. Keunggulannya buahnya besar, panjang, dan tahan penyakit,” ujar Hadi saat ditemui di lahannya pada Kamis (23/4/2026).

Menurut Hadi, jenis cabai ini cukup fleksibel dalam perawatannya. Tanaman tetap dapat tumbuh optimal meskipun diberi pupuk dalam jumlah terbatas. Di satu petak lahannya, Hadi menanam sekitar 200 batang cabai merah keriting.

Strategi Tanaman Tumpang Sari untuk Arus Kas Stabil

Hadi tidak hanya mengandalkan satu jenis tanaman. Di sisi lain lahan yang sama, ia juga menanam kacang panjang dengan jumlah yang hampir setara. Strategi memadukan dua komoditas dengan siklus panen yang berbeda ini dipilih Hadi untuk menjaga stabilitas arus kas.

“Kacang panjang itu 40 hari sudah bisa panen. Sementara cabai butuh 80 sampai 90 hari. Jadi hasil kacang bisa untuk menutup biaya operasional cabai,” jelasnya.

Dengan pola tanam ini, Hadi tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pemasukan. Hasil panen kacang panjang berfungsi sebagai “penyangga” ekonomi selama masa tunggu panen cabai yang lebih panjang.

Advertisement

Urban Farming Sebagai Contoh dan Solusi

Keputusan Hadi menekuni urban farming bukan semata-mata untuk mencari keuntungan pribadi. Sebagai seorang pendidik, ia ingin memberikan contoh nyata kepada masyarakat sekitar bahwa bertani tidak harus memiliki lahan yang luas.

“Indonesia ini alamnya subur. Dengan lahan sedikit saja kalau diolah dengan baik, hasilnya bisa membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Untuk pemasaran, Hadi mengandalkan pengepul di tingkat desa serta pasar tradisional di wilayah Purworejo. Ia juga melayani pesanan rutin dari warung makan yang membutuhkan pasokan cabai.

Hadi menilai, urban farming dapat menjadi solusi efektif di tengah menyusutnya lahan pertanian. Ia menekankan pentingnya kemauan dan ketelatenan dalam mengelola lahan, sekecil apapun itu.

“Yang penting itu kemauan dan ketelatenan. Lahan kecil pun bisa menghasilkan kalau dikelola dengan baik,” ujarnya.

Advertisement