Regional

Gunung Lewotobi Meletus Lagi, Kolom Abu Capai 1.800 Meter

Advertisement

FLORES TIMUR, KOMPAS.com — Gunung Api Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik signifikan. Pada Kamis (23/4/2026) pagi, gunung ini dilaporkan mengalami erupsi, melontarkan kolom abu hingga ketinggian 1.800 meter di atas puncak.

Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, Eman Bere, mengonfirmasi kejadian tersebut. “Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat daya,” ujar Eman.

Letusan pertama tercatat pada pukul 07.21 Wita. Kolom abu yang dihasilkan mencapai ketinggian sekitar 1.800 meter di atas puncak, atau 3.384 meter di atas permukaan laut. Peristiwa ini terekam dalam seismogram dengan amplitudo maksimum 22,2 mm dan berlangsung selama kurang lebih 1 menit 43 detik.

Tidak berselang lama, gunung yang sama kembali meletus pada pukul 09.37 Wita. Kali ini, kolom abu yang terpantau memiliki ketinggian mencapai 800 meter di atas puncak. Kolom abu tersebut berwarna kelabu dengan intensitas tebal, mengarah ke utara dan timur laut.

Aktivitas Vulkanik Meningkat dalam Periode Pengamatan

Berdasarkan data seismogram, letusan kedua pada pagi hari itu memiliki amplitudo maksimum 3,7 mm dan durasi sekitar 1 menit 21 detik. Peningkatan aktivitas ini sejalan dengan catatan pada hari sebelumnya.

Advertisement

Pada periode pengamatan Rabu (22/4/2026), tercatat sembilan kali letusan yang terjadi. Tinggi kolom abu pada erupsi-erupsi tersebut bervariasi antara 300 hingga 1.700 meter.

Secara visual, puncak Gunung Lewotobi Laki-laki teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah yang keluar tampak berwarna putih dengan intensitas sedang hingga tebal, membubung setinggi 50 hingga 200 meter dari kawah.

Saat ini, Gunung Lewotobi Laki-laki berada dalam status Level II (Waspada). Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat gunung, mengingat potensi bahaya yang masih ada.

Advertisement