— Keluarga besar Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Ranting 4 Yonif 114 Cabang XIII PD Iskandar Muda di Aceh kini diselimuti duka mendalam. Yulia Putri, salah satu anggota organisasi tersebut, harus menerima kenyataan pahit kepergian suaminya, Praka Rico Pramudia, yang gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia bersama UNIFIL di Lebanon.

Praka Rico, prajurit TNI Angkatan Darat yang tergabung dalam Satuan Tugas Kontingen Garuda (Konga), mengembuskan napas terakhir pada Jumat (24/4/2026). Ia meninggal dunia di Rumah Sakit St. George, Beirut, setelah berjuang melawan luka berat yang dideritanya selama hampir satu bulan.

Perpisahan yang Tak Terduga di Aceh

Sebagai istri seorang prajurit yang bertugas di Yonif 114, Aceh, Yulia Putri dikenal aktif dalam kegiatan Persit. Kepergian Rico meninggalkan luka yang dalam, terutama bagi putri mereka yang masih balita. Pasangan yang menikah pada 27 November 2019 ini terpaksa dipisahkan oleh tugas negara yang mulia namun penuh risiko.

Saat ini, Yulia bersama anaknya dilaporkan sedang dalam perjalanan dari Kabupaten Batu Bara menuju rumah duka di Dusun VII Sukajadi, Desa Dolok Manampang, Serdang Bedagai, Sumatra Utara. Kementerian Pertahanan melalui pernyataan resminya pada Sabtu (25/4/2026) menyampaikan duka cita atas gugurnya Praka Rico Pramudia dalam pelaksanaan misi perdamaian dunia bersama UNIFIL di Lebanon Selatan. “Almarhum wafat setelah menjalani perawatan akibat luka yang dialami dalam penugasan,” demikian pernyataan tersebut.

Kronologi Insiden Adchit Al Qusayr

Berdasarkan data yang dihimpun, Praka Rico (31) menjadi korban serangan proyektil yang menghantam pos UNIFIL di Adchit Al Qusayr pada malam 29 Maret 2026. Dalam insiden yang disebut UNIFIL melibatkan serangan dari pihak Israel, Rico mengalami luka paling serius di antara rekan-rekannya.

Ia sempat dilarikan menggunakan helikopter ke Beirut untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, setelah berjuang selama 26 hari, prajurit penjaga perdamaian itu dinyatakan meninggal dunia. Rico menyusul rekannya, Praka Farizal Rhomadhon, yang telah lebih dulu gugur dalam peristiwa yang sama.

Harapan Kepulangan yang Pupus

Ironisnya, Praka Rico sebenarnya dijadwalkan akan mengakhiri masa tugasnya dan kembali ke tanah air pada bulan Mei mendatang. Hal ini diungkapkan oleh teman masa kecil almarhum, Suri.

“Sudah ada setahun dia di sana. Bulan lima ini rencananya mau pulang kata keluarganya. Terakhir melihat dia waktu mau berangkat, dia datang ke sini,” kenang Suri dengan nada sedih.

Kini, bukan kepulangan penuh tawa yang dinanti keluarga, melainkan peti jenazah yang dibalut bendera Merah Putih. Di rumah duka, tenda-tenda telah berdiri tegak. Kakak kandung almarhum, Putri alias Uteh, serta Lilis, tampak terpukul dan belum bersedia memberikan keterangan lebih lanjut kepada media.

Penghormatan Terakhir di TMP Tebing Tinggi

Kapendam Iskandar Muda, Kolonel Inf Teuku Mustafa Kamal, mengonfirmasi bahwa jenazah Praka Rico Pramudia saat ini dalam proses pemulangan dari Lebanon. Setibanya di Indonesia, jenazah akan disemayamkan di rumah masa kecilnya sebelum dimakamkan secara militer.

Detail Pemakaman Lokasi/Pelaksana
Lokasi Persemayaman Dusun VII Sukajadi, Desa Dolok Manampang, Serdang Bedagai.
Lokasi Pemakaman Taman Makam Pahlawan (TMP) Tebing Tinggi.
Pelaksana Upacara Dandim 0204/Deli Serdang, Letkol Arh Agung.

Gugurnya Praka Rico menambah daftar panjang kehilangan bagi Indonesia dalam misi penjaga perdamaian. Dalam sebulan terakhir, tercatat empat prajurit TNI gugur di Lebanon Selatan, termasuk Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan yang wafat dalam serangan konvoi pada 30 Maret lalu.