Akses.co.id — SAMARINDA, Kompas.com – Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, angkat bicara mengenai isu pembatasan peliputan yang sempat dikeluhkan oleh awak media usai aksi demonstrasi. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendekatan komunikasi antara dirinya dan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) menjadi akar persoalan tersebut.
Rudy mengungkapkan, sebagian pihak di Pemprov lebih memilih agar komunikasi publik dilakukan melalui juru bicara (jubir), bukan secara langsung oleh gubernur. “Kenapa teman-teman Pemprov membatasi? Karena mereka maunya kalau saya ngomong itu lewat jubir,” ujar Rudy, Jumat (24/4/2026).
Namun, gubernur Kaltim ini menegaskan preferensinya untuk berkomunikasi langsung dengan wartawan, tanpa perantara. “Saya tanya, Anda senang lewat jubir atau langsung? Mau langsung kan? Nah, mereka enggak mau,” katanya.
Ia menambahkan, keinginan untuk menggunakan jubir didasari oleh pertimbangan agar setiap pernyataan yang disampaikan ke publik dapat dikontrol dan diklarifikasi terlebih dahulu. “Kalau belum jelas, tidak bisa dilakukan klarifikasi. Makanya mintanya lewat jubir,” jelas Rudy.
Peran Aktif Media Diharapkan
Meskipun demikian, Rudy justru mendorong media untuk berperan aktif sebagai kontrol sosial dan “penyaring” informasi, terutama jika ada pernyataannya yang dinilai kurang tepat. “Kalau ada yang keliru, tolong diperbaiki. Penyampaiannya yang kurang pas, tolong diperbaiki,” pintanya.
Dalam kesempatan yang sama, Rudy turut menyoroti kecenderungan pemberitaan yang menurutnya lebih banyak mengangkat isu negatif dibandingkan capaian pemerintah daerah. Ia mencontohkan sejumlah indikator pembangunan yang menurutnya jarang dipublikasikan, seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kaltim yang kini berada di peringkat empat nasional.
“Tidak pernah di-publish bahwa kinerja Pemprov Kaltim itu nomor empat secara nasional. Setelah DKI, Yogyakarta, dan Kepri,” ungkapnya.
Rudy berharap media dapat menyeimbangkan pemberitaan dengan mengangkat sisi positif yang dapat memperkuat citra daerah, terlebih dalam konteks Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). “Kita harus jaga kredibilitas Kalimantan Timur. Jangan gara-gara situasi negatif terus yang disampaikan, nanti merugikan kita semua,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya penyebarluasan informasi positif untuk memberikan dampak konstruktif bagi masyarakat. “Kalau mau viral, yang positif. Misalnya, hotel ini 20 tahun tidak hidup, sekarang sudah berfungsi. Jembatan yang 13 tahun tidak beroperasi, sekarang sudah terkoneksi. Itu yang harus di-publish,” katanya.
Fokus pada Kerja Nyata
Gaya kepemimpinan Rudy Mas’ud digambarkan lebih menitikberatkan pada kerja nyata dibandingkan komunikasi verbal. “Saya ke sini kerja saja, kerja dan kerja. Kalau banyak ngomong, itu tidak cocok jadi eksekutif, cocoknya jadi legislatif,” ujarnya.
Sebagai kepala daerah, ia menyatakan lebih fokus pada eksekusi program dibandingkan membangun narasi di ruang publik. “Saya jarang ngomong. Saya lebih banyak eksekusi,” tutup Rudy.
Ikuti Akses.co.id
