JAKARTA, KOMPAS.com – Pernyataan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang mengklaim nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya telah memantik diskusi di kalangan ekonom. Sebagian menilai rupiah memang tengah terdepresiasi secara riil, namun sebagian lain berpendapat bahwa tekanan pasar yang kuat membuat klaim tersebut belum sepenuhnya relevan.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, berpendapat bahwa rupiah memang berpotensi berada di bawah nilai wajarnya apabila merujuk pada indikator Real Effective Exchange Rate (REER). Indikator ini mengukur nilai tukar riil terhadap mata uang mitra dagang utama.
“Menurut saya, pernyataan bahwa rupiah sedang undervalued itu ada dasarnya jika dilihat dari nilai tukar riil efektif (REER), bukan hanya dari angka rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di layar,” ujar Josua kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Data REER menunjukkan tren penurunan sejak 2025. Indeks tercatat di level 94,1 pada Desember 2025, kemudian turun menjadi 92,7 pada Januari 2026, dan kembali melemah ke 91,2 pada Februari 2026. Posisi ini berada jauh di bawah titik acuan 100 yang umumnya digunakan sebagai indikator nilai wajar.
Pergerakan REER ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar nominal. Rupiah yang berada di kisaran Rp 16.699 per dollar AS pada akhir 2025, terus tertekan seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada perdagangan terbaru, rupiah bahkan menyentuh Rp 17.300 per dollar AS.
Josua melihat kondisi ini sebagai indikasi undervaluation dalam ukuran riil. Ia menyoroti tekanan global sebagai faktor utama, ditambah dengan permintaan dolar AS yang tinggi di dalam negeri dan persepsi risiko terhadap aset negara berkembang yang ikut menekan rupiah.
“Jadi dalam ukuran riil rupiah memang terlihat undervalued (REER di bawah 100). Namun murah tidak berarti otomatis akan segera balik menguat, karena mata uang bisa tetap murah cukup lama kalau premi risiko masih tinggi dan pasar masih gelisah,” ungkapnya.
Pandangan Berbeda dari Ekonom Maybank
Pandangan berbeda datang dari Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Ia menilai rupiah belum dapat dikategorikan undervalued dalam kondisi saat ini.
Myrdal melihat tekanan utama berasal dari tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik. Kebutuhan valas meningkat untuk aliran dana jangka pendek di pasar keuangan, serta pembayaran dividen oleh pelaku usaha yang juga turut mendorong permintaan.
Selain itu, ia menyoroti kondisi neraca perdagangan yang mulai tertekan. Kenaikan harga minyak global mendorong impor energi, yang berpotensi menyempitkan surplus perdagangan.
“Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue,” ucap Myrdal kepada Kompas.com, Kamis.
Ia menegaskan, kondisi undervalued biasanya ditopang oleh surplus perdagangan yang kuat, yang menjaga neraca transaksi berjalan tetap sehat. Kondisi ini belum terlihat saat ini.
Tekanan dari arus keluar modal juga masih tinggi, sehingga membuat penilaian undervaluation menjadi kurang relevan dalam jangka pendek.
“Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplus-nya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue,” jelasnya.
“Kecuali memang cadangan devisa kita mau dikerahkan semuanya hanya untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. Tapi secara fundamentalnya kita lihat permintaan valas sekarang sedang tinggi-tingginya,” sambungnya.
Klaim Gubernur BI
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai rupiah berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia merujuk pada kinerja ekonomi domestik yang dinilai tetap solid.
“Kami tegaskan bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini telah undervalued dibandingkan dengan fundamental,” ujarnya saat konferensi pers, Rabu (22/4/2026).
Perry mengakui tekanan global masih kuat. Konflik di Iran mendorong kenaikan harga minyak, dolar AS menguat, dan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut naik. Faktor-faktor ini memengaruhi aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa penilaian nilai tukar tidak hanya bergantung pada satu indikator. REER memberikan gambaran posisi riil, sementara kondisi pasar memberikan tekanan jangka pendek. Kedua pendekatan ini sering menghasilkan kesimpulan yang berbeda dalam periode yang sama.






