Akses.co.id — Indonesia dihadapkan pada potensi ancaman “Godzilla El Nino” yang diperkirakan melanda pada 2026. Fenomena cuaca ekstrem ini, yang diprediksi akan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif, berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan skala yang mengkhawatirkan, serta mengancam kelestarian iklim dan keanekaragaman hayati.
CEO Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (Yiari), Karmele Llano Sanchez, melaporkan kondisi di Ketapang, Kalimantan Barat, yang telah dilanda kekeringan sejak Februari 2026. Situasi ini diperparah dengan terjadinya karhutla berskala besar, termasuk di kawasan restorasi Yiari di Desa Pematang Gadung.
Ancaman Berlapis di Lanskap Rentan
Menurut Karmele, lanskap hutan tropis di Kalimantan menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Kombinasi antara El Nino, perubahan tata guna lahan, degradasi hutan, dan krisis iklim menciptakan efek yang berbahaya. “Hutan yang telah dibuka, dikonversi, atau terdampak aktivitas ekstraktif menjadi jauh lebih rentan terbakar,” ujar Karmele dalam keterangan persnya, Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, risiko kebakaran meningkat berlipat ganda pada kawasan yang kehilangan tutupan alami dan pada bentang alam gambut yang mengering. “Risiko meningkat berkali lipat pada kawasan yang telah kehilangan tutupan alami dan pada bentang alam gambut yang mengering,” tegasnya.
Dampak karhutla tidak berhenti pada hilangnya vegetasi. Fenomena ini juga memperburuk pemanasan global dan berpotensi menciptakan krisis iklim yang lebih ekstrem. “Efek karhutla tidak berhenti pada hilangnya vegetasi tetapi juga memperburuk pemanasan global dan berpotensi menciptakan krisis yang lebih ekstrem,” jelas Karmele.
Kondisi Kering Mempercepat Penyebaran Api
Fenomena kebakaran yang terjadi di hutan Desa Pematang Gadung pada Februari dan Maret lalu menjadi bukti nyata. Dalam kondisi kering dan banyaknya bahan bakar, pembakaran lahan untuk keperluan pertanian dan perkebunan dengan cepat menjalar menjadi kebakaran besar.
“Kami melihat tanda-tanda bahaya sudah terlihat jauh sebelum puncak musim kemarau datang dan ini sangat mengkhawatirkan,” ungkap Karmele. “Kondisi sudah jauh lebih kering dari biasanya, padahal musim kemarau belum benar-benar mencapai puncaknya.”
Ketika hujan berhenti dalam jangka waktu yang lebih lama, vegetasi akan mengering, sumber air menyusut, dan bentang alam yang terdegradasi menjadi sangat mudah terbakar. Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam biodiversitas, iklim global, dan kesehatan manusia.
Dampak Ekologis dan Kesehatan
“Saat hutan terbakar, kita kehilangan habitat dan mendorong satwa liar semakin dekat ke ambang kepunahan,” papar Karmele. “Orangutan, beruang madu, macan dahan, hingga berbagai spesies lain kehilangan ruang hidup, sumber pakan, dan perlindungan.”
Asap dari kebakaran hutan juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. “Di saat yang sama, asap kebakaran mengancam kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia,” imbuhnya.
Pelajaran dari Masa Lalu
Pengalaman masa lalu menjadi pengingat akan besarnya risiko jika ancaman karhutla tidak ditangani sejak dini. Peristiwa El Nino pada 2015-2016, salah satu yang terkuat dalam sejarah, memicu lonjakan kebakaran hutan berskala besar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang menyebabkan krisis kabut asap dengan dampak luas pada lingkungan dan kesehatan.
Pada tahun 2015, Yiari tercatat harus menyelamatkan sedikitnya 44 orangutan akibat kebakaran hutan dan lahan.
Upaya Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Meskipun dalam kondisi ekstrem tidak semua kebakaran dapat dicegah sepenuhnya, persiapan yang matang, pemantauan dini, pelibatan masyarakat, serta respons cepat di titik rawan dapat memperlambat penyebaran api dan meminimalkan kerusakan.
“Dalam kondisi ekstrem, tidak semua kebakaran bisa dicegah sepenuhnya. Namun dengan persiapan yang matang, pemantauan dini, pelibatan masyarakat, serta respons cepat di titik rawan, kita masih bisa memperlambat penyebaran api dan meminimalkan kerusakan,” kata Karmele.
Saat ini, Yiari telah memulai langkah-langkah mitigasi, termasuk patroli rutin, pemantauan titik rawan, dan peningkatan kesiapsiagaan kebakaran. Partisipasi aktif masyarakat juga terus ditingkatkan untuk mengantisipasi karhutla di area konservasi.
Ikuti Akses.co.id
