Akses.co.id — Amerika Serikat mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah selama tiga minggu, menyusul pertemuan antara perwakilan kedua negara di Gedung Putih. Presiden Donald Trump menegaskan komitmen AS untuk membantu Lebanon melindungi diri dari ancaman Hizbullah.
Kesepakatan perpanjangan gencatan senjata ini dicapai setelah pembicaraan yang berlangsung pada Kamis (23/4/2026). Trump menggambarkan pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon untuk AS berjalan dengan sangat baik, meskipun ia mengakui perlunya mempertimbangkan posisi Hizbullah yang menentang negosiasi tersebut. Sejak gencatan senjata awal berlaku pada Jumat (17/4/2026), dilaporkan terjadi sejumlah pelanggaran dari kedua belah pihak.
Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantu negara tersebut melindungi diri dari Hizbullah. “Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Lebanon untuk membantunya melindungi diri dari Hizbullah,” tulis Trump, seperti dilansir dari AP News, Jumat (24/4/2026). Ia juga mengungkapkan harapannya untuk dapat bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Washington dalam beberapa minggu mendatang.
Dalam pertemuan yang turut dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Trump menekankan hak Israel untuk membela diri jika menjadi sasaran serangan. Duta Besar Israel, Yechiel Leiter, menyatakan harapannya agar perdamaian antara Israel dan Lebanon dapat segera terwujud di bawah kepemimpinan AS. Sementara itu, Duta Besar Lebanon, Nada Hamadeh Moawad, menyampaikan terima kasih atas upaya AS dan menyitir slogan Trump, “Make America Great Again,” dengan harapan dapat menjadikan Lebanon hebat kembali dengan dukungan tersebut.
Lebanon Mendesak Negosiasi yang Lebih Luas
Presiden Lebanon Joseph Aoun sebelumnya telah menyampaikan bahwa perwakilan Lebanon akan mendesak penghentian penghancuran rumah-rumah warga oleh Israel di desa dan kota-kota yang diduduki sejak perang terbaru pecah pada 2 Maret 2026. Kantor kepresidenan Lebanon merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa persiapan sedang dilakukan untuk negosiasi yang lebih luas.
Tujuan dari negosiasi tersebut, menurut Aoun, adalah untuk menghentikan total serangan Israel, penarikan pasukan Israel dari Lebanon, pembebasan tahanan Lebanon yang ditahan di Israel, penempatan pasukan Lebanon di sepanjang perbatasan, dan dimulainya proses rekonstruksi.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyerukan kerja sama Lebanon dalam melucuti senjata Hizbullah. Saar menyatakan bahwa Israel tidak memiliki perselisihan serius dengan Lebanon, dan sengketa perbatasan kecil yang ada dapat diselesaikan. Ia bahkan menyebut Lebanon sebagai negara gagal, dengan Hizbullah sebagai satu-satunya hambatan bagi perdamaian dan normalisasi hubungan kedua negara. Saar menambahkan bahwa Lebanon memiliki potensi masa depan yang berdaulat dan merdeka dari pengaruh Iran.
Serangan Israel Tewaskan Jurnalis Lebanon
Di tengah upaya gencatan senjata, serangan Israel pada Rabu (22/4/2026) dilaporkan menewaskan Amal Khalil, seorang jurnalis Lebanon yang sedang meliput di wilayah selatan. Pejabat kesehatan Lebanon mengklaim militer Israel menembaki ambulans yang datang, menghalangi upaya penyelamatan. Jenazah Khalil ditemukan dari reruntuhan bangunan.
Militer Israel membantah sengaja menargetkan jurnalis atau petugas penyelamat. Insiden ini memicu kemarahan luas di Lebanon. Wakil Perdana Menteri Lebanon Tarek Mitri menyatakan pemerintah sedang menyusun laporan mengenai dugaan kejahatan perang oleh Israel dan membahas kemungkinan bergabung dengan Mahkamah Pidana Internasional.
Konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.300 orang di Lebanon, termasuk ratusan wanita dan anak-anak, serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Kesepakatan dengan Iran
Presiden Trump juga menyatakan tidak berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik dengan Iran. “Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak. Waktu terus berjalan!” tulis Trump di media sosial, seperti dikutip dari Al Jazeera, Jumat (24/4/2026).
Situasi di Timur Tengah semakin meningkat dengan kedatangan kapal induk ketiga AS, USS George HW Bush, yang bergabung dengan USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln. Trump juga memerintahkan penembakan terhadap kapal Iran yang memasang ranjau laut di Selat Hormuz, seiring dengan pengepungan angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pejabat Iran menyatakan pembicaraan tidak akan dilanjutkan sebelum blokade dicabut.
Ikuti Akses.co.id
