Akses.co.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah selama tiga pekan. Kesepakatan ini dicapai setelah negosiasi yang digelar di Gedung Putih pada Kamis (23/4/2026), yang digambarkan Trump berjalan dengan baik meski sempat mempertimbangkan posisi Hizbullah.
Namun, Hizbullah sendiri menolak perundingan tersebut. Sejak gencatan senjata awal berlaku pada Jumat (17/4/2026), tercatat sejumlah pelanggaran telah terjadi dari kedua belah pihak.
Kondisi ini memicu desakan dari pihak Lebanon agar pasukan Israel segera menarik diri dari wilayah mereka. Presiden Lebanon Joseph Aoun, sehari sebelum pengumuman perpanjangan gencatan senjata, menyatakan bahwa dalam pembicaraan di AS, perwakilannya akan menuntut penghentian penghancuran rumah-rumah warga di desa dan kota yang diduduki Israel.
Dalam sebuah rilis resmi, Aoun menjelaskan bahwa persiapan tengah dilakukan untuk negosiasi yang lebih luas. Tujuannya adalah menghentikan serangan Israel secara total, penarikan pasukan Israel dari Lebanon, pembebasan tahanan Lebanon yang berada di Israel, penempatan pasukan Lebanon di sepanjang perbatasan, serta dimulainya proses rekonstruksi.
Menanggapi hal ini, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengajak Lebanon untuk bekerja sama dalam melucuti senjata Hizbullah. “Kami tidak memiliki perselisihan serius dengan Lebanon. Ada beberapa sengketa perbatasan kecil yang dapat diselesaikan,” ujar Saar.
Insiden Tewasnya Jurnalis Lebanon
Di tengah upaya gencatan senjata, serangan Israel pada Rabu (22/4/2026) justru merenggut nyawa Amal Khalil, seorang jurnalis terkemuka Lebanon yang sedang meliput di wilayah selatan. Pejabat kesehatan Lebanon melaporkan bahwa militer Israel menembaki ambulans yang hendak menolong, sehingga menghalangi tim penyelamat mencapai lokasi kejadian. Jenazah Khalil ditemukan dari reruntuhan bangunan beberapa jam kemudian.
Militer Israel membantah telah sengaja menargetkan jurnalis atau petugas penyelamat. Namun, insiden ini memicu kemarahan luas di Lebanon. Pasca rapat kabinet pada Kamis (23/4/2026), Wakil Perdana Menteri Lebanon Tarek Mitri menyatakan pemerintah sedang menyusun laporan mengenai dugaan kejahatan perang oleh Israel dan mempertimbangkan untuk bergabung dengan Mahkamah Pidana Internasional.
Konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah ini dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.300 orang di Lebanon, termasuk ratusan wanita dan anak-anak, serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi.
Kesepakatan dengan Iran
Di sisi lain, Presiden Trump juga menyatakan tidak merasa tertekan untuk mengakhiri ketegangan dengan Iran. “Saya punya banyak waktu, tetapi Iran tidak. Waktu terus berjalan!” tulis Trump di media sosial, seperti dilansir dari Al Jazeera pada Jumat (24/4/2026).
Peningkatan kekuatan angkatan laut AS di Timur Tengah terlihat jelas dengan kedatangan kapal induk ketiga, USS George HW Bush, yang bergabung dengan USS Gerald R Ford dan USS Abraham Lincoln. Trump juga telah mengeluarkan perintah untuk menembak dan membunuh setiap kapal Iran yang memasang ranjau laut di Selat Hormuz, seiring dengan berlanjutnya blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Para pejabat Teheran, melalui pernyataan mereka, menegaskan bahwa pembicaraan tidak akan dilanjutkan sebelum blokade tersebut dicabut.
Ikuti Akses.co.id
