— Jakarta – Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mentransformasi cara generasi muda, khususnya Gen Z, berinteraksi dengan mesin pencari. Google mencatat, kelompok usia ini kini menjadi pengguna paling aktif, mendorong pergeseran fungsi mesin pencari dari sekadar alat pencari informasi menjadi mitra cerdas yang interaktif.

Vice President Google Southeast Asia and South Asia Frontier, Sapna Chadha, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi seperti Gemini 3.1 memungkinkan Google Search untuk memahami pertanyaan yang lebih kompleks dan menyajikan jawaban dalam format percakapan yang alami. Hal ini menciptakan pengalaman pengguna yang lebih intuitif, cepat, dan relevan.

“AI mengubah Search menjadi partner intelligent yang mampu berinteraksi dalam bentuk percakapan dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang kompleks serta bernuansa,” ujar Sapna dalam sesi virtual, Kamis (23/4/2026).

Transformasi ini dinilai sangat erat kaitannya dengan karakter Gen Z yang tumbuh di era digital dan AI. Mereka tidak lagi sekadar mengetik kata kunci, melainkan memanfaatkan Search untuk berbagai aktivitas, mulai dari riset, eksplorasi ide, hingga pengambilan keputusan.

“Search menjadi perpanjangan dari budaya Gen Z yang membantu mereka belajar, mengambil tindakan, dan mengeksplorasi dunia yang mereka cintai,” tambah Sapna.

Data global Google menunjukkan bahwa pengguna berusia 18 hingga 24 tahun yang masuk ke akun mereka melakukan pencarian harian lebih banyak dibandingkan kelompok usia lainnya. Dengan lebih dari 5 triliun pencarian setiap tahun, Gen Z menjadi kontributor utama pertumbuhan penggunaan Search secara global.

Tren serupa terlihat kuat di Asia Tenggara, wilayah dengan populasi muda yang sangat melek digital. Di Indonesia, sekitar 89 persen Gen Z dilaporkan menggunakan Search setiap hari. Sapna menilai bahwa karakter Gen Z di Asia Tenggara menjadikan Search sebagai alat penting dalam proses pengambilan keputusan.

“Asia Tenggara memiliki salah satu populasi termuda dan paling AI-native di dunia, yang mengandalkan Search untuk membuat pilihan yang lebih cerdas dan terencana,” jelasnya.

Di tengah maraknya informasi di media sosial, Search justru berperan sebagai sumber verifikasi. Gen Z kerap menggunakan platform ini untuk mengecek ulang tren yang mereka temukan, menelusuri reputasi merek, membaca ulasan, hingga membandingkan harga sebelum memutuskan pembelian.

“Di Asia Tenggara, populasi muda sangat AI-native, ini menunjukkan pergeseran yang terasa nyata. Bagi generasi saat ini, Search telah menjadi teman setia,” ujar Sapna.

Ia melanjutkan, interaksi pengguna muda dengan Search kini lebih dalam, baik secara visual maupun melalui suara. “Baik untuk belajar, mengeksplorasi minat, maupun membuat keputusan dalam membeli sesuatu, mereka mengandalkan Search untuk membuat keputusan yang tepercaya,” tuturnya.

Evolusi Teknologi Ubah Perilaku Pengguna

Peran mesin pencari terus berevolusi seiring perkembangan teknologi dan perubahan perilaku pengguna. Google menyoroti bagaimana Gen Z tidak hanya menggunakan Search untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup, minat, dan budaya digital mereka.

Sapna menjelaskan bahwa Search kini telah menjadi perpanjangan alami dari identitas dan ketertarikan Gen Z, termasuk dalam dunia fandom yang mereka gemari. Ia menambahkan, Search bertransformasi menjadi “rumah digital” bagi Gen Z, salah satunya melalui kehadiran fitur-fitur interaktif seperti Easter Eggs.

Mulai dari kuis trivia interaktif untuk ikon pop seperti Taylor Swift dan BTS, hingga fenomena budaya populer seperti BINI dan tren viral “Punch the Monkey”, Search hadir dengan pendekatan yang dekat dan relevan dengan bahasa Gen Z.

“Google mengubah rasa ingin tahu menjadi pengalaman yang mendalam melalui momen-momen tersembunyi di Search. Ini membuat pengguna merasa lebih terhubung dengan hal-hal yang mereka sukai,” jelas Sapna.

Search juga menjadi cerminan dinamika budaya Gen Z secara real-time melalui fitur Google Trends. Platform ini memungkinkan pengguna memahami percakapan yang sedang berkembang dan ikut terlibat secara lebih kontekstual.

“Apa yang dimulai dari tren digital bisa dengan cepat bertransformasi menjadi dampak nyata di dunia fisik. Inilah kekuatan Search dalam menghubungkan rasa ingin tahu dengan aksi,” tegas Sapna.