Akses.co.id — BULELENG, KOMPAS.com — Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,8 mengguncang Kabupaten Buleleng, Bali, pada Kamis (23/4/2026) pagi. Peristiwa ini dilaporkan mengakibatkan kerusakan pada satu rumah warga.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Buleleng, I Gede Suyasa, mengonfirmasi bahwa rumah yang terdampak gempa tersebut milik warga bernama Made Turun, yang berlokasi di Banjar Dinas Dauh Margi, Desa Tirtasari.
“Rumah terdampak gempa bumi milik warga atas nama Made Turun, di Banjar Dinas Dauh Margi, Desa Tirtasari,” ujar Suyasa pada Jumat (24/4/2026).
Suyasa merinci bahwa kerusakan terjadi pada bagian belakang rumah korban. Sebuah tembok batako sepanjang 6,5 meter dengan tinggi 2,5 meter dilaporkan roboh akibat guncangan gempa tersebut.
“Nilai kerusakan ditaksir sebesar Rp 7 juta,” katanya.
Bantuan Darurat Disalurkan
Menyikapi dampak gempa, BPBD Kabupaten Buleleng telah segera melakukan asesmen terhadap lokasi terdampak. Bantuan darurat pun telah disalurkan kepada warga yang mengalami kerugian.
Bantuan yang diberikan meliputi kebutuhan dasar seperti matras, paket sembako, dan selimut untuk membantu meringankan beban warga yang terdampak.
Gempa Dangkal, Tak Berpotensi Tsunami
Gempa bumi dengan magnitudo 3,8 ini sendiri terjadi pada pukul 05.34 Wita. Menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di darat, sekitar 13 kilometer arah barat daya Kabupaten Buleleng, dengan kedalaman 10 kilometer.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, mulai dari Buleleng hingga Tabanan, dengan intensitas III Skala Magnetudo (MMI).
“Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu,” ujarnya.
BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar aktif di darat. Oleh karena itu, gempa ini dipastikan tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Ikuti Akses.co.id
