Lestari

Gaya Hidup Ramah Lingkungan Masih Mahal

Advertisement

Menjalani gaya hidup ramah lingkungan masih menjadi tantangan berat bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Kompleksitas solusi berkelanjutan dan biaya yang relatif tinggi menjadikan praktik hidup hijau terkesan eksklusif dan sulit dijangkau oleh semua kalangan.

Sekretaris Dewan Pengurus The Habibie Center, Nadia Sofia Habibie, mengakui bahwa penerapan gaya hidup berkelanjutan masih dibayangi berbagai kendala, baik dari segi finansial maupun kepraktisan sehari-hari.

“Banyak solusi-solusi hijau agak ribet. Memang beberapa hal yang saya lakukan juga belum hijau-hijau banget karena memang rumit dan mahal,” ujar Nadia dalam peluncuran kampanye “Aku Net-Zero Hero”, Rabu (22/4/2026).

Nadia menyoroti bagaimana isu keberlanjutan sering kali terasa jauh dari relevansi bagi masyarakat yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Keberlanjutan, menurutnya, merupakan agenda jangka panjang yang membutuhkan kemampuan perencanaan masa depan. Hal ini menjadi sulit diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang fokus utamanya adalah bertahan hidup dari hari ke hari.

“Kalau kita masih memikirkan kebutuhan besok, kita enggak bisa sustainable,” tuturnya, menggambarkan dilema tersebut.

Dilema Keberlanjutan di Tingkat Nasional

Di tingkat personal, isu keberlanjutan mungkin terkesan elitis. Namun, Nadia menambahkan, di tingkat nasional, persoalan ini justru bersifat dilematis. Banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, masih memandang industrialisasi sebagai jalan utama menuju kemajuan ekonomi, meskipun proses tersebut seringkali menghasilkan emisi karbon yang tinggi.

Advertisement

Kebijakan nasional juga turut memengaruhi upaya masyarakat dalam mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan. Ketergantungan Indonesia yang masih tinggi pada energi fosil, seperti listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan mobilitas sehari-hari yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar minyak, menjadi contoh nyata.

“Jadi kita semua itu bagian dari krisis iklim. Solusinya ada, tapi memang repot, sulit, dan mahal karena ketergantungan kita sudah luar biasa,” kata Nadia.

Kendaraan Listrik Mulai Dilirik, Namun Perubahan Perilaku Jadi Kunci

Salah satu contoh yang diangkat adalah peralihan dari mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Proses ini belum tentu dapat dilakukan secara instan, dengan banyak orang memilih menunggu hingga masa pakai kendaraan lama mereka habis. Namun, Nadia mencatat bahwa ketidakpastian harga bahan bakar minyak belakangan ini mulai mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan kendaraan listrik, terutama karena efisiensi biaya energinya.

“Sekarang banyak banget kendaraan listrik dan harganya sudah lumayan kompetitif,” ujarnya.

Meskipun demikian, Nadia menekankan bahwa tantangan terbesar dalam menjalani gaya hidup ramah lingkungan justru terletak pada perubahan kebiasaan pribadi, terutama yang berkaitan dengan pola konsumsi dan pilihan makanan. Ia menegaskan, transformasi menuju gaya hidup hijau membutuhkan perubahan sistemik yang berjalan seiring dengan perubahan perilaku individu agar dapat diterapkan secara lebih luas di tengah masyarakat.

Advertisement