— Presiden pertama RI, Soekarno, menetapkan Hari Kartini sebagai hari nasional bukan semata-mata karena sosok Raden Ajeng Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan, melainkan juga dipengaruhi oleh popularitasnya yang luas di kalangan masyarakat dan politisi. Hal ini diungkapkan oleh sejarawan Asvi Warman Adam.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964 yang dikeluarkan pada 2 Mei 1964. Dalam keputusan tersebut, Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, bersama dengan 13 tokoh lainnya, termasuk dua perempuan lainnya, Cut Nyak Dien dan Cut Meutya.

Popularitas Kartini Melampaui Tokoh Lain

Asvi menjelaskan bahwa ketika dibandingkan dengan Cut Nyak Dien dan Cut Meutya, Kartini memiliki tingkat popularitas yang jauh lebih tinggi. “Kalau dibandingkan ketiganya, Kartini, Cut Nyak Dien, Cut Meutya, Kartini lebih populer. Tidak hanya populer di kalangan masyarakat, tetapi juga populer di kalangan politisi,” ujar Asvi dalam podcast Gaspol! yang tayang di YouTube Kompas.com, Sabtu (25/4/2026).

Popularitas Kartini disebut Asvi sudah terbentuk sejak masa penjajahan. Bahkan, Gerwani, sebuah organisasi perempuan pada masa itu, turut meminjam nama Kartini untuk majalah terbitan mereka yang diberi nama “Api Kartini”.

“Kenapa dia pakai ‘api’, karena Bung Karno kalau bicara tentang revolusi itu (mengatakan) ‘jangan ambil abunya, tapi apinya’,” jelas Asvi, merujuk pada kutipan Soekarno.

Perjuangan Literasi dan Representasi

Lebih lanjut, Asvi menyoroti penghormatan Soekarno terhadap Kartini karena perjuangannya dalam bidang literasi dan upaya mencerdaskan perempuan Indonesia. Soekarno melihat Kartini sebagai sosok yang mampu mewakili gerakan literasi dan gerakan non-fisik.

“Kartini juga bisa mewakili Jawa, Kartini juga bisa mewakili gerakan literasi, gerakan yang tidak secara fisik,” tutur Asvi.

Pembahasan mendalam mengenai alasan Soekarno di balik penetapan Hari Kartini ini dapat disimak selengkapnya dalam podcast Gaspol! yang tayang perdana hari ini pukul 20.00 WIB.