Akses.co.id — Fenomena “proxy famous” atau ketenaran tak langsung kini merambah dunia media sosial, dengan hewan peliharaan menjadi bintang utama. Tingkah lucu kucing, anjing, hingga hewan eksotis tak lagi sekadar hiburan, melainkan “perantara” bagi pemiliknya untuk meraih popularitas dan peluang monetisasi.
Tren ini menandai pergeseran di mana sosok di balik layar menjadi dikenal luas melalui hewan peliharaan mereka. Pengamat sosial Universitas Indonesia, Rissalwan Habdy Lubis, mengidentifikasi fenomena ini sebagai upaya meraih ketenaran melalui perantara, termasuk hewan.
“Jadi sebetulnya orang ingin kan si personalnya yang punya hewan peliharaan itu sebetulnya yang ingin terkenal tapi dia menggunakan cara agar dia terkenal, jadi ini sama seperti misalnya mandi lumpur, nenek-nenek gitu ya itu kan sama, itu namanya proxy famous kalau dalam perspektif saya,” jelas Rissalwan saat dihubungi, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, hewan peliharaan yang menjadi “wajah” utama sebuah akun media sosial menawarkan variasi baru bagi pemiliknya untuk dikenal. Motivasi di balik tren ini pun beragam, mulai dari kebutuhan eksistensi hingga potensi keuntungan ekonomi.
“Nah, tentunya kan ada tujuan-tujuan lain dibalik terkenal itu nantinya kan ada imbas pada monetisasi misalnya dan lain-lain. Jadi ini sebetulnya wujud dari kreativitas ya menggunakan proxy atau hal tertentu yang tidak berhubungan langsung dengan si yang punya ide,” tuturnya.
Keunikan Menjadi Kunci Utama
Namun, tidak semua hewan peliharaan dapat serta-merta menjadi selebriti media sosial. Rissalwan menekankan pentingnya faktor pembeda agar konten mampu menarik perhatian audiens.
“Kalau tidak ada keunikan ya tidak akan bisa. Misalnya salah satu burung kakak tua yang bisa bicara. Seolah-olah merespons pada saat si yang punya bicara misalnya jadi dia terkenal, tentunya juga ada peliharaan-peliharaan yang memang sifatnya banyak,” ujar Rissalwan.
Daya tarik konten hewan juga dipengaruhi oleh minat khusus penonton terhadap spesies tertentu. “Kalau binatang itu cuma binatang reguler ya tidak bisa punya satu hal yang menarik bagi orang tentunya tidak akan bisa menjadi selebriti,” ungkapnya.
Menanggapi alasan masyarakat gemar menonton konten hewan, Rissalwan menilai faktor minat lebih dominan dibandingkan sekadar pelarian dari kebosanan.
“Mungkin sekian persen orang bosan dengan konten-konten itu saja tapi lucu melihat konten binatang, konten hewan peliharaan, tapi saya merasa lebih banyak ini karena minat ya,” katanya.
Risiko Eksploitasi di Balik Layar
Di balik gemerlap popularitas, terselip risiko eksploitasi terhadap hewan peliharaan. Rissalwan mengingatkan bahwa tuntutan produksi konten dapat membuat hewan merasa tidak nyaman jika dipaksa mengikuti skenario tertentu.
Meskipun tren media sosial terus bergerak, Rissalwan menilai konten hewan peliharaan akan tetap memiliki segmen tersendiri karena didukung oleh komunitas dengan minat khusus.
“Jadi kata kuncinya minat pada hewan, keunikan hewan, kelucuan hewan peliharaan. Jadi pasti akan ada segmen di mana kreatornya akan ada penontonnya akan ada, walaupun mungkin tidak sebanyak pada saat-saat dia jadi trendsetter lagi trending,” jelasnya.
Ia pun meyakini popularitas konten hewan mungkin mengalami pasang surut, namun tidak akan hilang sepenuhnya.
“Di mana orang-orang memang mencari informasi, mencari hiburan terkait dengan hewan-hewan peliharaan yang menurut dia lucu dan hiburan. Jadi akan turun bisa jadi trendnya tapi tidak akan hilang menurut saya,” ucap Rissalwan.
Elsa, yang merupakan bagian dari komunitas pencinta kucing, menilai tren seleb pet saat ini berkembang pesat. Konten tidak lagi sekadar menampilkan momen lucu, tetapi juga menghadirkan karakter dan cerita yang kuat.
“Untuk negatif nya, munculnya eksploitasi jika pemilik hanya mengejar likes dan views tanpa mempedulikan kenyamanan si kucing,” katanya.
Ia menekankan pentingnya menjaga batas kewajaran, memastikan hewan tidak dipaksa melakukan sesuatu di luar zona nyamannya. Konten, menurut Elsa, sebaiknya diambil dari aktivitas alami hewan.
“Jika ingin menjadikan kucingmu bintang media sosial, ingatlah kesejahteraan kucing lebih utama daripada jumlah pengikut. Pahami bahasa tubuh, jika ekornya bergerak cepat atau telinganya turun, artinya dia tidak nyaman. Berhenti merekam,” jelasnya.
Selain itu, ia mendorong para kreator untuk turut menyebarkan edukasi terkait perawatan hewan.
“Jadilah edukator, gunakan panggungmu untuk menyebarkan cara merawat kucing yang baik (seperti pentingnya sterilisasi atau vaksin). Kucing adalah subjek, bukan objek, perlakukan mereka sebagai teman hidup, bukan sekadar properti pencari uang,” jelasnya.
Popularitas yang Tumbuh Alami
Di sisi lain, Anisa Dwi (28) atau yang akrab disapa Ica, mengaku tidak pernah merencanakan kucing peliharaannya, Neng Molen, menjadi terkenal. Akun Instagram @Nengmolencantik awalnya hanya digunakan sebagai dokumentasi pribadi.
Namun, karakter Neng yang dominan dan unik justru menarik perhatian warganet. “Kalau Neng itu kan walaupun terlihatnya galak tapi dia sebenernya bisa berinteraksi dengan manusia gitu loh, enggak takut sama manusia lebih tepatnya dibandingkan anak-anaknya yang lumayan agak susah,” kata dia saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Ica menegaskan, popularitas Neng tumbuh secara organik melalui momen spontan sehari-hari.
“Jadi by moment aja sih kalau Neng bertingkah apa kita langsung record makanya kalau orang lihat konten aku lagi ketawa ya aku kan naturalnya ketawa kayak gitu karena reaksi langsung,” ujarnya.
Ia pun selalu sigap dengan ponselnya agar tidak kehilangan momen berharga.
“Jujur iya lagi aku kayak Handphone tuh kalau udah agak jauh kayak ‘duh mana handphone mana handphone’ enggak boleh hilang momen,” kata Ica.
Menjaga Profesionalitas Tanpa Mengabaikan Kenyamanan
Meskipun kini dikenal luas, Ica tetap menempatkan kenyamanan Neng sebagai prioritas utama, termasuk saat menerima tawaran kerja sama komersial.
“Misalnya kayak, sorry, brand minta storyline nih aku pasti dikasih note kondisi Neng disesuaikan jadi kayak nanti Neng mau lagi ngapain kami sesuaikan aja,” ungkapnya.
Ia juga kerap menerima pesan dari pengikut yang merasa terbantu secara emosional.
“Karena enggak sekali dua kali aku dapet DM (direct message) yang menyentuh hati ya orang lagi depresi, orang lagi sakit cancer bahkan kayak bilang keseharian mereka tuh jauh lebih berwarna karena nonton konten Neng,” tuturnya.
Fenomena serupa juga terjadi pada hewan eksotis seperti sugar glider. Siska Ermaya (22), pemilik akun TikTok @sermaya.qy atau Luna || Sugar Glider, mengaku awalnya hanya mengunggah video secara iseng.
“Pertama membuat akun pada 2025 awalnya untuk konten diri sendiri tapi karena banyak stok video dan foto hewan peliharaan saya si Luna jadi saya mulai iseng post di akun ini dan ternyata views-nya banyak langsung fyp (for you page),” ujar Siska saat dihubungi melalui TikTok, Rabu.
Ia menjadikan konten tersebut sebagai sarana edukasi tentang karakter sugar glider.
“Karena winning konten aku ada saat aku post hewan peliharaan aku dan lebih ingin mengedukasi tentang sugar glider,” katanya.
Menyesuaikan Konten dengan Karakter Hewan
Mengelola konten sugar glider memiliki tantangan tersendiri karena hewan ini sensitif terhadap cahaya. Siska harus menyesuaikan waktu dan pencahayaan saat merekam.
“Jadi untuk take konten agar mereka lebih aktif biasanya dilakukan saat suasana rumah redup, atau juga dilakukan kontennya siang hari saat mereka cenderung lebih pasif biasanya untuk konten bareng aku atau take video endorse,” jelas Siska.
Selain itu, keunikan sugar glider menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton, sekaligus membuka ruang interaksi melalui rasa penasaran mereka.
“Karena keunikan atau perlakuan berbeda itu mendatangkan pertanyaan dari para penonton jadi disana kita bisa sharing lewat komentar dan lainnya,” tuturnya.
Ikuti Akses.co.id
