— Beijing, ibu kota China, telah mengalami transformasi signifikan dalam dua dekade terakhir, beralih dari kota yang diselimuti kabut asap pekat menjadi kota yang lebih sering menampilkan langit biru. Namun, di tengah pesatnya adopsi kendaraan listrik (EV), kualitas udara di Beijing masih menghadapi tantangan yang kompleks.

Persepsi masyarakat terhadap kualitas udara di Beijing menunjukkan adanya variasi. Xiao Heng, seorang tenaga penjual mobil, mengamati fluktuasi Indeks Kualitas Udara (AQI) di berbagai kota di China. “Di smartphone saya, AQI Beijing menunjukkan angka 74, namun di Shanghai angkanya 52. Di Wuhu, yang merupakan sebuah desa, AQI di sana 44,” ujarnya kepada Kompas.com pada 24 April 2026.

Ia menilai perbedaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas industri dan jumlah kendaraan. Menurutnya, Shanghai menunjukkan konsistensi yang lebih baik dalam pengendalian polusi, sebagian berkat kebijakan yang mendorong penggunaan kendaraan listrik. “Mungkin di Shanghai ada kebijakan yang mengarahkan penduduk lokal untuk membeli mobil listrik (EV) guna mengurangi polusi dari kendaraan, sehingga udaranya menjadi lebih baik,” kata Xiao Heng.

Sebaliknya, Xiao Heng berpendapat bahwa Beijing belum seketat Shanghai dalam implementasi kebijakan lingkungan, meskipun tetap memiliki regulasi. Namun, ia menekankan bahwa kondisi kualitas udara tidak dapat disederhanakan hanya dari satu faktor.

Zhang Jun, seorang sopir taksi di Beijing, merasakan langsung kondisi udara di jalanan kota setiap hari dan mengakui bahwa kualitas udara belakangan ini tidak selalu stabil. “Kualitas udara Beijing belakangan ini lagi kurang bagus, mungkin karena sedang musim semi. Angin membawa banyak debu dan serbuk bunga. Langit juga cenderung berkabut,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meskipun kebijakan pembatasan kendaraan telah diterapkan, efeknya tidak selalu terasa signifikan mengingat kepadatan kendaraan yang sangat tinggi. “Saya rasa kota ini sudah terlalu banyak mobil. Macet bisa terjadi hampir setiap hari,” keluhnya.

Transformasi Kebijakan Kendaraan Listrik

Dalam dua dekade terakhir, Beijing telah melakukan transformasi besar dalam sektor lingkungan dan transportasi. Data dari Local Governments for Sustainability (ICLEI) mencatat bahwa antara tahun 1998 hingga 2017, jumlah kendaraan di Beijing meningkat hingga 335 persen, sementara Produk Domestik Bruto (PDB) melonjak lebih dari 1.000 persen. Lonjakan ini sempat memperburuk kualitas udara secara signifikan.

Puncaknya terjadi pada tahun 2013, ketika kadar PM2.5 di Beijing mencapai 101,56 mikrogram per meter kubik, level yang sangat membatasi aktivitas luar ruang. Penggunaan masker menjadi pemandangan umum, dan kasus gangguan pernapasan dilaporkan meningkat.

Pemerintah China kemudian merespons dengan strategi terpadu, termasuk membangun jaringan pemantauan udara berbasis ribuan sensor, memperluas transportasi publik, serta menetapkan zona rendah emisi (low emission zone).

Salah satu langkah paling berdampak adalah dorongan besar terhadap kendaraan listrik atau New Energy Vehicle (NEV). Kebijakan ini diperkuat dengan pembatasan mobil tua dan pelarangan kendaraan tertentu untuk masuk ke pusat kota. Beijing bahkan menerapkan sistem undian pelat nomor untuk kendaraan berbahan bakar fosil, yang membuat kepemilikan mobil baru menjadi lebih terbatas dan mahal.

Sebaliknya, kendaraan listrik dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) mendapatkan akses yang lebih mudah tanpa melalui sistem undian pelat nomor. Kebijakan ini secara tidak langsung mempercepat adopsi elektrifikasi di ibu kota.

Meskipun berbagai kebijakan telah mengubah wajah Beijing menjadi lebih bersih dibandingkan dua dekade lalu, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan belum sepenuhnya terselesaikan. Faktor musim, debu, kepadatan kendaraan, hingga aktivitas industri masih terus memengaruhi kualitas udara harian.

Di era kendaraan listrik seperti sekarang, Beijing memang telah menunjukkan kemajuan yang pesat. Namun, cerita dari jalanan menunjukkan bahwa transisi menuju kota dengan udara yang benar-benar bersih masih merupakan proses panjang. Hal ini bukan hanya soal mengganti mesin bensin dengan baterai, tetapi juga mencakup pengelolaan mobilitas, industri, dan perilaku kota secara menyeluruh.