Sains

Es Abadi Puncak Jaya Terancam Hilang, Pakar UGM: 2025, Tahun Terburuk Gletser Dunia

Advertisement

Lapisan es abadi di Puncak Jaya, Papua, yang telah bertahan ribuan tahun kini terancam punah. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan penyusutan drastis tutupan es, sejalan dengan laporan global yang menyebut tahun 2025 sebagai salah satu tahun terburuk dalam sejarah pencatatan gletser dunia.

Berdasarkan pemantauan BMKG di Puncak Sudirman, Pegunungan Jayawijaya, pada akhir tahun 2024, luasan tutupan es dilaporkan hanya tersisa sedikit. Angka ini menyusut signifikan dari total 0,23 kilometer persegi pada tahun 2022 menjadi hanya sekitar 0,11 hingga 0,16 kilometer persegi.

Kondisi ini merupakan bagian dari krisis gletser global yang lebih luas. Laporan dari Nature Reviews Earth & Environment mengungkap bahwa sepanjang tahun 2025, Bumi kehilangan sekitar 408 gigaton es. Dua gunung es tropis yang mengalami degradasi paling parah adalah Puncak Gunung Kilimanjaro di Afrika dan Puncak Jaya di Indonesia.

Penyebab Fenomena: Gangguan Albedo dan Pemanasan Global

Dr. Emilya Nurjani, seorang pakar Hidrometeorologi dan Klimatologi Lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh gangguan pada mekanisme pelepasan energi matahari yang dikenal sebagai albedo.

Albedo adalah rasio energi matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke atmosfer. Secara ideal, es dan gletser memiliki nilai albedo tertinggi karena kemampuannya memantulkan sebagian besar radiasi matahari, sehingga menjaga suhu tetap dingin dan es tetap utuh.

Namun, perubahan penggunaan lahan yang masif di permukaan bumi telah menurunkan nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer. “Penggunaan atau penutupan lahan di permukaan bumi yang masif membuat nilai albedo yang dikembalikan ke atmosfer menurun, sehingga terjadi penumpukan energi radiasi di atmosfer, kemudian terjadi pemanasan global, dan menyebabkan mencairnya gletser,” terang Emilya, Jumat (17/4/2026).

Advertisement

Dampak Meluas: dari Papua hingga Pesisir Jawa

Mencairnya es di pegunungan tropis dan wilayah kutub secara otomatis berkontribusi pada peningkatan volume air laut secara global. Bagi Indonesia, dampak ini tidak hanya terasa di Papua, tetapi juga di wilayah pesisir yang jauh dari pegunungan.

Emilya menyoroti fenomena abrasi dan kenaikan muka air laut yang semakin parah di pesisir utara Jawa, seperti di Semarang. “Meskipun kenaikan muka air tidak hanya disebabkan oleh peningkatan volume air laut, fenomena tersebut merupakan dampak yang nyata dirasakan,” jelasnya.

Langkah Terakhir: Dekarbonisasi Lintas Sektor

Untuk menekan laju penyusutan gletser yang tersisa, Emilya menekankan urgensi dekarbonisasi lintas sektor dan penerapan regulasi pemanfaatan lahan yang ketat. Upaya ini memerlukan partisipasi kolektif, mulai dari tingkat kebijakan pemerintah hingga kebiasaan di tingkat rumah tangga.

“Di tingkat rumah tangga, kita bisa membantu dengan melakukan penghematan listrik, mengurangi pemakaian bahan bakar fosil, dan apabila mungkin, berpartisipasi dalam usaha pohon untuk membantu menurunkan suhu udara dalam jangka panjang,” tuturnya.

Kehilangan es di Puncak Jaya bukan sekadar hilangnya lanskap alam yang indah, melainkan sebuah sinyal peringatan bagi keseimbangan ekologi Indonesia. Jika kenaikan suhu bumi tidak segera diatasi, sejarah ribuan tahun lapisan es Papua terancam berakhir dalam dekade ini.

Advertisement