Akses.co.id — JAKARTA, KOMPAS.com – Enviro Craft memperkenalkan produk atap sintetis terbarunya, Enviroof Composite Roofing, yang diklaim mampu mengatasi masalah kebocoran dan minim perawatan. Produk ini diluncurkan dalam ajang arsitektur ARCH:ID 2026, menjawab tren desain rumah tropis modern yang mengutamakan tampilan alami namun tetap fungsional.
Atap sintetis ini merupakan jenis composite roofing yang terbuat dari campuran material sintetis High-Density Polyethylene (HDPE). Keunggulan utamanya terletak pada daya tahan tinggi yang cocok untuk area luar ruangan, sifat tahan sinar UV, dan garansi anti-bocor hingga 20 tahun. Material serupa diklaim telah terbukti awet dan digunakan di Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade.
Stanford S, Pendiri sekaligus Direktur Enviro Craft, menjelaskan bahwa desain Enviroof sengaja dibuat menyerupai lembaran kayu ulin, kayu asli Indonesia yang dikenal kuat namun memiliki kelemahan jika digunakan sebagai atap.
“Saat ini, tren desain banyak menggunakan gaya tropical modern dengan sentuhan natural. Karena itu, kebutuhan akan material berpenampilan alami namun tetap tahan lama semakin tinggi,” ujar Stanford dalam keterangan resminya pada Kamis (23/4/2026).
Ia menambahkan, material ini tidak hanya ideal untuk wilayah pesisir seperti hotel atau resor, tetapi juga fleksibel untuk hunian modern di perkotaan. Kehadiran Enviroof menjadi solusi atas kelemahan kayu ulin alami yang cenderung berpori dan rentan rusak akibat paparan sinar UV serta kelembapan iklim tropis.
Solusi Tahan Api dan Sirkulasi Udara
Lebih lanjut, Stanford memaparkan bahwa atap sintetis Enviroof dirancang tidak hanya menyerupai kayu ulin, tetapi juga lebih unggul dalam ketahanan terhadap cuaca dan api. Atap ini dilengkapi material tahan api (fire resistant) yang mencegah api merambat.
“Atap ini juga dilengkapi bahan material tahan api (fire resistant) sehingga ketika ada api, atap ini tidak merambatkan api,” jelas Stanford.
Enviroof hadir dalam tiga pilihan warna motif ulin, yakni hitam, evergreen, dan coklat. Dari sisi pemasangan, atap ini menggunakan lapisan dasar membran bitumen yang diperkuat untuk perlindungan tambahan. Pemasangan rangka penyangga horizontal (horizontal batten) di bagian atas atap menciptakan ruang sirkulasi udara.
“Sirkulasi udara ini membantu mengurangi panas, sehingga suhu di dalam rumah tetap lebih sejuk karena panas tidak langsung masuk ke dalam,” terang Stanford.
Untuk memastikan kualitas pemasangan, Enviro Craft menyediakan bantuan teknis. Setiap lembar atap memiliki tinggi sekitar 46 cm dan dipasang dengan jarak antar susunan sekitar 20-22 cm. Sistem pemasangan yang saling berselang-seling (alternate) dirancang untuk menghindari jalur aliran air yang sejajar, sehingga meminimalkan risiko kebocoran.
Kolaborasi dengan Desainer
Dalam peluncuran produk ini, Enviro Craft turut berkolaborasi dengan Eric Ekaputra, pemilik Spatial Sonata. Eric menampilkan berbagai furnitur yang terbuat dari rotan dan bambu sintetis, termasuk dinding, lorong pintu masuk, hingga dekorasi plafon.
Enviro Craft memproduksi sendiri rotan dan bambu sintetis tersebut, memungkinkan kustomisasi sesuai kebutuhan pelanggan. Tingkat kelenturan setiap rotan dapat disesuaikan berdasarkan kerumitan anyaman dan bentuk furnitur.
Selain itu, Enviro Craft juga menggandeng Barca Living Representation dan Karen Irene, desainer produk OBSSESSIONSS. Kolaborasi ini menghasilkan perpaduan antara kayu alami dan rotan sintetis untuk menciptakan beragam furnitur seperti sofa, kabinet, kursi makan, lampu, hingga partisi.
Ikuti Akses.co.id
