— Tegal, kota di pesisir utara Jawa Tengah, tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga menyimpan kekayaan kuliner yang tak lekang dimakan waktu. Salah satu ikon kuliner kebanggaan kota ini adalah sate kambing khas Tegal, yang mudah ditemui di berbagai sudut kota, seolah menjadi penanda identitas gastronomi lokal.

Popularitas sate kambing di Tegal bukanlah tanpa dasar. Kota ini memiliki tradisi mengolah daging kambing secara turun-temurun dengan racikan rempah khas yang menghasilkan cita rasa berbeda dari daerah lain. Dukungan kultur masyarakat yang gemar mengonsumsi hidangan kambing turut mendorong perkembangan usaha kuliner ini hingga kini.

Di antara banyaknya warung sate kambing di Tegal, Sate Cempe Lemu muncul sebagai salah satu yang paling diminati. Kuliner ini menggunakan daging kambing muda atau yang akrab disebut “cempe”. Nama “lemu” sendiri merujuk pada tekstur dagingnya yang empuk, berlemak, dan menghadirkan sensasi gurih yang menggugah selera.

Manager Sate Cempe Lemu, Arba, menuturkan bahwa usaha ini berawal dari kecintaan terhadap dunia kuliner. “Awalnya itu, kami suka masak dan coba racik-racik bumbu dan ternyata enak. Nah, kami akhirnya coba buka cabang pertama di Jalan Ahmadiani, Kota Tegal pada 4 Februari 2020,” ujarnya.

Arba menambahkan, keunggulan Sate Cempe Lemu terletak pada kelezatan sate dan sajian sayur pelengkapnya. “Perbedaannya Sate Cempe Lemu dengan sate lainnya, yang pertama satenya enak dan juicy, sayurnya juga enak. Berkat itu, kami menjadi tujuan utama kuliner khas Tegal,” terangnya.

Konsistensi dalam menjaga kualitas membuat Sate Cempe Lemu terus ramai dikunjungi. Hal ini mendorong ekspansi bisnis dengan pembukaan cabang baru. Saat ini, Sate Cempe Lemu telah memiliki tujuh cabang, dengan rincian empat di Kabupaten Tegal dan tiga di Kota Tegal.

Adopsi Pembayaran Digital untuk Tingkatkan Pelayanan

Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan, Sate Cempe Lemu menghadapi tantangan baru berupa antrean panjang, terutama pada jam-jam sibuk. Untuk mengatasi hal ini dan memberikan kenyamanan lebih, manajemen memutuskan untuk mengadopsi sistem pembayaran digital dari BRI.

“Alhamdulillah, saking banyaknya pelanggan Cempe Lemu, kadang bikin antrean panjang. Kami ingin membuat pelanggan nyaman dalam pembayaran. Makanya, kami memutuskan untuk pakai mesin dari BRI, EDC dan QRIS,” kata Arba.

Penggunaan EDC dan QRIS BRI membawa sejumlah manfaat signifikan bagi operasional Sate Cempe Lemu. Pertama, kecepatan transaksi meningkat drastis, mempercepat pergerakan antrean. Kedua, monitoring transaksi menjadi lebih mudah karena tercatat secara digital. Ketiga, pengelola tidak perlu repot menyiapkan uang kembalian, khususnya saat ramai pengunjung. Keempat, keamanan uang lebih terjamin karena langsung masuk ke rekening.

Arba mengungkapkan, fitur notifikasi suara menjadi favoritnya karena memudahkan konfirmasi pembayaran. “Yang paling senang sih ada notifikasi suaranya. Jadi, kami langsung bisa cek. Misalnya, ‘uang masuk Rp 692.000’ itu (kami) langsung tahu,” ujarnya.

Hadirnya BRI sebagai solusi pembayaran turut mendukung digitalisasi yang saling menguntungkan, baik bagi pengunjung maupun pemilik usaha. Sistem pembayaran digital ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan.

Keberhasilan Sate Cempe Lemu dalam mengadopsi teknologi pembayaran digital menjadi bukti bahwa bisnis kuliner tradisional dapat berinovasi tanpa kehilangan cita rasa khasnya. Dengan tujuh cabang yang terus berkembang dan sistem pembayaran modern, Sate Cempe Lemu siap melayani pelanggan dengan lebih baik.