— PEKANBARU, Kompas.com – Sejumlah ibu rumah tangga dari Kelurahan Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau, melayangkan protes keras kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto. Mereka mendesak orang nomor satu di Riau itu untuk secara langsung menyaksikan sendiri kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah, serta keresahan mendalam warga terkait maraknya peredaran narkoba di wilayah mereka.

Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan warga saat menghadiri acara deklarasi anti-narkoba di Pekanbaru pada Sabtu (25/4/2026). Sofia, salah satu juru bicara warga Panipahan, secara terbuka menantang SF Hariyanto untuk melakukan perjalanan darat menuju kampung halaman mereka. Tantangan ini dilontarkan sebagai perbandingan dengan perjuangan para ibu yang telah menempuh perjalanan selama 15 jam untuk sampai ke ibu kota provinsi.

“Jenguk kami ke Panipahan, Pak. Kami tunggu kedatangannya. Seperti kami 15 jam ke sini tanpa istirahat, tolong Bapak juga sportif datang ke kampung kami,” ujar Sofia di hadapan SF Hariyanto, dengan nada penuh harap sekaligus prihatin.

Tantangan Menggunakan Jalur Darat, Bukan Helikopter

Sofia secara spesifik menekankan agar Plt Gubernur Riau tidak menggunakan helikopter atau jalur udara saat melakukan kunjungan. Warga Panipahan berkeinginan agar pemerintah merasakan secara langsung penderitaan yang mereka alami ketika harus melintasi jalanan yang kondisinya digambarkan telah mencapai titik kritis, bahkan diibaratkan “sakaratul maut”.

“Kalau bisa jangan lewat udara, Pak, tapi jalan darat. Coba lihat jalan di kampung kami di Panipahan, Pak, ‘sakaratul maut’,” tegas Sofia, menyuarakan kepedihan yang mendalam. Dalam rekaman yang beredar, SF Hariyanto terpantau hanya tersenyum menanggapi pernyataan keras tersebut.

Puncak Keresahan Akibat Peredaran Narkoba

Selain menyoroti masalah infrastruktur yang memprihatinkan, Sofia juga mendesak agar aparat penegak hukum bertindak lebih tegas dalam memberantas para bandar narkoba di wilayah Panipahan. Desakan ini muncul menyusul insiden kerusuhan yang pecah di Panipahan beberapa pekan sebelumnya. Dalam peristiwa tersebut, warga yang telah mencapai puncak kekesalan menggeruduk dan membakar sebuah rumah serta sepeda motor yang diduga kuat terkait dengan jaringan peredaran narkoba.

“Tolong, bapak-bapak (aparat hukum) semuanya, tangkap semua bandar-bandar narkoba di Panipahan. Kami sudah resah,” tambah Sofia, menyuarakan suara hati masyarakat yang sudah tidak bisa lagi menahan kekhawatiran.

Aksi pembakaran yang dilakukan warga tersebut merupakan indikator jelas dari puncak kekecewaan masyarakat terhadap maraknya peredaran barang haram yang dinilai telah merusak tatanan sosial di wilayah perbatasan tersebut. Warga sangat berharap kehadiran langsung dari pemerintah provinsi dapat membawa solusi yang konkret, baik dalam upaya peningkatan keamanan maupun dalam pembangunan fisik di daerah mereka.