— LABUAN BAJO, KOMPAS.com — Warga Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menghadapi lonjakan harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi yang signifikan. Tabung elpiji ukuran 12 kilogram kini menembus angka Rp 350.000, sebuah kenaikan drastis yang dilaporkan para pedagang terjadi sejak Lebaran Idul Fitri lalu.

Kelangkaan pasokan disebut-sebut menjadi penyebab utama meroketnya harga tersebut. Sejumlah pedagang mengaku kesulitan mendapatkan stok LPG, bahkan pasokan yang diterima dari agen sangat terbatas.

“Biasanya saya ambil 10–15 tabung. Tetapi sejak habis Lebaran tidak bisa terpenuhi sampai segitu. Jadi kadang dikasih 5 dan kadang juga dikasih 2,” ujar Fajrin (37), seorang pedagang kios klontong di Jalan Soekarno-Hatta, Labuan Bajo, saat ditemui pada Jumat (24/4/2026).

Pasokan Terbatas, Harga Merangkak Naik

Fajrin menambahkan, dalam sebulan terakhir, ia mengalami kendala serius dalam memperoleh stok LPG non-subsidi, baik ukuran 5 kg maupun 12 kg, dari pihak agen. Keterbatasan pasokan ini berujung pada tidak terpenuhinya kebutuhan pelanggan.

“Harganya kan naik juga. Hari ini habis cepat. Saya simpan satu untuk dipakai rumah tangga sendiri,” keluhnya.

Situasi serupa juga dialami oleh Philipus Sandu (58), pedagang di Jalan Trans Flores, Dusun Kaper, Desa Golo Bilas. Ia secara spesifik menyoroti kenaikan harga LPG ukuran 12 kg yang terus merangkak naik sejak akhir Maret.

“Sebelumnya Rp 245.000, lalu naik jadi Rp 275.000, dan sekarang Rp 325.000 per tabung,” ungkapnya.

Menurut penuturan Philipus, pasokan sempat benar-benar kosong selama kurang lebih satu minggu. Kenaikan harga pun terjadi secara bertahap sepanjang bulan April.

“Ada satu minggu sempat kosong. Kenaikannya pun bertahap sejak memasuki bulan April,” imbuhnya.

Akibatnya, Philipus terpaksa menyesuaikan harga jualnya kepada pelanggan. Jika biasanya ia menukar 13 tabung ke agen, kini ia menjualnya dengan harga Rp 350.000 per tabung.

Pertamina Pastikan Stok Aman, Akui Ada Penyesuaian Harga

Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyatakan bahwa stok LPG dipastikan aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.

Menurut Ahad, kenaikan harga yang terjadi sejak 18 April lalu disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah penyesuaian harga ekspedisi yang mulai berlaku sejak akhir tahun lalu akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu oleh eskalasi global.

“Faktor lain di antaranya juga berdampak dari faktor distribusi dan biaya transportasi. LPG masih impor dan terjadi pelemahan kurs rupiah terhadap dollar yang kemudian juga berdampak pada penyesuaian harga solar industri sehingga berpengaruh kepada ongkos distribusi kapal,” papar Ahad, dikutip dari Tribunnews.

Ahad menambahkan, masyarakat diimbau untuk melakukan pembelian LPG di agen atau outlet resmi Pertamina. Hal ini penting untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau dibandingkan membeli dari pengecer.

“Untuk stok kami pastikan aman dan mencukupi. Hari ini (23/4), kapal dalam proses antrean sandar di Pelabuhan Tenau, Kupang dengan muatan 1 kontainer LPG berisikan 600 tabung LPG (5,5 dan 12 kg) dan pekan depan (29/4) juga akan sandar kapal untuk suplai tambahan dengan total 4 kontainer yang berisikan 2.434 tabung LPG (5,5 dan 12 kg),” tutup Ahad.