— Krisis pasokan energi global memicu negara-negara pengekspor minyak di Timur Tengah untuk berpacu mencari jalur alternatif pengiriman minyak dan gas. Pencarian ini dilakukan menyusul praktis tertutupnya jalur utama melalui Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial selama hampir dua bulan terakhir akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Belum ada kejelasan kapan konflik tersebut akan berakhir, sementara kedua negara menjadikan Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, sebagai alat tawar dalam negosiasi damai yang tersendat.

Blokade ganda di selat vital ini tidak hanya mendorong lonjakan harga energi global, tetapi juga menyoroti kerentanan pasar energi dunia ketika jalur-jalur penting seperti Selat Hormuz, Terusan Panama, dan Terusan Suez terganggu.

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol menyatakan bahwa kondisi ini seharusnya sudah diantisipasi sejak lama. Ia menilai ketergantungan pada satu jalur sempit sangat berisiko bagi ekonomi global. “Ekonomi global senilai 110 triliun dollar AS bisa disandera oleh beberapa ratus orang bersenjata di selat sepanjang 50 kilometer. Ini tidak masuk akal. Kita membutuhkan rute alternatif,” ujarnya, dikutip dari CNBC, Jumat (24/4/2026).

Risiko yang Diabaikan

Risiko di Selat Hormuz sebenarnya telah lama dipahami. Namun, menurut penasihat senior Atlantic Council untuk program Timur Tengah, Maisoon Kafafy, penutupan pada Februari 2026 membuktikan bahwa asumsi lama bisa runtuh. Selama ini, biaya dan risiko dianggap belum cukup besar untuk mendorong investasi besar-besaran pada infrastruktur alternatif. Faktor saling ketergantungan ekonomi dan sistem pencegah konflik juga membuat penutupan total dinilai kecil kemungkinannya.

Perang yang terjadi saat ini mengubah perhitungan tersebut. Negara-negara Teluk yang selama ini bergantung pada Selat Hormuz kini mulai serius mencari jalur ekspor baru untuk mengurangi ketergantungan. Ekonom Oxford Economics, Lucila Bonilla, menyebut konflik ini mempercepat upaya pengalihan rute ekspor dan berpotensi melemahkan posisi strategis Iran dalam jangka panjang.

Pengalihan Rute Mulai Berjalan, Namun Terbatas

Pada awal konflik, strategi Iran menutup akses Selat Hormuz sempat memberikan keuntungan. Dengan mengendalikan jalur tersebut, Iran menjadi satu-satunya negara yang mampu mengekspor hidrokarbon selama beberapa pekan, di tengah lonjakan harga minyak mendekati 120 dollar AS per barel. Namun, keunggulan itu berkurang setelah Amerika Serikat (AS) memblokade pelabuhan Iran sejak pertengahan April.

Meskipun demikian, negara-negara Teluk tetap menghadapi kendala karena tidak bisa mengekspor minyak dan gas alam cair (LNG) melalui selat tersebut. Menurut IEA, sebagian besar negara seperti Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain masih sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor minyak, dengan tujuan utama ke Asia, terutama China, India, dan Jepang. Sebagian besar ekspor LNG dari Uni Emirat Arab dan Qatar juga melewati jalur yang sama.

Volume minyak yang sangat besar, sekitar 20 juta barel per hari sebelum perang, membuat gangguan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap pasar global, apalagi opsi pengalihan rute masih terbatas. Situasi semakin memburuk setelah Iran menyerang infrastruktur energi negara-negara Teluk menggunakan rudal dan drone, yang dinilai menciptakan kesenjangan kepercayaan yang sulit diperbaiki.

Kapasitas Jalur Alternatif Terbatas

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sebenarnya memiliki pipa minyak yang tidak melewati Selat Hormuz, yakni pipa East-West dan pipa Habshan–Fujairah (ADCOP). Namun, kapasitas gabungan kedua jalur tersebut hanya sekitar 3,5 hingga 5,5 juta barel per hari, jauh di bawah kebutuhan normal sekitar 20 juta barel per hari.

Pengembangan jalur baru tidak hanya membutuhkan investasi besar, tetapi juga waktu panjang dan kerja sama lintas negara. Faktor keamanan juga menjadi tantangan, terutama setelah serangan terhadap fasilitas energi di kawasan meningkat. Kafafy menyebutkan, peningkatan kapasitas infrastruktur yang ada bisa dilakukan dalam waktu relatif cepat jika ada komitmen politik. Namun, membangun jaringan jalur ekspor yang benar-benar tangguh membutuhkan strategi jangka panjang, yang mencakup keberagaman rute dan titik keluar yang berbeda.

Jalur Alternatif Juga Rentan

Konflik saat ini juga menunjukkan bahwa jalur alternatif yang ada tidak sepenuhnya aman. Pipa East-West milik Arab Saudi sempat diserang Iran pada April, mengurangi kapasitas sekitar 700.000 barel per hari. Sementara itu, pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab juga menjadi target serangan drone yang mengganggu aktivitas ekspor minyak.

IEA juga mencatat adanya pipa LNG Abqaiq-Yanbu dengan kapasitas 300.000 barel per hari, namun saat ini sudah beroperasi penuh tanpa kapasitas cadangan.

Opsi Tambahan Masih Terbatas

Beberapa negara mulai mengeksplorasi opsi tambahan. Irak, misalnya, memiliki pipa sepanjang hampir 1.000 kilometer menuju Turki dengan kapasitas sekitar 1,6 juta barel per hari. Jalur ini sempat ditutup, tetapi akan segera dibuka kembali dengan kapasitas awal sekitar 250.000 barel per hari. Irak juga mempertimbangkan pembangunan pipa ke Oman, Yordania, dan Mesir, meski proyek-proyek tersebut sebelumnya tertunda karena biaya tinggi dan risiko keamanan.

Sementara itu, Iran memiliki terminal minyak Jask yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz, dengan kapasitas sekitar 1 juta barel per hari. Namun, menurut IEA, fasilitas tersebut belum beroperasi secara efektif dan belum menjadi opsi ekspor yang layak. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun upaya diversifikasi jalur ekspor mulai dilakukan, solusi cepat untuk menggantikan peran Selat Hormuz masih belum tersedia.