Megapolitan

Ekonom Nilai Tekanan ke Kelas Menengah dan Kenaikan Sewa Picu Pasar Santa Meredup

Advertisement

Pasar Santa, yang pernah menjadi primadona ruang kreatif anak muda di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kini menunjukkan tanda-tanda kemuraman. Penurunan jumlah pengunjung tidak hanya mencerminkan perubahan tren, tetapi juga cerminan pergeseran struktur ekonomi perkotaan dan dinamika ruang kreatif di ibu kota.

Pada pertengahan 2010-an, Pasar Santa menjelma menjadi magnet bagi komunitas kopi, penikmat musik, dan para kreator independen. Namun, keramaian yang dulu menjadi ciri khasnya perlahan memudar, digantikan oleh suasana yang lebih tenang dan sporadis.

Pergeseran Posisi Urban dan Tekanan Ekonomi

Peneliti ekonomi dari GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai bahwa meredupnya Pasar Santa bukan sekadar hilangnya pengunjung, melainkan hilangnya posisi uniknya dalam peta ruang urban Jakarta. Ia berpendapat, masa kejayaan Pasar Santa terjadi ketika ruang tersebut mampu menawarkan sesuatu yang berbeda dari pusat konsumsi lain di Jakarta Selatan.

“Pasar Santa mencapai puncaknya sekitar 2014 ketika komunitas kopi, vinyl, buku, dan pelaku usaha kreatif masuk dan mengubah ruang pasar menjadi tempat nongkrong sekaligus ruang komunitas,” ujar Adrian saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).

Namun, keberhasilan itu justru berujung pada tekanan baru. Seiring meningkatnya popularitas, harga sewa pun ikut terkerek naik. Kondisi ini membuat banyak tenant kecil yang menjadi tulang punggung ekosistem kreatif kesulitan bertahan.

Lebih lanjut, Adrian menyoroti persoalan struktural yang dihadapi Pasar Santa, yaitu perubahan daya beli masyarakat kelas menengah. Kelompok ini, yang mencakup 66,35 persen penduduk Indonesia dan menyumbang 81,49 persen konsumsi masyarakat, kini merasakan tekanan ekonomi yang semakin nyata.

“IMF mencatat pangsa kelas menengah di Indonesia menurun sejak 2019. Artinya, tekanan terhadap konsumsi riil itu memang terjadi,” jelas Adrian.

Menurutnya, perubahan perilaku konsumsi masyarakat kini tidak lagi hanya soal membeli barang atau mengunjungi suatu tempat, tetapi lebih pada efisiensi pengalaman. Masyarakat cenderung memilih ruang yang menawarkan banyak fungsi dalam satu kunjungan.

“Masyarakat masih belanja dan nongkrong, tetapi menjadi lebih selektif, lebih sensitif terhadap value for money,” tuturnya.

Pergeseran ini membuat ruang seperti Pasar Santa kian sulit bersaing dengan kawasan yang lebih terintegrasi. Adrian mencontohkan Blok M, yang dinilainya mampu memanfaatkan konsolidasi ruang secara lebih efektif.

Blok M kini bukan lagi sekadar satu titik, melainkan sebuah ekosistem kawasan yang mencakup M Bloc Space, Blok M Hub, Blok M Plaza, hingga Taman Literasi. Semua simpul aktivitas ini saling terhubung secara spasial dan fungsional.

“Ini yang disebut ekonomi aglomerasi. Semakin banyak pelaku usaha berkumpul dalam satu kawasan, semakin besar efisiensi dan daya tariknya,” kata Adrian.

Keberhasilan Blok M tidak hanya didukung oleh pelaku usaha, tetapi juga oleh integrasi kebijakan dan infrastruktur publik. “Revitalisasi Blok M Hub, pengembangan Taman Literasi, hingga konektivitas transportasi membuat kawasan ini lebih mudah diakses,” ujarnya.

Hilangnya Diferensiasi dan Pergeseran Generasi Muda

Adrian menilai, salah satu masalah utama Pasar Santa adalah hilangnya diferensiasi ruang. Ketika ruang kreatif lain bermunculan dengan konsep yang lebih terkurasi dan terintegrasi, Pasar Santa kehilangan keunikan yang membuatnya menonjol.

“Ketika sebuah ruang tidak lagi punya keunggulan diferensial, maka ia akan sulit mempertahankan posisi sebagai destinasi,” kata Adrian.

Dalam konteks kota modern, daya saing ruang tidak hanya ditentukan oleh produk, tetapi juga oleh pengalaman yang ditawarkan. Pergeseran struktur konsumsi anak muda semakin mempercepat perubahan ini.

Generasi muda saat ini, menurutnya, tidak hanya mencari tempat berkumpul, tetapi ruang yang menawarkan identitas dan pengalaman sosial yang jelas. Hal ini membuat ruang yang tidak melakukan pembaruan konsep menjadi mudah ditinggalkan.

Pasar Santa menjadi contoh bagaimana ruang kreatif yang tumbuh secara organik bisa kehilangan relevansi ketika tidak mampu beradaptasi. Banyak tenant awal yang menjadi “pionir” justru keluar ketika biaya operasional meningkat dan trafik pengunjung menurun.

“Ketika pionir keluar, yang hilang bukan hanya tenant, tapi juga magnet utama ruang tersebut,” ucap Adrian.

Adrian menegaskan bahwa fenomena Pasar Santa tidak bisa dilihat secara tunggal sebagai kegagalan ruang, melainkan sebagai bagian dari siklus perubahan kota. Ruang urban selalu mengalami fase naik, stabil, dan kemudian bergeser.

“Ini bukan semata-mata soal sepi atau ramai, tetapi tentang bagaimana ruang beradaptasi terhadap perubahan ekonomi dan sosial,” katanya.

Ia menambahkan bahwa di Jakarta Selatan, terjadi konsolidasi aktivitas ekonomi dan budaya ke titik-titik tertentu seperti Blok M. Proses ini merupakan bentuk natural dari efisiensi ruang kota modern.

“Yang terjadi sekarang adalah konsentrasi spasial aktivitas ekonomi dan budaya anak muda ke satu kawasan yang lebih terintegrasi,” ujar Adrian.

Meskipun demikian, Adrian tidak menutup kemungkinan Pasar Santa untuk beradaptasi, namun ia menekankan perlunya pembaruan konsep yang signifikan, bukan sekadar mempertahankan pola lama.

Bertahan di Tengah Penurunan Pengunjung

Dennis (34), yang telah berjualan makanan rumahan di lantai tiga Pasar Santa sejak 2018, merasakan langsung perubahan drastis. Ia mengingat masa sebelum 2020 ketika lantai atas pasar ini masih ramai oleh anak muda.

Advertisement

“Kalau dulu sebelum 2020 itu masih enak. Sehari bisa dapat Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta kalau weekend. Hari biasa masih di kisaran Rp 800.000 sampai Rp 1,2 juta,” kata Dennis saat ditemui Kompas.com di kedainya, Selasa (21/4/2026).

Namun, situasi berubah setelah pandemi. Penurunan tidak hanya terasa pada jumlah pengunjung, tetapi juga pada durasi kunjungan yang kini lebih singkat.

“Sekarang sehari paling bagus itu Rp 300.000 sampai Rp 600.000. Kadang kalau lagi sepi banget bisa cuma Rp 150.000 sampai Rp 200.000,” ujarnya.

Dennis menilai perubahan pola nongkrong anak muda menjadi salah satu penyebab utama. Ia melihat banyak pilihan coffee shop di luar yang lebih nyaman dan mudah dijangkau.

Sementara itu, Fathan (31), pemilik kedai kopi di Pasar Santa sejak 2016, menyebut masa itu sebagai “golden era” ketika Pasar Santa berada di puncak popularitasnya.

“Dulu itu bisa dibilang golden era. Sehari omzet bisa Rp 2 juta sampai Rp 3 juta, bahkan lebih kalau ada event,” kata Fathan.

Kini, ia merasakan penurunan signifikan pada jumlah pengunjung dan durasi kunjungan.

“Sekarang rata-rata di Rp 500.000 sampai Rp 1 juta. Kadang bisa di bawah itu kalau weekday sepi,” ujarnya.

Fathan menilai hilangnya kurasi tenant yang dulu membentuk identitas Pasar Santa menjadi salah satu perubahan terpenting.

“Dulu itu benar-benar dikurasi. Kopi, vinyl, thrift, zine. Sekarang campur, jadi orang bingung ini tempat apa,” kata Fathan.

Ia juga melihat pergeseran besar dalam cara anak muda memilih tempat nongkrong, di mana media sosial membuat tren berpindah dengan sangat cepat.

Meskipun begitu, Fathan masih melihat potensi Pasar Santa jika ada pembaruan konsep yang lebih serius dan terarah, mengingat lokasinya yang masih strategis.

“Kalau ada rebranding yang serius, masih bisa hidup lagi,” ucap dia.

Lebih ke Nostalgia, Bukan Destinasi Utama

Hafiz (25), seorang pekerja kreatif, mengakui kunjungannya ke Pasar Santa kali ini lebih didorong oleh rasa penasaran dan nostalgia. Ia terakhir kali datang saat masih kuliah, ketika Pasar Santa menjadi salah satu titik kumpul anak muda.

“Dulu saya sering ke sini pas masih kuliah. Sekarang sudah jarang, ini baru datang lagi setelah lama,” kata dia kepada Kompas.com.

Menurut Hafiz, konsep Pasar Santa masih memiliki elemen yang sama seperti masa puncaknya, namun energi sosial yang dulu membuat tempat ini hidup kini berkurang.

Ia membandingkan Pasar Santa dengan kawasan seperti Blok M yang kini kembali ramai karena menawarkan ruang yang lebih terbuka dan mudah untuk berinteraksi.

“Di Blok M itu kan banyak ruang terbuka, jadi lebih hidup. Orang bisa lihat orang lain juga,” kata Hafiz.

Ia menyimpulkan bahwa Pasar Santa kini lebih terasa sebagai tempat singgah ketimbang destinasi utama.

Kehilangan Daya Tarik Sosial

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, menilai fenomena meredupnya Pasar Santa sebagai bagian dari perubahan sosial dalam ruang kota Jakarta. Ia menyebut Pasar Santa sebagai contoh ruang kreatif yang mengalami siklus naik dan turun secara alami.

“Pasar Santa dulu dikenal sebagai ruang berkumpul anak muda dan ruang ekspresi kreatif. Tapi sekarang mengalami pergeseran dinamika sosial dan ekonomi,” kata Rakhmat saat dihubungi, Selasa.

Rakhmat menambahkan bahwa Blok M mendapatkan efek jaringan yang kuat dari viralitas dan media sosial, sementara Pasar Santa tidak mendapat exposure yang sama.

Ia menutup dengan menekankan bahwa keberlanjutan ruang kreatif sangat bergantung pada kemampuan adaptasi terhadap perubahan sosial.

“Jika tidak, ia akan ditinggalkan,” ucap Rakhmat.

Advertisement