Akses.co.id — SERDANG BEDAGAI, KOMPAS.com – Suasana duka mendalam menyelimuti kediaman orangtua Prajurit Kepala (Praka) Rico Pramudia di Kampung Suka Jadi, Dusun VII, Desa Dolok Manampang, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Sabtu (25/4/2026). Praka Rico, anggota TNI Angkatan Darat, gugur saat menjalankan misi perdamaian dunia bersama United Nations Interim Force In Lebanon (UNIFIL) di Lebanon pada Jumat (24/4/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah papan karangan bunga ucapan belasungkawa mulai memadati area rumah duka. Karangan bunga tersebut berasal dari berbagai kalangan, termasuk petinggi TNI dan pejabat negara. Personel TNI tampak bersiaga mengatur penempatan karangan bunga yang terus berdatangan di pinggir jalan.
Keluarga Menanti Kepastian Kedatangan Jenazah
Pihak keluarga hingga kini masih menanti informasi resmi mengenai jadwal kepulangan jenazah Praka Rico ke tanah air. Tenda duka telah berdiri di halaman rumah untuk menyambut kedatangan prajurit yang dikenal ramah tersebut.
“Belum tahu (kapan jenazah tiba). Lupa saya kapan berangkat ke sana. Kalau adik saya ini kembar dan paling kecil. Kembarannya itu perempuan,” ujar kakak almarhum, Lilis, saat ditemui di rumah duka.
Diketahui kedua orangtua Praka Rico telah meninggal dunia. Saat ini, rumah tersebut ditempati oleh kakak kandungnya, Putri alias Uteh. Sebagian besar keluarga besar, termasuk kembaran almarhum yang berdomisili di Jambi serta istri dan anak almarhum dari Kabupaten Batu Bara, dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju Serdang Bedagai.
Putri menyampaikan permohonan maaf karena pihak keluarga belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut. “Maaf ya Bang, kami lagi berduka. Belum bisa kasih keterangan apa-apa,” tuturnya singkat.
Sosok Ramah yang Berencana Pulang Mei
Kepergian Praka Rico mengejutkan kerabat dan tetangga. Suri, teman masa kecil almarhum, mengungkapkan bahwa Rico sebenarnya memiliki rencana untuk pulang ke kampung halaman pada bulan Mei mendatang. “Sudah ada setahun dia di sana (Lebanon). Bulan lima ini jugalah rencananya mau pulang kata keluarganya. Terakhir melihat dia ya waktu mau berangkat itu,” kenang Suri.
Nenek Poniah, seorang tetangga setempat, mengenal Rico sebagai sosok yang santun. “Anaknya baik dan ramah. Ya kami sedih juga dengar kabar dia meninggal. Semenjak sakit itu pun kami sudah tahu, cuma baru kemarin dengar kabar meninggalnya,” ungkap Poniah.
Bupati Serdang Bedagai, Darma Wijaya, yang merupakan teman satu kampung almarhum, turut melayat ke rumah duka untuk menyampaikan bela sungkawa.
Kronologi Gugurnya Praka Rico Pramudia
Praka Rico (31) dinyatakan gugur setelah berjuang melawan luka serius selama hampir satu bulan di sebuah rumah sakit di Beirut. Ia menjadi korban ledakan proyektil dalam serangan yang terjadi di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026 malam.
Pihak UNIFIL secara resmi menyatakan bahwa serangan tersebut diduga dilakukan oleh pihak Israel. Dalam peristiwa yang sama pada 29 Maret lalu, rekan sejawatnya, Praka Farizal Rhomadhon, telah lebih dulu gugur.
“UNIFIL prihatin atas wafatnya Praka Rico Pramudia, yang terluka parah akibat sebuah ledakan proyektil di markasnya di Adchit Al Qusayr pada 29 Maret malam,” tulis UNIFIL melalui akun resmi di platform X.
Wafatnya Praka Rico menambah jumlah prajurit TNI yang gugur di Lebanon dalam sebulan terakhir menjadi empat orang. Selain Rico dan Farizal, dua personel lainnya, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ikhwan, juga gugur saat menjalankan tugas pengawalan konvoi pada 30 Maret 2026.
Danramil 16/Dolok Masihul, Kapten Inf K. Malau, memastikan pihaknya akan terus mendampingi keluarga selama masa berkabung. “Tadi malam juga di sini kita tahlilan membantu pihak keluarga. Tadi Pak Bupati juga turun sama kami di sini,” pungkas K. Malau.
Ikuti Akses.co.id
