— BANDUNG – Spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” yang terpampang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) saat laga Persib Bandung melawan Arema FC pada Jumat (24/4/2026) menjadi sorotan publik dan viral di media sosial. Aksi bobotoh di tribun utara itu disebut-sebut berawal dari polemik bonus untuk para pemain Persib yang diungkap oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui akun media sosialnya.

Polemik tersebut bermula ketika Dedi Mulyadi mengunggah informasi mengenai adanya sumbangan sebesar Rp 1 miliar dari Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, yang akrab disapa Ara. Dana tersebut diberikan sebelum laga Persib Bandung melawan Dewa United di Banten International Stadium, Kabupaten Serang, pada Senin (20/4/2026).

Dedi Mulyadi kemudian menjelaskan duduk perkara bonus tersebut, menegaskan bahwa informasinya disampaikan sebagai bentuk keterbukaan kepada publik.

“Bonus Rp 1 miliar berasal dari Asep Ara Sirait, saya menyebutnya kepada Bang Ara Sirait dengan kalimat Asep Ara Sirait karena dia sudah lama sekali tinggal di Jawa Barat saat kuliah di Universitas Parahyangan Bandung,” ujar Dedi, mengutip pernyataan yang diunggahnya di Instagram dan telah dikonfirmasi ulang oleh Kompas.com pada Minggu (26/4/2026).

Menurut Dedi, bonus tersebut berawal dari pertemuan antara dirinya, Ara, dan manajemen Persib Bandung. Dalam pertemuan tersebut, target Maung Bandung untuk meraih gelar juara Liga 1 ketiga kalinya secara beruntun menjadi pokok pembahasan. Pihak manajemen Persib dilaporkan menyampaikan bahwa tantangan untuk mencapai target tersebut sangat berat.

Dalam diskusi tersebut, Ara menyatakan kesiapannya untuk membantu para pemain Persib Bandung.

“Sehingga secara spontan saat itu Bang Ara menyampaikan bahwa akan membantu memberikan bonus pada setiap pertandingan di kandang lawan,” ucap Dedi.

Rencana pemberian bonus tersebut mencakup lima pertandingan tandang, dengan masing-masing pertandingan mendapatkan Rp 1 miliar, sehingga total mencapai Rp 5 miliar.

“Jumlah uang yang diberikan sebesar Rp 5 miliar untuk lima pertandingan. Dan pada saat itu, saya menanyakan, bolehkah itu menurut peraturan ketentuan melanggar atau tidak? Top Management mengatakan tidak ada pelanggaran,” tutur Dedi.

Dedi Mulyadi menegaskan bahwa ia tetap memilih untuk menyampaikan hal ini kepada publik demi transparansi, meskipun awalnya ada permintaan untuk tidak mengumumkannya. Mantan Bupati Purwakarta itu juga mengklaim telah memastikan perihal ini kepada manajemen Persib sebelum dipublikasikan.

“Saya menanyakan kepada top managementnya, dibolehkan menurut aturan kalau itu dipublis? Dia katakan boleh. Saya tiga kali menanyakan, boleh nggak kalau itu dipublis? Dia nyatakan boleh,” tegas Dedi.