Sains

Dominasi Ikan Sapu-sapu di Ciliwung, Pakar IPB: Tanda Kuat Sungai Sedang “Sakit”

Advertisement

JAKARTA, KOMPAS.com – Melimpahnya populasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung, Jawa Barat, telah menjadi indikator kuat adanya krisis ekosistem di sungai tersebut. Fenomena ini bukan mencerminkan kekayaan hayati, melainkan tanda bahwa sungai tersebut sedang “sakit” akibat penurunan kualitas air yang drastis.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Yusli Wardiatno, menegaskan bahwa dominasi spesies invasif ini merupakan cerminan dari buruknya kualitas air yang kini telah kehilangan keragaman ikan air tawar lokalnya.

Prof Yusli menyoroti bagaimana spesies asing ini dengan mudah mengambil alih habitat yang seharusnya dihuni oleh berbagai jenis ikan asli Jawa. “Saat ini, ikan sapu-sapu adalah spesies yang paling mudah ditemukan di Ciliwung, seolah-olah sungai tersebut ‘memang miliknya’,” ujarnya, mengutip laman IPB University. “Dominasi ini menunjukkan perubahan mendasar pada kondisi sungai, yang menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi.”

[video.1]

Adaptasi di Tengah Polusi Logam Berat

Berbeda dengan ikan lokal yang membutuhkan lingkungan air yang bersih, ikan sapu-sapu justru memiliki kemampuan bertahan hidup yang luar biasa di lingkungan ekstrem. Sungai Ciliwung yang terbebani limbah domestik, industri, dan limpasan perkotaan menciptakan kondisi oksigen rendah dan air keruh. Habitat ini tidak layak huni bagi spesies asli, namun menjadi “surga” bagi sapu-sapu.

Berbagai penelitian telah mengonfirmasi adanya kandungan logam berat seperti timbal, kadmium, dan merkuri, baik di kolom air maupun sedimen sungai. Ikan sapu-sapu mampu bertahan di kondisi ini, menjadikannya penyintas tunggal yang mendominasi perairan.

Risiko di Balik Pemanfaatan Ekonomi

Di tengah upaya menekan populasi melalui penangkapan massal, muncul ide untuk mengubah ikan sapu-sapu menjadi komoditas ekonomi seperti pupuk atau pakan ternak. Meski dinilai masuk akal secara ekonomi, Prof Yusli memberikan peringatan keras terkait keamanan produk turunannya.

“Risiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri,” jelas Prof Yusli. “Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih.”

Advertisement

Pemanfaatan tersebut harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan hingga jaminan keamanan produk akhir. Hal ini penting mengingat banyak temuan menunjukkan kadar logam berat pada daging sapu-sapu telah melampaui ambang batas aman.

Memutus Rantai Spesies Invasif

Akar masalah meledaknya populasi sapu-sapu sering kali bermula dari perilaku masyarakat yang melepas ikan peliharaan ke alam liar. Spesies asing yang tidak memiliki predator alami ini kemudian berkembang tanpa kendali dan merusak keseimbangan alam yang sudah ada.

Prof Yusli menegaskan bahwa penangkapan massal hanyalah solusi jangka pendek. Persoalan ini membutuhkan penanganan yang jauh lebih fundamental.

“Mengendalikan sapu-sapu melalui penangkapan massal dan pemanfaatan ekonomi hanyalah solusi sementara,” pungkasnya. “Persoalan dominasi sapu-sapu tidak cukup dijawab dengan hal tersebut, melainkan harus disertai dengan perbaikan kualitas sungai dan perubahan perilaku masyarakat.”

Perbaikan kualitas air sungai dan kesadaran untuk tidak mengintroduksi spesies asing ke perairan umum menjadi kunci utama jika Jakarta ingin merebut kembali kejayaan biodiversitas lokal di aliran Sungai Ciliwung.

Advertisement