Akses.co.id — WASHINGTON DC – Sebuah dokumen internal Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) yang bocor mengungkap rencana Washington untuk menjatuhkan sanksi kepada negara-negara anggota NATO. Sanksi ini sebagai respons atas dugaan kegagalan aliansi tersebut dalam mendukung operasi militer AS dalam perang melawan Iran.
Dokumen yang beredar melalui email di kalangan petinggi Pentagon tersebut muncul akibat frustrasi AS terhadap sejumlah negara anggota NATO yang menolak memberikan akses, pangkalan, dan hak lintas udara atau Airspace, Basing, and Overflight (ABO) bagi kepentingan AS selama konflik berlangsung.
Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya kepada Reuters menyatakan bahwa ABO merupakan “garis dasar absolut bagi NATO”. Dokumen tersebut juga mengindikasikan bahwa AS mempertimbangkan penangguhan keanggotaan Spanyol dari aliansi tersebut. Meskipun dampak militer dari langkah ini dinilai terbatas, keputusan tersebut berpotensi memberikan pukulan simbolis yang signifikan.
Selain Spanyol, dokumen itu juga mengusulkan peninjauan kembali posisi diplomatik AS terhadap wilayah jajahan Eropa. Salah satu poin yang disorot adalah dukungan AS terhadap klaim Inggris atas Kepulauan Falkland, sebuah isu yang pernah memicu konflik antara Inggris dan Argentina. Hal ini menarik perhatian mengingat Presiden Argentina Javier Milei dikenal sebagai sekutu dekat Presiden AS Donald Trump.
Juru bicara Pentagon, Kingsley Wilson, mengonfirmasi sikap tegas Washington. “Seperti yang dikatakan Presiden Trump, terlepas dari semua yang telah dilakukan AS untuk sekutu NATO kita, mereka tidak ada untuk kita,” ujar Wilson. Ia menambahkan, Pentagon akan memastikan Trump memiliki opsi yang kredibel untuk memastikan sekutu AS tidak lagi menjadi “macan kertas” dan menjalankan peran mereka. “Kami tidak memiliki komentar lebih lanjut mengenai pertimbangan internal tersebut,” tegasnya.
Kritik Trump terhadap NATO
Presiden Donald Trump sendiri kerap melontarkan kritik pedas kepada sekutu NATO, terutama setelah penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran global menyusul pecahnya perang pada 28 Februari lalu. Trump menyatakan kekecewaannya karena negara-negara NATO tidak mengerahkan angkatan laut mereka untuk membantu membuka jalur vital tersebut.
Trump bahkan secara terbuka mempertimbangkan kemungkinan AS menarik diri dari aliansi yang telah berdiri selama 76 tahun tersebut. “Tidakkah Anda akan melakukannya jika Anda adalah saya?” ujar Trump dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada 1 April lalu. Namun, pejabat Pentagon mencatat bahwa email internal tersebut tidak menyarankan AS untuk benar-benar keluar dari NATO atau menutup pangkalan militer di Eropa.
Respons Spanyol dan Inggris
Pemerintah Spanyol, di bawah kepemimpinan sosialis, secara tegas menyatakan tidak akan mengizinkan pangkalan atau wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran. Menanggapi laporan mengenai email tersebut, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez bersikap skeptis.
“Kami tidak bekerja berdasarkan email. Kami bekerja berdasarkan dokumen resmi dan posisi pemerintah, dalam hal ini Pemerintah AS,” kata Sanchez menjelang pertemuan para pemimpin Uni Eropa di Siprus Selatan.
Sementara itu, Inggris juga menjadi sasaran kritik Trump. Trump sempat menyebut Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sebagai sosok yang “penakut” karena keengganannya bergabung sepenuhnya dalam perang di Iran. Trump bahkan membandingkan Starmer dengan Winston Churchill dan merendahkan kapal induk Inggris sebagai mainan.
Inggris awalnya menolak permintaan AS untuk menggunakan dua pangkalannya guna menyerang Iran. Namun, London kemudian setuju untuk mengizinkan misi defensif guna melindungi warga di kawasan tersebut.
Ikuti Akses.co.id
