— PALEMBANG, Kompas.com – Pemilik Rumah Sirih Palembang, Ferizka Utami, yang videonya viral mempraktikkan pijat bayi dengan metode totok sirih, akhirnya angkat bicara. Penjelasan resmi ini disampaikan setelah lokasinya didatangi oleh perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Dinas Kesehatan setempat.

Kuasa hukum Ferizka Utami, A. Rilo Budiman, mengungkapkan bahwa kunjungan lembaga-lembaga terkait pada Jumat (24/4/2026) membuahkan hasil yang di luar dugaan. Ia menyebutkan bahwa setelah mendengarkan penjelasan langsung dari kliennya, pihak terkait menunjukkan respons yang cenderung positif.

“Kemarin siang pihak-pihak tersebut mengunjungi lokasi, dan dinas terkait ada program dan rencananya mengajak semacam MoU. Karena pengobatan beliau ini bukan untuk anak saja, tapi orang dewasa juga,” ujar Rilo saat memberikan keterangan pada Sabtu (25/4/2026).

Rilo menilai bahwa komentar negatif yang beredar di media sosial merupakan hal yang wajar, mengingat adanya perbedaan pandangan terhadap metode pengobatan alternatif. “Terkait komentar di video, kami tidak bisa terlalu jauh karena selama ini banyak juga pasien klien kami menanggapi dengan respons yang positif. Itu hanya beda pandangan. Karena untuk bicara soal pengobatan, tidak bisa kita lihat hanya dari satu frame,” jelasnya.

Metode Pengobatan Sejak 2011

Praktik pengobatan Rumah Sirih Palembang ini ternyata telah berjalan sejak tahun 2011. Ferizka Utami awalnya memulai metode ini untuk kalangan keluarga sebelum akhirnya dibuka untuk umum setahun kemudian. Metode yang digunakan melibatkan pijatan dengan alat bantu berupa kayu yang dilapisi daun sirih.

Pasien yang datang tidak hanya berasal dari Palembang, tetapi juga dari luar provinsi, seperti Tanggamus, Lampung.

Kecaman Keras dari IDAI

Sebelumnya, video aksi Ferizka saat memijat bayi memicu reaksi keras dari kalangan medis. Dalam video yang diunggah akun TikTok @intan.retno.safit, terlihat seorang bayi menangis histeris saat tubuhnya diketuk menggunakan alat totok dan kepalanya diusap oleh praktisi.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, bahkan sempat melontarkan kecaman keras melalui akun media sosialnya. “Ih jahat amat orang ini. Laporkan ke KPAI dong @kpai,” tulis dr. Piprim.

Kritik serupa juga datang dari sejumlah tenaga kesehatan lain yang menyoroti aspek keamanan saraf dan kenyamanan bayi. Para praktisi medis memperingatkan bahwa tangisan histeris bayi dalam video tersebut bisa menjadi indikasi rasa nyeri yang tidak tertahankan atau rasa tidak nyaman yang hebat.

Saran Medis bagi Orangtua

Menanggapi fenomena pengobatan alternatif ini, dr. Rinal Dhuhri atau yang dikenal sebagai Dokter Brewok, mengimbau masyarakat agar lebih kritis sebelum menyerahkan buah hati mereka untuk menjalani tindakan medis maupun alternatif. Ia menekankan pentingnya menanyakan fungsi, tujuan, hingga efek samping dari setiap tindakan yang dilakukan pada tubuh anak, terutama jika alasan pengobatan hanya karena masalah umum seperti sering gumoh atau mual.

Hingga kini, pihak Rumah Sirih Palembang menyatakan akan terus menjalankan praktiknya sambil membuka ruang komunikasi dengan dinas terkait untuk mendapatkan legalitas dan standarisasi pelayanan.