— Penelitian terbaru mengungkap rahasia di balik tubuh gempal penguin makaroni (Eudyptes chrysolophus), yang ternyata memiliki otot bahu sekuat mesin pesawat. Hewan ikonik dengan jambul kuningnya ini, yang banyak ditemukan di kepulauan Samudra Atlantik Selatan, telah berevolusi menjadi perenang handal di bawah permukaan laut, meskipun tidak mampu terbang di udara.

Perbedaan mendasar terletak pada otot supracoracoideus, yang pada burung pada umumnya berfungsi mengangkat sayap. Pada penguin makaroni, otot ini berkembang jauh lebih besar. “Supracoracoideus yang lebih besar memungkinkan mereka menghasilkan lebih banyak tenaga selama gerakan kepakan flipper ke atas dan ke bawah, yang tampaknya menjadi adaptasi krusial untuk berenang melalui air yang padat,” demikian kutipan dari laporan studi yang diterbitkan Popular Science.

Air yang 700 kali lebih padat daripada udara memberikan hambatan yang signifikan. Konfigurasi otot bahu yang kuat ini memberikan penguin dorongan yang bertenaga, mirip dengan “terbang” di bawah air, namun dengan komponen dorongan ke belakang yang lebih kuat.

Memecahkan Misteri Anatomi Ratusan Tahun

Studi ini juga berhasil menjawab teka-teki anatomi yang membingungkan para ilmuwan selama lebih dari satu abad. Tim peneliti mengidentifikasi adanya otot berbeda pada tungkai belakang penguin makaroni. Otot ini membantu kaki mereka terlipat rapat ke tubuh, menciptakan postur ramping (streamlined) yang meningkatkan efisiensi berenang, serupa dengan adaptasi pada mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus, serta pada manusia.

Selain itu, otot tungkai belakang yang baru ditemukan ini, yang diusulkan diberi nama adductor tibialis, juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan saat penguin berdiri tegak di darat.

Efisiensi di Balik Gaya Berjalan “Waddle”

Gaya berjalan penguin yang khas, atau dikenal sebagai waddle, ternyata merupakan hasil kombinasi posisi kaki dan otot khusus tersebut. Meskipun terlihat canggung bagi manusia, cara berjalan ini merupakan strategi yang sangat hemat energi bagi penguin, baik saat bergerak di darat maupun di air.

Pemahaman mendalam mengenai anatomi penguin ini tidak hanya memuaskan rasa ingin tahu ilmiah, tetapi juga memiliki implikasi praktis. Tim peneliti menyatakan bahwa pengetahuan tentang sistem otot penguin dapat sangat membantu para profesional medis di kebun binatang dan pusat rehabilitasi margasatwa.

“Memahami sistem otot penguin dapat meningkatkan perawatan veteriner, pengobatan cedera, dan strategi rehabilitasi,” pungkas tim peneliti. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja otot mereka, para ahli dapat memberikan penanganan yang lebih tepat bagi penguin yang mengalami cedera, sehingga mereka dapat kembali “terbang” di lautan.