— JAKARTA, Kompas.com – Di balik lapak obat sederhana yang berjejer di kawasan Kramat, Jakarta Pusat, tak semua transaksi jual beli didorong semata oleh kebutuhan medis. Sebagian pembeli justru memilih singgah karena rasa iba terhadap para pedagang lansia yang gigih bertahan di tengah sepinya pelanggan.

Rian (38), seorang pekerja swasta, mengaku tidak rutin membeli obat di lapak kaki lima. Namun, dalam situasi tertentu, ia tak segan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan. “Tidak terlalu sering, paling kalau lagi butuh saja. Sebulan sekali atau dua bulan sekali,” ujarnya kepada Kompas.com di lokasi, Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, alasan utama membeli bukan semata soal harga atau akses, melainkan kemudahan di tengah kesibukan sehari-hari. “Kadang saya lagi kerja, tidak sempat ke apotek. Di sini tinggal berhenti sebentar, langsung dilayani,” tuturnya.

Harga yang relatif terjangkau juga menjadi faktor pendukung, memungkinkan pembelian disesuaikan dengan kebutuhan tanpa harus dalam jumlah besar. Namun, Rian menyadari batasannya. Obat yang ia beli hanya untuk keluhan ringan seperti masuk angin atau pegal. “Kalau sudah berat, saya tetap ke dokter. Jadi tidak mengandalkan sepenuhnya dari sini,” tegasnya.

Di balik keputusan membeli itu, ada dimensi lain yang tak selalu terlihat. Rian mengakui, rasa empati turut memengaruhi pilihannya. “Jujur saya merasa kasihan juga. Mereka sudah tua, sudah lama jualan, tapi sekarang pembelinya sedikit,” ucapnya.

Ia menambahkan, dalam beberapa kesempatan, rasa tersebut mendorongnya untuk tetap membeli. “Kalau memang butuh, saya beli di situ. Selain karena butuh, juga ingin bantu mereka supaya tetap ada penghasilan,” kata Rian.

Hal serupa disampaikan oleh Indah (34), seorang ibu rumah tangga yang kerap melintas di kawasan tersebut. Ia mengaku sesekali membeli minyak angin atau balsem dari pedagang kaki lima. “Kalau lewat dan kebetulan butuh, saya beli. Tapi memang tidak sering,” ujarnya.

Menurut Indah, interaksi langsung dengan pedagang menjadi pengalaman yang berbeda dibandingkan berbelanja di apotek modern. “Mereka biasanya ramah, kadang diajak ngobrol juga. Jadi terasa lebih dekat,” katanya.

Ia juga tidak menampik adanya rasa iba ketika melihat pedagang tetap bertahan di tengah kondisi yang semakin sepi. “Kadang memang kasihan. Sudah tua, tetap jualan dari pagi sampai malam. Jadi kalau saya bisa beli, ya saya beli,” ucap Indah.

Meski demikian, ia tetap berhati-hati dalam menggunakan obat yang dibeli dari pedagang.

Bertahan di Tengah Perubahan

Di balik lapak sederhana itu, Anas (81) menjadi salah satu sosok yang bertahan di tengah perubahan zaman. Ia telah berjualan obat selama hampir 50 tahun di kawasan Kramat. Pria asal Bukittinggi, Sumatera Barat, itu datang ke Jakarta puluhan tahun lalu mengikuti arus urbanisasi dan menyaksikan langsung perubahan kawasan tersebut dari pusat keramaian menjadi wilayah yang semakin modern.

“Dulu di sini ramai sekali,” kenang Anas.

Lapaknya menjual berbagai jenis obat ringan, mulai dari minyak angin, balsem, hingga obat flu dan produk herbal. Sebagian barang ia peroleh dari pemasok, sebagian dari jaringan informal. Namun, kondisi kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Jumlah pembeli semakin berkurang.

“Sekarang sudah sepi,” kata Anas.

Meski demikian, ia tetap bertahan. Baginya, berjualan bukan hanya soal penghasilan, tetapi juga tentang keberlanjutan hidup. “Daripada minta-minta, saya jualan begini,” ujar dia.

Pedagang lain, Rasid (63), juga merasakan perubahan serupa setelah sekitar 35 tahun berjualan. “Dulu sehari bisa lima orang atau lebih yang beli. Sekarang beda jauh, kadang seminggu hanya satu sampai empat orang saja,” kata dia.

Menurut Rasid, dahulu pedagang obat kaki lima menjadi pilihan utama masyarakat, terutama bagi mereka yang belum memiliki akses ke layanan kesehatan formal. “Karena dulu belum banyak apotek dan belum ada jualan online,” ujarnya.

Kini, meski kondisi telah berubah, ia tetap menjalani usahanya.

Supri (57), pedagang lain, menambahkan bahwa pada era 1990-an jumlah pedagang obat di kawasan Kramat bisa mencapai puluhan orang. “Bisa sekitar 30 pedagang dulu,” ujar Supri.

Namun, perubahan pola konsumsi masyarakat membuat usaha tersebut semakin terpinggirkan. Meski demikian, ia tetap menjalankan usahanya dengan hati-hati. “Saya tidak pernah menjanjikan sembuh, hanya membantu saja,” ujar dia.

Saksi Perubahan Kawasan

Pedagang lain di sekitar Kramat juga menjadi saksi perubahan tersebut. Jaya (55), penjual air kemasan yang telah berjualan selama 30 tahun, mengenal para pedagang obat sebagai bagian dari wajah lama kawasan itu. “Mereka sudah ada bahkan sebelum saya mulai jualan,” kata Jaya.

Menurut dia, suasana Kramat dahulu lebih hidup dengan banyaknya pedagang kecil. “Sekarang lebih sepi. Banyak pilihan lain seperti apotek dan toko modern,” ucap dia.

Meski begitu, ia melihat para pedagang tetap bertahan sebagai bentuk upaya melanjutkan kehidupan. “Mereka sudah menghabiskan hidup di sini, jadi wajar kalau tetap dilanjutkan,” tutur dia.

Hal senada disampaikan Udin (60), pedagang rokok yang telah berjualan selama 35 tahun. “Dulu mereka cukup ramai. Sekarang lebih sepi,” kata Udin.

Menurut dia, perubahan ini tidak terlepas dari meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan kesehatan formal. Namun, ia menilai ketekunan para pedagang patut diapresiasi. “Mereka tetap jualan walaupun kondisi berubah. Itu tidak mudah,” kata Udin.

Risiko Konsumsi Obat Pinggir Jalan

Dari sisi kesehatan masyarakat, fenomena pedagang obat kaki lima dinilai sebagai persoalan kompleks. Epidemiolog dari Universitas Griffith, dr. Dicky Budiman, menyebut hal ini sebagai isu klasik di wilayah perkotaan. “Ini ada di antara isu akses, ekonomi informal, dan juga risiko kesehatan,” ujar Dicky saat dihubungi.

Menurut dia, konsumsi obat tanpa pengawasan tenaga medis memiliki sejumlah risiko serius, seperti kesalahan diagnosis dan penggunaan obat yang tidak tepat. “Misuse dan misdiagnosis ini jadi isu. Bisa masking disease, seperti gejala penyakit serius yang tersamarkan,” kata Dicky.

Ia juga menyoroti penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang dapat mempercepat resistansi antimikroba. Selain itu, terdapat potensi overdosis maupun underdosis yang dapat memperburuk kondisi kesehatan. “Obat sederhana seperti parasetamol kalau berlebihan bisa merusak hati,” ujar Dicky.

Ia menambahkan, distribusi obat melalui jalur informal juga berisiko dari sisi kualitas dan keamanan karena tidak memiliki standar, berpotensi terjadi pemalsuan, serta rantai pasok yang tidak transparan.

Dicky menekankan, fenomena ini tidak bisa dilihat semata sebagai pelanggaran hukum. “Ada kebutuhan yang belum terpenuhi oleh sistem formal,” ujar Dicky.

Karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan hanya penertiban, tetapi juga perbaikan sistem layanan kesehatan dan edukasi masyarakat.

Penertiban dan Edukasi

Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Pusat melalui Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menyatakan telah melakukan penertiban di kawasan tersebut. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Purnama Hasudungan Panggabean mengatakan pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat. “Selain penertiban, kita juga selalu memberikan edukasi kepada masyarakat,” ujar Purnama saat dihubungi.

Satpol PP juga menggandeng tokoh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran warga terkait bahaya konsumsi obat tanpa resep, termasuk obat-obatan tertentu seperti tramadol. “Kita imbau supaya jualannya tidak memakan badan jalan, dan kita koordinasikan dengan instansi kesehatan untuk SOP penjualan obat,” kata Purnama.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat penegakan aturan, tetapi juga pembinaan.

Kompas.com telah menghubungi Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk meminta tanggapan terkait fenomena pedagang obat kaki lima di kawasan Kramat. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada respons.