— Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap potensi ancaman unsur geogenik dari aktivitas panas bumi di Dieng yang dapat mengintai kesehatan pangan masyarakat. Studi yang berfokus pada “Bumi, Air, Manusia: Perspektif Geotermal-Geodermis dari Dieng” ini menekankan pentingnya memandang wilayah vulkanik aktif bukan hanya dari sisi teknis energi, melainkan sebagai lanskap paparan lingkungan yang kompleks.

Riostantieka Mayandari Soedarto, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, memaparkan temuan ini dalam webinar DIGDAYA #21 pada Rabu (22/4/2026). Ia menjelaskan bahwa unsur-unsur yang berasal dari sistem panas bumi dapat bermigrasi melalui air, tanah, debu, hingga tanaman, dan pada akhirnya mencapai tubuh manusia.

Kawasan Kawah Sileri dipilih sebagai lokasi studi karena kedekatannya dengan aktivitas sehari-hari penduduk. “Dieng bukan hanya lapangan panas bumi, tetapi bentang alam hidup tempat interaksi antara manifestasi geotermal, sumber air, pertanian, permukiman, dan aktivitas harian,” ujar Riostantieka, mengutip laman BRIN.

Temuan Mengejutkan: Arsenik Lampaui Standar Internasional

Penelitian yang dilakukan pada Agustus-September 2025, delapan bulan pasca-erupsi Sileri terakhir, mengidentifikasi sejumlah unsur toksik prioritas seperti arsenik (As), antimoni (Sb), kadmium (Cd), kromium (Cr), dan timbal (Pb). Hasil analisis di wilayah Sileri Barat menunjukkan konsentrasi arsenik yang mencapai 94 kali lipat dari pedoman air minum Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Tingginya kandungan logam berat tidak hanya ditemukan di air, tetapi juga di media tanah. Riostantieka merinci temuan tersebut: “Konsentrasi arsenik mencapai 562 kali pembanding US EPA, antimoni 6,5 kali Dutch Soil Standards, kadmium 4,2 kali Dutch Soil Standards, serta timbal yang melebihi standar Australia.”

Menuju Aksi Mitigasi Berbasis Data

Temuan ini mendorong BRIN untuk tidak hanya berhenti pada identifikasi angka, tetapi juga merancang langkah-langkah mitigasi yang sistematis. Tahapan yang disusun meliputi pemetaan sebaran spasial, identifikasi titik panas (hotspot), hingga penentuan kelompok rentan.

Tujuan utamanya adalah untuk merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan strategi komunikasi risiko yang efektif bagi warga lokal. Riostantieka menekankan pergeseran paradigma dalam memandang energi geotermal. “Geotermal tidak boleh lagi hanya dibaca sebagai angka produksi energi semata. Geotermal perlu dipahami sebagai jalur mobilisasi unsur yang dapat bertemu dengan air, pangan, dan manusia,” tegasnya.

Senada dengan pandangan tersebut, Kepala PRSDG BRIN, Iwan Setiawan, berharap riset ini dapat menjadi fondasi kuat bagi pengambilan kebijakan pengelolaan geotermal yang lebih berkelanjutan. Ia menambahkan bahwa momentum Hari Bumi menjadi pengingat krusial akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan alam dan perlindungan masyarakat.

“Sinergi dan membangun jejaring serta kompetensi sangat penting bagi kemajuan riset, khususnya dalam sumber daya alam di Indonesia,” pungkas Iwan.