Akses.co.id — Surabaya, Kompas.com — Perempuan kepala keluarga atau single parent di Indonesia menghadapi beban ganda, yakni tekanan ekonomi yang berat dan stigma sosial yang masih mengakar kuat di masyarakat. Realitas ini disoroti oleh Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Savy Amira Women’s Crisis Centre, Siti Yunia Mazdafiah.
“Beragam sih kondisi single parent ini,” ujar Siti Yunia Mazdafiah, yang akrab disapa Nia, saat dihubungi pada Kamis (24/4/2026).
Nia menjelaskan bahwa sebagian perempuan yang berstatus sebagai orang tua tunggal memiliki kemandirian finansial. Kemandirian ini memungkinkan mereka untuk lebih mudah melepaskan diri dari hubungan yang tidak sehat, termasuk kasus kekerasan dalam rumah tangga.
“Karena mereka punya power, bisa menghidupi diri sendiri, jadi lebih mudah untuk memutuskan berpisah dari pelaku,” kata Nia.
Beban Ekonomi dan Nafkah yang Tak Cukup
Namun, kondisi yang jauh berbeda dihadapi oleh perempuan yang tidak memiliki penghasilan tetap. Pasca-perceraian, mereka terpaksa memikul beban ekonomi seorang diri, terlebih jika mantan pasangan tidak memberikan tunjangan nafkah yang memadai.
“Ada yang memberi nafkah, tapi jumlahnya sangat kecil, seperti Rp 500.000 sampai Rp 1.000.000 per bulan, yang jelas tidak cukup untuk kebutuhan sekarang,” ungkap Nia, merujuk pada besaran nafkah yang diterima sebagian single parent.
Stigma Terhadap ‘Janda’ dan Anak-anaknya
Selain permasalahan ekonomi, Nia menilai stigma negatif terhadap perempuan single parent masih sangat kuat. Stigma ini kerap menjadi penghalang bagi perempuan untuk keluar dari pernikahan yang tidak sehat.
“Banyak perempuan yang sebenarnya ingin keluar dari pernikahan yang tidak sehat, tapi takut dengan label ‘janda’,” ujarnya.
Dampak stigma tersebut tidak hanya dirasakan oleh para ibu, tetapi juga oleh anak-anak mereka. Anak-anak dari keluarga yang orang tuanya bercerai sering kali turut menanggung label negatif.
“Anak dengan orang tua bercerai ini turut menanggung stigma tersebut. Misalnya disebut ‘anak janda’,” kata Nia.
Berdasarkan pengalaman Savy Amira di Surabaya, jumlah anak dengan orang tua bercerai di beberapa sekolah menengah pertama bisa mencapai 40 hingga 50 persen. Lebih memprihatinkan lagi, menurut penelitian lembaga tersebut, guru cenderung memandang anak dari keluarga bercerai secara lebih negatif dibandingkan teman-temannya.
“Bahkan dari penelitian kami, guru justru cenderung memandang anak dengan orang tua bercerai lebih negatif dibandingkan teman-temannya,” ungkap Nia.
Tekanan Ekonomi Mendorong Jam Kerja Ekstra
Tekanan ekonomi yang dihadapi para ibu tunggal sering kali memaksa mereka untuk bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang. Situasi ekonomi saat ini membuat mereka melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan keluarga.
“Dalam kondisi ekonomi sekarang, apapun dilakukan. Mereka bekerja dengan jam yang sangat panjang, bahkan tidak mengenal waktu,” kata Nia.
Nia juga menambahkan bahwa dalam kondisi tertentu, tekanan ekonomi dapat mendorong perempuan untuk mengambil pilihan-pilihan yang sebenarnya tidak mereka inginkan, seolah-olah dipaksa oleh keadaan.
“Bukan semata-mata terpaksa, tapi seperti dipaksa oleh keadaan ekonomi yang sangat sulit,” tegasnya.
Usulan Kebijakan yang Lebih Tegas
Menanggapi persoalan ini, Nia menilai kebijakan yang ada saat ini belum sepenuhnya menyentuh akar permasalahan, terutama terkait kewajiban nafkah dari ayah.
“Menurut saya itu kurang ultimate,” ujarnya.
Ia mengusulkan pendekatan kebijakan yang lebih konkret, seperti pemotongan langsung dari gaji atau pajak bagi ayah yang lalai dalam memberikan nafkah.
“Negara bisa ambil hak anak itu, lalu disalurkan ke ibu dan anaknya,” usul Nia.
Di sisi lain, peran komunitas dan lembaga swadaya masyarakat tetap menjadi penopang penting, meskipun sering kali menghadapi keterbatasan sumber daya.
“Sejauh ini banyak dari donasi pribadi,” ungkapnya.
Nia menegaskan bahwa perceraian tidak selalu harus dipandang sebagai sebuah kegagalan, melainkan bisa menjadi jalan keluar dari relasi yang tidak sehat.
“Kadang-kadang perceraian itu bukan kegagalan, tapi pembebasan,” katanya.
Ia berharap masyarakat dapat melihat perempuan single parent dengan pandangan yang lebih adil dan tanpa prasangka.
“Saya sangat salut kepada ibu-ibu single parent yang masih bertahan sampai hari ini. Mereka berjuang dalam diam, sering kali tanpa dukungan yang cukup,” tutup Nia.
Ikuti Akses.co.id
